Maret 04, 2017

Braveheart...

Kisah ini kualami sendiri.. yg menurutku sgt menyentuh hati sekaligus mencerahkan...

kmrn aku dan rombongan habis takziyah ke tmn kuliah saat pascasarjana .. tmnku itu meninggal dlm usia 29 thn.

Yg membuatku tertegun... ibundanya sangat tegar saat bercerita pd kami, pdhl beliau sdh terlanjur mendonorkan ginjalnya pd putranya itu (alias alm. tmnku tu).. dan sebelumnya dua anaknya yg lainnya (saudara alm. tmnku) juga meninggal dlm usia muda (juga krn sakit).

Jadi saat ini di rumah duka itu hanya tinggal beliau berdua dg suami. Beliau bilang awalnya memang selalu berharap dan berdoa agar Allah menyelamatkan nyawa putra satu2 nya itu, tp akhirnya beliau dan suami beliau mengikhlaskannya...

Yg hebat lgi dari beliau ... setelah mentalqin tmnku itu (wafatnya jam 2 dinihari), beliau msh ingat unt menunaikan sholat tahajud spt yg biasa dilakukannya.
Semoga tmnku khusnul khotimah..aamiiin..
krn di penghujung ajalnya sempat mengucapkan kalimat tauhid (membaca surat al ikhlas)

Beliau malah menasehati kami yg gak kuasa menahan airmata saat menyimak ceritanya, unt selalu berikhtiar atas segala ujian atau cobaan, dan selalu berbaik sangka serta bertawakkal pd Allah krn hidup ini hanya sementara..

Kami jadi belajar byk dr ketabahan dan kekuatan hati beliau..

Rasanya gak bs membayangkan jika itu yg tjd pd diri ini..satu persatu buah hati berpulang pd Allah.. naudzubillah...

Februari 24, 2017

Workshop SPMI plus ...

Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) merupakan agenda perguruan tinggi (PT) yang tak mengenal kata akhir. Karena masalah krusial PT pada umumnya berkaitan dengan tiga hal yaitu (1) mutu dan relevansi lulusan, (2) tata kelola yang belum efisien dan akuntabel,  dan (3) kontribusi  PT terhadap pembangunan bangsa – apakah PT menjadi solusi atau bahkan menjadi bagian dari persoalan bangsa.

Masalah krusial tersebut menjadi pengantar pembukaan acara workshop SPMI oleh SekPel Kopertis VII di Batu - Malang yang dimulai sejak Jumat 17 Feb s.d. 19 Feb minggu lalu.  Prof. Ali Maksum (beliau sebentar lagi akan menyelesaikan tugasnya sebagai SekPel Kopertis Wilayah VII) – juga menyatakan bahwa SPMI menjadi agenda Kopertis yang tak mengenal kata akhir. Sampai-sampai Kopertis VII pernah harus ‘mengamputasi’ sebuah PT  karena pelanggaran yang dilakukannya sudah sistematis dan massif, sehingga terpaksa harus mengganti seluruh jajaran dari top manajemen sampai ke level kaprodi.

Beliau juga mengingatkan bahwa budaya mutu sudah seharusnya menjadi ‘roh’ bagi semua PT untuk menjawab masalah krusial tersebut di atas. Termasuk menjaga mutu dosen, yang seharusnya bukan hanya sebagai pendidik tapi juga seorang ilmuwan. Jadi seharusnya sebagai dosen, tidak hanya rutin melaksanakan pengajaran tapi juga harus melaksanakan penelitian & abdimas secara rutin. Dan kegiatan penelitian yang dilakukan seharusnya bukan hanya untuk memenuhi kum penilaian tapi diharapkan dapat ter’hilirisasi’ – artinya hasil penelitian bisa sampai ke hilir atau ke masyarakat.

Tiga pemateri utama yaitu Prof Tatik, Prof Noor dan Dr. Jeny, merupakan fasilitator yang sudah mempunyai jam terbang tinggi di bidang SPMI. Banyak ilmu dan tips menarik yang dibagikan oleh beliau bertiga pada kami mengenai cara membangun SPMI dan cara mengelolanya.

