
Sebelumnya, dipaparkan terlebih dahulu ketuntasan
akademik, ketuntasan akhlaq dan ketuntasan bacaan Al Qur’an yang memang
merupakan target rutin sekolah setiap periodenya. Ustadzah Dwi dan Ustadzah Ana yang mewakili pihak yayasan, secara
bergantian menekankan tentang pentingnya peran orang tua dalam mengawal semua ketuntasan tersebut di rumah.
Ustadzah juga mengapresiasi kehadiran orang tua dalam penerimaan rapor kali ini yang cukup banyak dihadiri para ayah. Beliau berdua juga mengingatkan pentingnya kehadiran orang tua saat penerimaan rapor, karena saat itu juga merupakan kesempatan bagus berbagi informasi program-program sekolah – termasuk program baru sekolah yaitu kerjasama dengan pihak Neuro Sain Terapan Indonesia dalam membantu siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar - serta kesempatan berbagi ilmu parenting.
Ustadzah juga mengapresiasi kehadiran orang tua dalam penerimaan rapor kali ini yang cukup banyak dihadiri para ayah. Beliau berdua juga mengingatkan pentingnya kehadiran orang tua saat penerimaan rapor, karena saat itu juga merupakan kesempatan bagus berbagi informasi program-program sekolah – termasuk program baru sekolah yaitu kerjasama dengan pihak Neuro Sain Terapan Indonesia dalam membantu siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar - serta kesempatan berbagi ilmu parenting.
Menurut Ustadzah, kontrak sosial orang tua dengan anak – termasuk di dalamnya
keteladanan, toleransi atau pemaafan dan ketegasan merupakan beberapa unsur
penting yang mesti terus dievaluasi oleh orang tua dalam mendidik anak. Ustadzah
Ana juga mengingatkan kami bahwa "bonus demografi" yang dimiliki Indonesia saat
ini memiliki dampak penggerusan aqidah dan ahlak yang luar biasa bagi anak-anak
dan remajanya. Pertumbuhan usia produktif yang sangat besar di negara yang
berpenduduk mayoritas muslim ini sangat disadari oleh ‘pihak-pihak lain’ yang
tidak ingin melihat pemuda-pemudi muslim kita kelak menjadi pemimpin yang
tangguh iman dan ahlaknya. Penggerusan terjadi begitu masif dan terstruktur di
segala bidang dan nyaris 'tanpa penolakan’ - terutama di bidang media dan teknologi
informasi. Karenanya orang tua perlu terus membentengi iman dan
ahlak putra putrinya.
Kembali ke program gerakan anti bullying yang disebutkan di
atas tadi … bullying atau intimidasi memang membuat para orang tua prihatin. Kedua anakku pun pernah cerita sempat di-bully temannya, walau mungkin termasuk ringan tapi keduanya sempat merasa tidak percaya diri. Minggu
lalu, dengar cerita anak seorang teman yang beberapa minggu mogok sekolah karena
sering di-bully temannya. Kemarin, Ustadzah Dwi juga cerita ada beberapa siswa
kelas atas yang sampai bentrok fisik bermula dari bullying secara verbal.
Sudah banyak beredar cerita bullying yang berdampak buruk
bahkan sampai membawa korban. Dan tragisnya bullying seperti itu banyak terjadi saat
ulang tahun mereka. Mulai dari melempar telur atau tepung, menceburkan ke kolam
sampai cerita tragis Farhanah - siswi SMP yang meninggal karena syok berat setelah 'dituduh mencuri' oleh teman-temannya saat ulang tahunnya..na'udzubillah..sungguh guyonan yg sangat kelewatan. Cerita Farhanah itu baru
kudengar kemarin dari Ustadzah Ana yang juga dimuat di link ini http://purwoudiutomo.com/2016/09/29/ulang-tahun-ajang-umbar-kebodohan/
Membaca artikel itu sungguh miris. Seharusnya jadilah teman yang baik ... teman yang
jika ingin memberikan surprise dipertimbangkan dulu dengan matang semua akibatnya, teman yang dapat dipercaya dan memberikan nasehat atau solusi saat kita curhat, teman yang membuat kita kembali tersenyum saat sedih, teman yang menyemangati saat lemah, dan teman yang
mengingatkan saat kita mulai jauh dari-Nya.
Itulah gunanya teman…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar