Januari 10, 2017

Keep moving...

Tetap bergerak .. tetap mengayuh .. agar tidak jatuh dan semuanya berjalan seimbang

Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh, tidak ada pilihan lain, tetap harus mengayuh
Sesekali perlu beristirahat .. tapi pada akhirnya kaki mesti mengayuh lagi, terus bertahan untuk tetap bergerak, agar bisa berpindah, agar bisa melangkah

Tidak mudah memang, bahkan sering terasa sangat berat.. tapi perjalanan yang dulu telah dimulai mesti dihadapi, mesti dilanjutkan, amanah tidak bisa dihindari ... sampai Allah berkehendak... laa haula wa laa quwwata illa billah ... al khair mukhtarallah !


Desember 27, 2016

Honour Killing ....


Minggu lalu berkesempatan nonton sebuah film dokumentar di sebuah saluran tv kabel yang mengisahkan tentang Saba Maqsood  - perempuan asal Pakistan yang sempat mengalami percobaan pembunuhan oleh ayah kandung dan pamannya sendiri. Saba dibunuh karena nekat lari dari rumah untuk menikah dengan pemuda yang dicintainya - yang kebetulan berasal dari keluarga kurang mampu, dia tegas menolak perjodohan yang dipaksakan oleh keluarganya. 

Di hari yang naas itu, Saba dijemput di rumah mertuanya oleh ayah dan pamannya. Awalnya dia takut, tapi akhirnya menurut karena keduanya berjanji bahkan bersumpah di atas Al Qur'an tidak akan menyakiti Saba. Tapi ternyata Saba disekap lalu ditembak di pelipis, dan dimasukkan ke dalam karung, kemudian dilempar ke sebuah sungai. Sungguh sebuah percobaan pembunuhan yang keji.

Tapi takdir Allah menentukan lain, dalam kondisi luka parah, Saba akhirnya berhasil menyelamatkan diri. Dan masalah baru menantinya, keluarga Saba dan masyarakat sekitar malah seakan "menghukumnya", karena dia dianggap telah mempermalukan keluarga, lari dari rumah untuk menikah dengan pemuda yang tidak direstui keluarganya dan 'menjebloskan' ayah dan pamannya ke dalam penjara. Ayahnya bahkan tidak menyesali perbuatannya dan tidak mau menganggap Saba sebagai bagian dari keluarganya lagi. Ayah dan pamannya bahkan menganggap upaya pembunuhan yang mereka lakukan merupakan jalan untuk mempertahankan kehormatan dan harga diri keluarga - "honour killing" ... Subhanallah

Saba yang  awalnya bersikeras tidak mau memaafkan ayah dan pamannya, mengingat begitu keji perbuatan mereka terhadap dirinya, akhirnya tidak bisa mengelak.  Tekanan tokoh masyarakat setempat saat itu "memaksa" Saba untuk memaafkan ayah dan pamannya agar mereka dapat dibebaskan dari penjara. Harga sebuah pengampunan dari Saba, yang sebenarnya jauh di lubuk hatinya dia belum rela memberikannya.

Sungguh menyayat hati .. kenapa harus sekejam itu sampai Saba harus dibunuh oleh ayah dan pamannya sendiri? Padahal dalam Islam telah jelas diatur bahwa perjodohan itu harus meminta pertimbangan pihak perempuan yang akan dijodohkan. Jika dia menolak, maka orang tua atau wali tidak boleh memaksanya. Seperti yang dikutip dari sebuah artikel berikut ini : 

"Tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta izin darinya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mengetahui izinnya?” Beliau menjawab, “Dengan diamnya.” (HR. Al-Bukhari No. 5136 dan Muslim No. 1419).

Imam Bukhari berkata, Isma’il memberitahu kami, dia berkata, Malik memberitahuku, dari ‘Abdurrahman bin Al-Qasim dari ayahnya dari ‘Abdurrahman dan Mujammi’, dua putra Yazid bin Jariyah, dari Khansa’ bin Khidam Al-Anshariyah radhiyallahu ‘anha,
“Bahwa ayahnya pernah menikahkan dia -ketika itu dia janda- dengan laki-laki yang tidak disukainya. Maka dia datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk mengadu) maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam membatalkan pernikahannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5138)

Akan tetapi larangan memaksa ini bukan berarti sang wali tidak punya andil sama sekali dalam pemilihan calon suami wanita yang dia walikan, justru sang wali disyariatkan untuk menyarankan saran-saran yang baik lalu meminta pendapat dan izin dari wanita yang bersangkutan sebelum menikahkannya. Tanda izin dari wanita yang sudah janda adalah dengan dia mengucapkannya, sementara tanda izin dari wanita yang masih perawan cukup dengan diamnya dia, karena biasanya seorang gadis malu untuk mengungkapkan keinginannya. Sebagaimana dijelaskan dalilnya di dalam hadits berikut.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai seorang gadis yang akan dinikahkan oleh keluarganya, apakah perlu dimintai pertimbangannya?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Ya, dimintai pertimbangannya.” Lalu ‘Aisyah berkata, maka aku katakan kepada beliau, “Dia malu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Demikianlah pengizinannya, jika ia diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)". Sumber: https://muslimah.or.id/6506-hukum-perjodohan-ala-siti-nurbaya.html



Desember 05, 2016

Lanjutan Aksi Damai 212 ...