Sederhananya, SPMI merupakan kegiatan sistemik untuk memastikan proses penyelenggaraan pendidikan di perguruan tinggi bisa memenuhi standar atau bermutu. Standar yang dimaksud adalah standar pendidikan tinggi (standar dikti) sesuai Permenristekdikti no 44 tahun 2015. Ada 24 standar dalam Permen tersebut yang dapat dirangkum menjadi 9 standar yaitu standar kompetensi lulusan, isi, proses, penilaian, dosen & tenaga pendidik, sarana prasarana (sarpras), pengelolaan, pembelajaran, penelitian dan abdimas.  Selain mengacu ke standar dikti sesuai Permen di atas, sebuah PT juga dapat menambahkan standar tambahan sesuai kebutuhan dan atau sesuai keunikan PT masing-masing. Misal standar kerjasama, kehumasan, tata kelola IT, atau standar tambahan unik lainnya seperti standar ke-muhammadiyah- an,  dan lainnya.

SPMI juga harus menjadi komitmen kolektif, agar siklus penjaminan mutu dapat berjalan dengan baik. Menurut pemateri, sebuah PT belumlah dapat dikatakan melaksanakan SPMI, jika belum menyelesaikan satu siklus SPMI secara konsisten. Siklus SPMI yang dimaksud meliputi penetapan – pelaksanaan – evaluasi – pengendalian – dan peningkatan (PPEPP), bukan hanya sekedar plan – do – check – action (PDAC). Logikanya dengan menjaga siklus SPMI berjalan dengan baik, maka bisa diharapkan proses penjaminan mutu eksternal PT - proses akreditasi oleh BAN PT (SPME)  juga berjalan lancar.

Bicara SPMI pasti bicara dokumen, dan cukup banyak dokumen SPMI yang harus disiapkan, yaitu (1) dokumen kebijakan, (2) dokumen manual,  (3) dokumen standar, dan (4) dokumen formulir.  Sesuai pemahamanku setiap standar harus didampingi lima buku manual (sesuai siklus SPMI di atas), yaitu manual penetapan , manual pelaksanaan, manual evaluasi, manual pengendalian dan manual peningkatan. 

Hari kedua workshop berlangsung sampai menjelang isya’.. setelah itu nyempetin jalan-jalan naik motor pinjaman bersama mbak Alya teman sekamar. Kebetulan cuaca malam itu cerah, jadi kami bisa mampir ke Pos Ketan Legenda dekat alun-alun kota Batu. Wuih mungkin karena pas malming jadi yang ngantri banyak dan mejanya penuh semua, jadi pesan ketan duren untuk dibungkus dan dinikmati di kamar saja lah .. hmmm  yummii.

Minggu pagi sebelum sarapan, nyempetin ikutan senam bersama masyarakat kota Batu di halaman Balaikota yang kebetulan deket dengan lokasi workshop. Setelah itu menikmati sarapan yang dilayani langsung oleh sang marketing manager hotel tempat kami menginap ... sip !

Durasi dan lokasi workshop kali ini memang memungkinkan untuk sekaligus menikmati liburan..he he. Selain lokasi hotel yang terletak di kota wisata yang dikelilingi hamparan pegunungan yang hijau dan sejuk, panca indera juga dimanjakan oleh hamparan bunga anggrek yang cantik di segala penjuru hotel, ditambah suara kicauan burung dan suara gemericik air dari arah kebun asri yang mengitari kolam renang.. alhamdulillah

Di akhir sesi workshop dipresentasikan dan didiskusikan dokumen kebijakan, manual, standar dan formulir dari hasil tugas tiga kelompok, yang masing-masing mengambil topik (1) standar penilaian hasil abdimas, (2) standar penilaian kinerja dosen, dan (3) standar evaluasi pembelajaran. Dari pemaparan hasil tugas tersebut, jadi semakin jelas dan bisa membedakan isi dan maksud tiap-tiap dokumen SPMI, terutama dokumen manual nya yang nama dan fungsinya sesuai siklus SPMI tersebut, yaitu manual penetapan standar, manual pelaksanaan standar, sampai dengan manual peningkatan standar.



Pe er berikutnya ... benahi dokumen SPMI yang sudah ada. Dan sesuai tips dari pemateri - jangan langsung digebrak semua - fokus dulu pada dokumen dan siklus dari salah satu standar yang dianggap paling prioritas, baru beranjak ke standar lainnya, serta yang tidak kalah penting : f-up komitmen kolektif ! 



 


Januari 30, 2017

Lenggang Jakarta ..

Weekend minggu lalu, alhamdulillah kesampaian ngajak ibunda dan si bungsu Hira mengunjungi kerabat dan sahabat di Jakarta dan Bogor yang sudah diangan-angan sejak lama, sekalian jalan-jalan dan untuk recharge tentunya. Si bungsu seneng banget tapi juga takut-takut, karena ini akan jadi pengalaman pertamanya naik pesawat. Sebenarnya pingin bisa rame-rame berangkat bareng suami dan si sulung Fadhil, tapi kebetulan keduanya lagi ada halangan, jadi gak bisa ikut. 

Sesuai agenda, perjalanan silaturahmi dimulai dari rumah kerabat di komplek Angkasa Pura Tangerang.. seneng sekali akhirnya bisa mengunjungi rumah Didin. Kami dijamu bermacam hidangan yummi sambil kangen-kangenan. Didin dan suami juga nyiapin mobil plus pak Samsul - temannya mas Heru (suami Didin) - yang akan membawa kami jalan-jalan selama di Jakarta. Bersyukur saat itu bisa bertemu juga dengan Tante Endang yang kebetulan sedang berkunjung ke rumah Didin. Tante Endang dulunya lama tinggal di Lombok terus hijrah ke Bogor untuk mengembangkan dakwah di Bogor. Kami sudah luaama tidak bersua beliau - terakhir ketemu Tante Endang waktu aku masih kecil, mungkin sekitar 40 tahun yang lalu !! Suasana di rumah Didin jadi tambah rame dan makin hangat. Tante Endang wanti-wanti meminta kami untuk nyempetin bermalam di villa qur'annya di Jambuluwuk daerah Ciawi - Bogor.

Dari rumah Didin, jalan-jalan ke Seaworld Ancol diantar pak Samsul. Kami menikmati betul suasana di Seaworld, terutama saat melewati terowongan dan menonton atraksi feeding time yang disuguhkan. Ada 3x atraksi yang disuguhkan. Atraksi pertama dua petugas menyelam ngasih makan di akuarium utama sambil dipandu mbak MC yang detil jelasin kehidupan biota laut. Jelasin tentang bahayanya mengkonsumsi ikan-ikan buesaar termasuk kerapu dan pari super besar yang banyak bersliweran di akuarium utama, karena mengandung racun. Jelasin bahayanya jika sampai menyentuh ekor ikan hiu dan pari. Dulu ada kejadian seorang penyelam tidak sengaja menyenggol ekor hiu yang sedang diberi makan. Si hiu merasa terancam dan langsung berbalik menyerang si kakak dan meng"hisap" lengannya.. alhamdulillah dia selamat tapi dapat "oleh-oleh" 54 jahitan di lengannya. Baru tahu kalo hiu makan dengan cara menghisap, agak merinding pas liat atraksi si penyelam mendekatkan pakan yang ada di tangannya ke mulut hiu agar bisa dihisap..hii ngeri

Atraksi kedua seorang petugas ngasih makan si otter (berang-berang - hewan semi akuatik yang bentuknya seperti linsang) juga menarik, dua otter yang ada di akuariumnya sungguh lucu gerakannya, lincah loncat sana loncat sini, dan ada yang terus nungguin di kaki si pemberi makan agar langsung kebagian makanannya. Terakhir atraksi petugas ngasih makan di beberapa kolam sentuh yang berisi penyu, bintang laut, dan hiu kecil yang tidak buas. Aku coba ngasih makan hiu kecil itu, awalnya sempat takut tapi setelah diyakinkan petugasnya bahwa dia akan menjamin keselamatanku, akhirnya kuberanikan juga ngasih makan hiu itu sesuai petunjuk si kakak - yaitu langsung mendekatkan ke mulutnya dan langsung dihisap oleh si hiu.. hiiii .. merinding rasanya.