Aksi damai 212 telah berlalu, bersyukur semuanya berjalan dan berakhir dengan damai sesuai labelnya. Banyak kubaca apresiasi dan kisah-kisah inspiratif dibalik aksi tersebut yang di-share di grup wa. Tapi kudengar di media lain, ada juga yang menyindir dan mengkritisi.

Terlepas dari pro dan kontra tentang aksi tersebut, sebenarnya sebagian ulama ada yang menyarankan untuk tidak melakukan aksi atau demo ke jalan, mengingat kemungkinan besarnya mudharat yang bisa ditimbulkan daripada manfaatnya. Lebih disarankan untuk mengadukan permasalahan tersebut ke penguasa / pemimpin melalui bantuan ulama yang benar-benar memahami ilmu dan persoalannya. Tetapi untunglah,aksi 212 bisa berakhir damai. Mungkin belajar dari pengalaman aksi 411 sebelumnya, dimana di penghujung acara sempat diwarnai bentrokan karena ditengarai ada yang mem-provokasi.

Apapun yang terjadi, hikmah yang menurutku bisa diambil dari serangkaian kejadian sebab dan akibat rentetan aksi tersebut adalah selalu berhati-hatilah kita dalam bertutur-kata, jangan sampai mulut kita menjadi harimau bagi kita.

Nah sekarang lagi banyak beredar “ajakan melanjutkan aksi damai 212” yaitu #Gerakan 5 WaSaJaDim (5 waktu sholat jamaah di masjid) dan #Gerakan sholat subuh berjamaah pada 1212 di seluruh masjid tanah air sebagai starting point kebangkitan Islam di negeri ini.

Hmmm.. .. sebenarnya gerakan atau aksi lanjutan itu notabene merupakan kewajiban kita sebagai umat muslim yang harus kita jalankan setiap harinya, terutama bagi kaum adam-nya. Tapi sebagaimana lazimnya manusia, kita sering butuh momentum terlebih dahulu untuk berubah, butuh momentum untuk berbenah, dan butuh momentum untuk beresolusi - seakan-akan sulit bagi kita untuk berubah atau berbenah jika tanpa didahului oleh momen tertentu. Kebetulan menjelang akhir tahun juga nih, biasanya momen pergantian tahun dimanfaatkan sebagian dari kita untuk beresolusi.

Jadi ingat profil lucu wa anak sulung-ku yang sempat dipasang beberapa waktu lalu : "my goal for 2016 is to achieve the goals of 2015 which i'd have done in 2014 as i promised in 2013 & planned in 2012" .. he he ngena banget sindirannya.

Kembali ke gerakan lanjutan aksi damai 212 di atas, ini ada nasehat bagus dari ulama yang bisa kita amalkan seiring sejalan bersamaan dengan gerakan tersebut - yaitu mendoakan kebaikan terhadap waliyyul amr (penguasa / pemimpin).

Mendoakan kebaikan untuk pemimpin ternyata mengandung banyak faidah, di antaranya berikut ini (kukutip dari artikel  http://muslim.or.id/29051-inilah-manfaatnya-doa-untuk-pemimpin.html)

  • Seorang muslim beribadah dengan do’a ini, karena dia ketika mendengar dan taat kepada waliyyul amr adalah melaksanakan perintah Alloh, karena Allah berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian“ (QS. An-Nisa’ : 59). 
  • Mendoakan waliyyul amr akan kembali manfaatnya kepada para rakyat sendiri, karena jika waliyyul amr baik, maka akan baiklah rakyat dan sejahtera kehidupan mereka, Al-Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Qais bin Abi Hazim bahwa seorang wanita bertanya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq : “Apakah yang membuat kami tetap di dalam perkara yang baik ini yang didatangkan Alloh setelah Jahiliyyah ?”, Abu Bakar menjawab : “Tetapnya kalian di atasnya selama istiqamah para pemimpin kalian terhadap kalian” (Shahih Bukhari 3/51).
         Wallahu a’lam… semoga bermanfaat








Oktober 17, 2016

Menjadi Dosen Profesional ...

Rabu 12 Oktober 2016 lalu, berkesempatan mengikuti Workshop Pengembangan Karir & Profesi Dosen yang diselenggarakan oleh Kopertis Wilayah VII. Pemateri workshop terdiri dari Koordinator Kopertis VII - Prof. Suprapto dan Dirjen SDID Kemristek DIKTI - Prof. Ali Gufron (dulu beliau juga pernah menjabat wakil menteri kesehatan).
Sebenarnya workshop ini untuk dosen DPK (dosen PNS yang dipekerjakan Kopertis atau diperbantukan untuk bertugas di PTS), tapi dosen DPK kami berhalangan hadir saat itu.

Pada sesi pertama, Koord. Kopertis 7 mengawali paparannya dengan pertanyaan yang menarik, "apakah dosen-dosen di depan saya ini adalah dosen yang profesional? sebelum menjawab, mari berkaca dulu pada cermin yang jernih ". Yang kupahami 'cermin jernih' yang beliau maksud adalah semua aturan atau regulasi yang mengatur tentang penjaminan mutu perguruan tinggi dan mutu dosen, antara lain PP no 37 tahun 2009, PP no 53 tahun 2010, UU no 12 tahun 2012, UU no.5 tahun 2014, Permenristekdikti no 44 tahun 2015, UU no. 14 tahun 2015, dan peraturan lain yang terkait. Dosen memang mesti aware terhadap aturan-aturan yang memayunginya agar bisa menjadi dosen profesional sekaligus tidak salah langkah.

Tahapan menjadi dosen yang profesional menurut beliau adalah sebagai berikut :
berawal dari passion - pengembangan diri / studi lanjut - mengasah teaching skill - melakukan riset dan abdimas - dan mempublikasikannya.
Kepedulian terhadap pengembangaan karir dan profesinya bisa diwujudkan melalui studi lanjut, mengikuti training / workshop, mengurus kenaikan jabatan akademik secara berkala, dan berupaya untuk memperoleh sertifikat pendidik (serdos). 

Dosen profesional juga harus berkomitmen terhadap waktu / jam kerja sekaligus komit melaksanakan dan menyelesaikan tugas-tugas tri dharmanya. Jika mengacu pada Permendikbud no 107 tahun 2013 maka jam kerja dosen per minggu nya 37.5 jam. Idealnya kehadiran dosen di kampus rata-rata 8 jam per hari (dipotong jam istirahat), dan selayaknya jam kerja tersebut digunakan secara optimal untuk melaksanakan kegiatan pengajaran, meneliti, abdimas, serta kegiatan yang berhubungan dengan jabatan struktural untuk dosen dengan tugas tambahan (DT). Kesimpulan beliau, dosen profesional itu mesti mempunyai tiga hal : well skill - well etic - well pay.

Pada sesi kedua, Dirjen SDID Kemristek DIKTI memaparkan aturan-aturan seputar jabatan akademik (jakad) dan prosedur pengurusan kenaikan jabatan. Beliau juga memotivasi peserta workshop untuk dapat mengurus kenaikan jabatan akademiknya secara berkala. Dengan bercanda beliau bilang " mumpung sekarang masih masuk masa-masa mudah dalam pengurusan jakad, maka bersegeralah ngurus, ntar kalo sudah masuk masa-masa sulit, kami gak bertanggung jawab lo ya" he he beliau bisa saja. Beliau juga menguatkan 'pernyataannya' dengan menampilkan sebuah foto pelantikan seorang guru besar di Fakultas Kedokteran UNAIR yang baru-baru ini berhasil meraih guru besar (profesor) hanya dalam jangka waktu 2 bulan - tidak lagi bertahun-tahun seperti masa sebelumnya.

Sesi terakhir workshop diisi tanya jawab, antara lain sebagai berikut :
(1) keluhan peserta tentang kebiajkan terbaru yang menghentikan uang makan DPK
jawab : ada aturan bahwa uang makan diberikan pada PNS yang bertugas dalam lingkungan kantor yang sama - itu yg berhasil kusimak, cmiiw yaa;
(2) sulitnya proses mutasi DPK Kopertis 7 ke PTN
jawab : pada prinsipnya DPK bisa mutasi ke PTN dg syarat ada surat ketr rasio, srt ketr diterima di PTN tujuan, srt lolos butuh dari PTS asal, dan ijin dari Kopertis. tapi saat ini Kopertis 7 belum mengijinkan karena terbatasnya jumlah DPK di wilayahnya dan juga mengingat data rasio dosen di PTS Jatim yang masih kurang;
(3) lamanya masa tunggu CPNS memperoleh SK PNS padahal telah menyelesaikan prajab, sehingga tidak bisa studi lanjut atau ngurus jakad
jawab : harap bersabar dan ikuti saja aturan yang berlaku untuk amannya;
(4) keluhan sebagian PTS yang "jalannya tertatih-tatih" karena mahasiswanya sedikit atau karena sunber daya yang dimilikinya lemah
jawab : lebih disarankan untuk merger / berbagi sumber daya dengan PTS yang lebih "kuat" tentu melalui MOU yang saling menguntungkan, sehingga bisa fokus meningkatkan mutu;
(5) kategori jurnal bereputasi itu seperti apa, apakah harus ter-indeks Scopus
jawab : tidak harus ter-indeks Scopus, bisa juga ter-indeks Thomson, LIPI, dan lembaga yang kredibel lainnya.
Pemateri tak lupa mengingatkan bahwa batas waktu unggah Renstra-RIP riset dan abdimas ke sistem litabmas sd tgl 30 Oktober 2016, hal itu untuk melengkapi persyaratan pengajuan hibah ristek dan abdimas DIKTI.