Oya karena Seaworld ada di area taman rekreasi Ancol (termasuk Dufan, Ocean Dream, dll) maka tiket yang harus dibeli jadi double. Masuk Seaworld pas week day 85 ribu per orang ditambah tiket masuk Ancol 25 ribu per orang. Usahakan bisa nonton atraksi feeding time kalo ke Seaworld. Jadwalnya banyak sih mulai pagi sampai sore, dan berulang. Sesuai yang kualami kemarin, masuk Seaworld pas weekday (hari Jumat) sekitar 14.30 kami bisa menikmati atraksi tersebut 3x, pertama jam 15.30 atraksi di akuarium utama, kedua jam 16.00 atraksi di akuarium otter dan terakhir jam 17.00 di kolam sentuh.

Dari Seaworld meluncur ke Amaris Mangga Dua untuk bermalam sekaligus ketemuan dengan Erna – kerabat kami yang kerja di perusahaan kontruksi yang kantornya di gedung Maspion Mall deket situ. Walaupun hanya ngobrol bentar karena sama-sama capek (Erna dan temannya habis kerja, kami habis muter-muter..he he), tapi lega akhirnya bisa ketemuan sesuai yang diharapkan.

Hari kedua – cek out, dijemput pak Samsul trus nyempetin ke ITC Mangdu bentar, lanjut ke Monas pingin nyoba makanan khas daerah yang infonya banyak terdapat di di warung kuliner (wakul) Lenggang Jakarta dekat parkiran IRTI Monas. Info itu kuperoleh dari internet. Tapi sayang jualan yang ada sudah gak selengkap seperti yang diposting di internet itu lagi. Muter-muter sampe agak lama nyari selat solo (semacam bistik khas Solo) seperti yang direkomen, juga gak ketemu. Suasana di wakul itu juga tidak seperti yang kulihat di internet. Mungkin karena postingan yang kubaca itu tahun 2015 lalu saat Lenggang Jakarta baru diresmikan ya... jadi terkesan masih bersih, semua pembayarannya tertib pake e-money dan lebih beragam jenis makanan yang dijual. 

Dari Monas, nyempatin sholat di masjid Istiqlal - selama ini kalo ke Jakarta cuma lewat saja di depannya. Sayangnya toilet dan tempat wudlu nya jauh dan kesannya kurang terawat. Kasian ibunda dan banyak pengunjung lansia lainnya yang harus jalan jauh untuk bisa wudlu. Tapi setelah naik ke lantai 2, suasananya berbeda, sekitar tempat sholat utama (di bawah kubah) cukup bersih, megah dan menentramkan.

Dari Istiqlal meluncur ke TMII ketemuan sama Meita sahabatku sejak SMA dulu. Ganti pake mobil Meita, muter-muter di Taman Mini, sempet ngajak Hira masuk ke istana anak-anak, lalu lanjut ke Bogor. Perjalanan ke Bogor sempat macet, tapi ada hikmahnya. Aku dan ibunda jadi puas ngobrol dengan Meita dan putra putrinya. Nyampe Bogor, mampir bentar ke sebuah supermarket, beli dimsum langganan Meita untuk dinikmati di mobil sambil muter-muter. Menjelang maghrib ngelewati depan Kebun Raya Bogor, melihat masih ada satu pintu Kebun Raya Bogor yang masih buka, Meita langsung membelokkan mobilnya ke sana. Setelah muter-muter bentar, kami turun dan duduk-duduk di cafĂ© dekat kolam air mancur besar berisi teratai raksasa sambil menikmati view kebun raya yang cakep. Hira malah sempat tidur-tiduran di rerumputan sekitar cafe. Alhamdulillah pas lagi gak hujan. Di sela-sela itu Tante Endang nelpon ngajak ketemuan lagi sekaligus makan malam di warung ayam bakar pak Atok – di daerah Sentul.

Dari Kebun Raya meluncur ke warung Pak Atok. Sambil nunggu Tante Endang datang, kami memesan makanan yang berbeda agar bisa icip-icip rame-rame.. he he. Wah nikmat banget semua makanannya... mulai dari nasgor kambingnya, nasi timbel ayam bakarnya, tauge nya, nasi empal bakar dan sambalnya, es apukatnya… hmmm semuanya yummi .. alhamdulillah. 

Dari warung Pak Atok, ganti pake mobil Tante Endang meluncur ke Jambuluwuk Ciawi – ke villa qur’annya beliau untuk bermalam. Sejuk dan menentramkan suasana di dalam dan di luar villa beliau, dikelilingi beberapa kolam ikan dan kebun sayur. Bagun pagi-pagi langsung mandi trus berkemas dan langsung diajak jalan-jalan ke Puncak menikmati pemandangan kebun teh. Di Puncak Pass kami foto-foto bentar sambil ngemil ubi cilembu bakar, tahu sumedang, dan gemblong (semacam getas ketan tapi luarnya dilapisi gula merah). 

Arah pulang dari Puncak sempat lancar, tapi mendekati Taman Safari kondisi macet, mobil hampir tidak bergerak, waduh jadi kuatir jam buka tutup sudah diberlakukan. Aku jadi deg-deg an, karena saat itu sudah menjelang jam 9 pagi, sementara jadwal take off pesawat pulang ke Surabaya sekitar jam 1 siang. Tante Endang akhirnya minta tolong Pak Tisna – sang driver untuk ngambil jalan alternatif. Wah hebat Pak Tisna… sangat lihat melewati jalan alternatif yang ternyata sangat menantang, karena hampir semuanya masih berupa jalan makadam, berkelok-kelok, naik turun dan sangat sempit. Alhamdulillah lega rasanya akhirnya bisa nyampe Gadog terus masuk tol. Berhenti sebentar di rest area tol dekat Sentul untuk sarapan dan ketemuan lagi dengan Meita yang bawain oleh-oleh roti unyil untuk kami.

Alhamdulillah..akhirnya nyampe juga di Bandara Soeta sekitar jam 11 an, jadi bisa cek in lebih awal dan punya waktu banyak untuk menata bawaan yang masih amburadul karena gak sempat dikemas dengan baik habis bermalam di Ciawi tadi. 

Terimakasih banyak Didin, Meita dan Tante Endang atas semua jamuannya.. jazakumullahu khoir









Januari 10, 2017

Keep moving...

Harus diakui, kondisi kerjaan belakangan makin terasa berat. Tapi mau gak mau mesti tetap bergerak.. tetap mengayuh.. agar tidak jatuh dan semuanya berjalan seimbang

Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh, tetap harus mengayuh. Sesekali perlu beristirahat .. tapi pada akhirnya kaki mesti mengayuh lagi, terus bertahan untuk tetap bergerak, agar bisa berpindah, agar bisa melangkah

Tidak mudah memang, bahkan sering terasa sangat berat.. tapi perjalanan yang dulu telah dimulai mesti dihadapi, mesti tetap berbuat sampai memang harus menyerah. Atau sampai Allah berkehendak... laa haula wa laa quwwata illa billah ... al khair mukhtarallah !


Desember 27, 2016

Honour Killing ....


Minggu lalu berkesempatan nonton sebuah film dokumentar di sebuah saluran tv kabel yang mengisahkan tentang Saba Maqsood  - perempuan asal Pakistan yang sempat mengalami percobaan pembunuhan oleh ayah kandung dan pamannya sendiri. Saba dibunuh karena nekat lari dari rumah untuk menikah dengan pemuda yang dicintainya - yang kebetulan berasal dari keluarga kurang mampu, dia tegas menolak perjodohan yang dipaksakan oleh keluarganya. 

Di hari yang naas itu, Saba dijemput di rumah mertuanya oleh ayah dan pamannya. Awalnya dia takut, tapi akhirnya menurut karena keduanya berjanji bahkan bersumpah di atas Al Qur'an tidak akan menyakiti Saba. Tapi ternyata Saba disekap lalu ditembak di pelipis, dan dimasukkan ke dalam karung, kemudian dilempar ke sebuah sungai. Sungguh sebuah percobaan pembunuhan yang keji.

Tapi takdir Allah menentukan lain, dalam kondisi luka parah, Saba akhirnya berhasil menyelamatkan diri. Dan masalah baru menantinya, keluarga Saba dan masyarakat sekitar malah seakan "menghukumnya", karena dia dianggap telah mempermalukan keluarga, lari dari rumah untuk menikah dengan pemuda yang tidak direstui keluarganya dan 'menjebloskan' ayah dan pamannya ke dalam penjara. Ayahnya bahkan tidak menyesali perbuatannya dan tidak mau menganggap Saba sebagai bagian dari keluarganya lagi. Ayah dan pamannya bahkan menganggap upaya pembunuhan yang mereka lakukan merupakan jalan untuk mempertahankan kehormatan dan harga diri keluarga - "honour killing" ... Subhanallah

Saba yang  awalnya bersikeras tidak mau memaafkan ayah dan pamannya, mengingat begitu keji perbuatan mereka terhadap dirinya, akhirnya tidak bisa mengelak.  Tekanan tokoh masyarakat setempat saat itu "memaksa" Saba untuk memaafkan ayah dan pamannya agar mereka dapat dibebaskan dari penjara. Harga sebuah pengampunan dari Saba, yang sebenarnya jauh di lubuk hatinya dia belum rela memberikannya.

Sungguh menyayat hati .. kenapa harus sekejam itu sampai Saba harus dibunuh oleh ayah dan pamannya sendiri? Padahal dalam Islam telah jelas diatur bahwa perjodohan itu harus meminta pertimbangan pihak perempuan yang akan dijodohkan. Jika dia menolak, maka orang tua atau wali tidak boleh memaksanya. Seperti yang dikutip dari sebuah artikel berikut ini : 

"Tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta izin darinya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mengetahui izinnya?” Beliau menjawab, “Dengan diamnya.” (HR. Al-Bukhari No. 5136 dan Muslim No. 1419).

Imam Bukhari berkata, Isma’il memberitahu kami, dia berkata, Malik memberitahuku, dari ‘Abdurrahman bin Al-Qasim dari ayahnya dari ‘Abdurrahman dan Mujammi’, dua putra Yazid bin Jariyah, dari Khansa’ bin Khidam Al-Anshariyah radhiyallahu ‘anha,
“Bahwa ayahnya pernah menikahkan dia -ketika itu dia janda- dengan laki-laki yang tidak disukainya. Maka dia datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk mengadu) maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam membatalkan pernikahannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5138)

Akan tetapi larangan memaksa ini bukan berarti sang wali tidak punya andil sama sekali dalam pemilihan calon suami wanita yang dia walikan, justru sang wali disyariatkan untuk menyarankan saran-saran yang baik lalu meminta pendapat dan izin dari wanita yang bersangkutan sebelum menikahkannya. Tanda izin dari wanita yang sudah janda adalah dengan dia mengucapkannya, sementara tanda izin dari wanita yang masih perawan cukup dengan diamnya dia, karena biasanya seorang gadis malu untuk mengungkapkan keinginannya. Sebagaimana dijelaskan dalilnya di dalam hadits berikut.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai seorang gadis yang akan dinikahkan oleh keluarganya, apakah perlu dimintai pertimbangannya?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Ya, dimintai pertimbangannya.” Lalu ‘Aisyah berkata, maka aku katakan kepada beliau, “Dia malu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Demikianlah pengizinannya, jika ia diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)". Sumber: https://muslimah.or.id/6506-hukum-perjodohan-ala-siti-nurbaya.html



Desember 05, 2016

Lanjutan Aksi Damai 212 ...

Aksi damai 212 telah berlalu, bersyukur semuanya berjalan dan berakhir dengan damai sesuai labelnya. Banyak kubaca apresiasi dan kisah-kisah inspiratif dibalik aksi tersebut yang di-share di grup wa. Tapi kudengar di media lain, ada juga yang menyindir dan mengkritisi.

Terlepas dari pro dan kontra tentang aksi tersebut, sebenarnya sebagian ulama ada yang menyarankan untuk tidak melakukan aksi atau demo ke jalan, mengingat kemungkinan besarnya mudharat yang bisa ditimbulkan daripada manfaatnya. Lebih disarankan untuk mengadukan permasalahan tersebut ke penguasa / pemimpin melalui bantuan ulama yang benar-benar memahami ilmu dan persoalannya. Tetapi untunglah,aksi 212 bisa berakhir damai. Mungkin belajar dari pengalaman aksi 411 sebelumnya, dimana di penghujung acara sempat diwarnai bentrokan karena ditengarai ada yang mem-provokasi.

Apapun yang terjadi, hikmah yang menurutku bisa diambil dari serangkaian kejadian sebab dan akibat rentetan aksi tersebut adalah selalu berhati-hatilah kita dalam bertutur-kata, jangan sampai mulut kita menjadi harimau bagi kita.

Nah sekarang lagi banyak beredar “ajakan melanjutkan aksi damai 212” yaitu #Gerakan 5 WaSaJaDim (5 waktu sholat jamaah di masjid) dan #Gerakan sholat subuh berjamaah pada 1212 di seluruh masjid tanah air sebagai starting point kebangkitan Islam di negeri ini.

Hmmm.. .. sebenarnya gerakan atau aksi lanjutan itu notabene merupakan kewajiban kita sebagai umat muslim yang harus kita jalankan setiap harinya, terutama bagi kaum adam-nya. Tapi sebagaimana lazimnya manusia, kita sering butuh momentum terlebih dahulu untuk berubah, butuh momentum untuk berbenah, dan butuh momentum untuk beresolusi - seakan-akan sulit bagi kita untuk berubah atau berbenah jika tanpa didahului oleh momen tertentu. Kebetulan menjelang akhir tahun juga nih, biasanya momen pergantian tahun dimanfaatkan sebagian dari kita untuk beresolusi.

Jadi ingat profil lucu wa anak sulung-ku yang sempat dipasang beberapa waktu lalu : "my goal for 2016 is to achieve the goals of 2015 which i'd have done in 2014 as i promised in 2013 & planned in 2012" .. he he ngena banget sindirannya.

Kembali ke gerakan lanjutan aksi damai 212 di atas, ini ada nasehat bagus dari ulama yang bisa kita amalkan seiring sejalan bersamaan dengan gerakan tersebut - yaitu mendoakan kebaikan terhadap waliyyul amr (penguasa / pemimpin).

Mendoakan kebaikan untuk pemimpin ternyata mengandung banyak faidah, di antaranya berikut ini (kukutip dari artikel  http://muslim.or.id/29051-inilah-manfaatnya-doa-untuk-pemimpin.html)

  • Seorang muslim beribadah dengan do’a ini, karena dia ketika mendengar dan taat kepada waliyyul amr adalah melaksanakan perintah Alloh, karena Allah berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian“ (QS. An-Nisa’ : 59). 
  • Mendoakan waliyyul amr akan kembali manfaatnya kepada para rakyat sendiri, karena jika waliyyul amr baik, maka akan baiklah rakyat dan sejahtera kehidupan mereka, Al-Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Qais bin Abi Hazim bahwa seorang wanita bertanya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq : “Apakah yang membuat kami tetap di dalam perkara yang baik ini yang didatangkan Alloh setelah Jahiliyyah ?”, Abu Bakar menjawab : “Tetapnya kalian di atasnya selama istiqamah para pemimpin kalian terhadap kalian” (Shahih Bukhari 3/51).
         Wallahu a’lam… semoga bermanfaat








Oktober 17, 2016

Menjadi Dosen Profesional ...

Rabu 12 Oktober 2016 lalu, berkesempatan mengikuti Workshop Pengembangan Karir & Profesi Dosen yang diselenggarakan oleh Kopertis Wilayah VII. Pemateri workshop terdiri dari Koordinator Kopertis VII - Prof. Suprapto dan Dirjen SDID Kemristek DIKTI - Prof. Ali Gufron (dulu beliau juga pernah menjabat wakil menteri kesehatan).
Sebenarnya workshop ini untuk dosen DPK (dosen PNS yang dipekerjakan Kopertis atau diperbantukan untuk bertugas di PTS), tapi dosen DPK kami berhalangan hadir saat itu.

Pada sesi pertama, Koord. Kopertis 7 mengawali paparannya dengan pertanyaan yang menarik, "apakah dosen-dosen di depan saya ini adalah dosen yang profesional? sebelum menjawab, mari berkaca dulu pada cermin yang jernih ". Yang kupahami 'cermin jernih' yang beliau maksud adalah semua aturan atau regulasi yang mengatur tentang penjaminan mutu perguruan tinggi dan mutu dosen, antara lain PP no 37 tahun 2009, PP no 53 tahun 2010, UU no 12 tahun 2012, UU no.5 tahun 2014, Permenristekdikti no 44 tahun 2015, UU no. 14 tahun 2015, dan peraturan lain yang terkait. Dosen memang mesti aware terhadap aturan-aturan yang memayunginya agar bisa menjadi dosen profesional sekaligus tidak salah langkah.

Tahapan menjadi dosen yang profesional menurut beliau adalah sebagai berikut :
berawal dari passion - pengembangan diri / studi lanjut - mengasah teaching skill - melakukan riset dan abdimas - dan mempublikasikannya.
Kepedulian terhadap pengembangaan karir dan profesinya bisa diwujudkan melalui studi lanjut, mengikuti training / workshop, mengurus kenaikan jabatan akademik secara berkala, dan berupaya untuk memperoleh sertifikat pendidik (serdos). 

Dosen profesional juga harus berkomitmen terhadap waktu / jam kerja sekaligus komit melaksanakan dan menyelesaikan tugas-tugas tri dharmanya. Jika mengacu pada Permendikbud no 107 tahun 2013 maka jam kerja dosen per minggu nya 37.5 jam. Idealnya kehadiran dosen di kampus rata-rata 8 jam per hari (dipotong jam istirahat), dan selayaknya jam kerja tersebut digunakan secara optimal untuk melaksanakan kegiatan pengajaran, meneliti, abdimas, serta kegiatan yang berhubungan dengan jabatan struktural untuk dosen dengan tugas tambahan (DT). Kesimpulan beliau, dosen profesional itu mesti mempunyai tiga hal : well skill - well etic - well pay.

Pada sesi kedua, Dirjen SDID Kemristek DIKTI memaparkan aturan-aturan seputar jabatan akademik (jakad) dan prosedur pengurusan kenaikan jabatan. Beliau juga memotivasi peserta workshop untuk dapat mengurus kenaikan jabatan akademiknya secara berkala. Dengan bercanda beliau bilang " mumpung sekarang masih masuk masa-masa mudah dalam pengurusan jakad, maka bersegeralah ngurus, ntar kalo sudah masuk masa-masa sulit, kami gak bertanggung jawab lo ya" he he beliau bisa saja. Beliau juga menguatkan 'pernyataannya' dengan menampilkan sebuah foto pelantikan seorang guru besar di Fakultas Kedokteran UNAIR yang baru-baru ini berhasil meraih guru besar (profesor) hanya dalam jangka waktu 2 bulan - tidak lagi bertahun-tahun seperti masa sebelumnya.

Sesi terakhir workshop diisi tanya jawab, antara lain sebagai berikut :
(1) keluhan peserta tentang kebiajkan terbaru yang menghentikan uang makan DPK
jawab : ada aturan bahwa uang makan diberikan pada PNS yang bertugas dalam lingkungan kantor yang sama - itu yg berhasil kusimak, cmiiw yaa;
(2) sulitnya proses mutasi DPK Kopertis 7 ke PTN
jawab : pada prinsipnya DPK bisa mutasi ke PTN dg syarat ada surat ketr rasio, srt ketr diterima di PTN tujuan, srt lolos butuh dari PTS asal, dan ijin dari Kopertis. tapi saat ini Kopertis 7 belum mengijinkan karena terbatasnya jumlah DPK di wilayahnya dan juga mengingat data rasio dosen di PTS Jatim yang masih kurang;
(3) lamanya masa tunggu CPNS memperoleh SK PNS padahal telah menyelesaikan prajab, sehingga tidak bisa studi lanjut atau ngurus jakad
jawab : harap bersabar dan ikuti saja aturan yang berlaku untuk amannya;
(4) keluhan sebagian PTS yang "jalannya tertatih-tatih" karena mahasiswanya sedikit atau karena sunber daya yang dimilikinya lemah
jawab : lebih disarankan untuk merger / berbagi sumber daya dengan PTS yang lebih "kuat" tentu melalui MOU yang saling menguntungkan, sehingga bisa fokus meningkatkan mutu;
(5) kategori jurnal bereputasi itu seperti apa, apakah harus ter-indeks Scopus
jawab : tidak harus ter-indeks Scopus, bisa juga ter-indeks Thomson, LIPI, dan lembaga yang kredibel lainnya.
Pemateri tak lupa mengingatkan bahwa batas waktu unggah Renstra-RIP riset dan abdimas ke sistem litabmas sd tgl 30 Oktober 2016, hal itu untuk melengkapi persyaratan pengajuan hibah ristek dan abdimas DIKTI.

Semoga bermanfaat...