Semoga bermanfaat...







Oktober 09, 2016

That’s what friends are for…


Sabtu kemarin berbarengan dengan pembagian rapor sisipan anak bungsuku, pihak sekolah yang diwakili Ustadzah Dwi memaparkan tentang program gerakan anti bullying (verbal dan fisik) dan gerakan pungut sampah yang sedang digalakkan di lingkungan SDIT Insan Kamil saat ini.

Sebelumnya, dipaparkan terlebih dahulu ketuntasan akademik, ketuntasan akhlaq dan ketuntasan bacaan Al Qur’an yang memang merupakan target rutin sekolah setiap periodenya. Ustadzah Dwi dan Ustadzah Ana yang mewakili pihak yayasan, secara bergantian menekankan tentang pentingnya peran orang tua dalam mengawal semua ketuntasan tersebut di rumah.

Ustadzah juga mengapresiasi kehadiran orang tua dalam penerimaan rapor kali ini yang cukup banyak dihadiri para ayah. Beliau berdua juga mengingatkan pentingnya kehadiran orang tua saat penerimaan rapor, karena saat itu juga merupakan kesempatan bagus berbagi informasi program-program sekolah – termasuk program baru sekolah yaitu kerjasama dengan pihak Neuro Sain Terapan Indonesia dalam membantu siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar - serta kesempatan berbagi ilmu parenting.

Menurut Ustadzah, kontrak sosial orang tua dengan anak – termasuk di dalamnya keteladanan, toleransi atau pemaafan dan ketegasan merupakan beberapa unsur penting yang mesti terus dievaluasi oleh orang tua dalam mendidik anak. Ustadzah Ana juga mengingatkan kami bahwa "bonus demografi" yang dimiliki Indonesia saat ini memiliki dampak penggerusan aqidah dan ahlak yang luar biasa bagi anak-anak dan remajanya. Pertumbuhan usia produktif yang sangat besar di negara yang berpenduduk mayoritas muslim ini sangat disadari oleh ‘pihak-pihak lain’ yang tidak ingin melihat pemuda-pemudi muslim kita kelak menjadi pemimpin yang tangguh iman dan ahlaknya. Penggerusan terjadi begitu masif dan terstruktur di segala bidang dan nyaris 'tanpa penolakan’ - terutama di bidang media dan teknologi informasi. Karenanya orang tua perlu terus membentengi iman dan ahlak putra putrinya. 

Kembali ke program gerakan anti bullying yang disebutkan di atas tadi … bullying atau intimidasi memang membuat para orang tua prihatin. Kedua anakku pun pernah cerita sempat di-bully temannya, walau mungkin termasuk ringan tapi keduanya sempat merasa tidak percaya diri. Minggu lalu, dengar cerita anak seorang teman yang beberapa minggu mogok sekolah karena sering di-bully temannya. Kemarin, Ustadzah Dwi juga cerita ada beberapa siswa kelas atas yang sampai bentrok fisik bermula dari bullying secara verbal.

Sudah banyak beredar cerita bullying yang berdampak buruk bahkan sampai membawa korban. Dan tragisnya bullying seperti itu banyak terjadi saat ulang tahun mereka. Mulai dari melempar telur atau tepung, menceburkan ke kolam sampai cerita tragis Farhanah - siswi SMP yang meninggal karena syok berat setelah 'dituduh mencuri' oleh teman-temannya saat ulang tahunnya..na'udzubillah..sungguh guyonan yg sangat kelewatan. Cerita Farhanah itu baru kudengar kemarin dari Ustadzah Ana yang juga dimuat di link ini http://purwoudiutomo.com/2016/09/29/ulang-tahun-ajang-umbar-kebodohan/

Membaca artikel itu sungguh miris. Seharusnya jadilah teman yang baik ... teman yang jika ingin memberikan surprise dipertimbangkan dulu dengan matang semua akibatnya, teman yang dapat dipercaya dan memberikan nasehat atau solusi saat kita curhat, teman yang membuat kita kembali tersenyum saat sedih, teman yang menyemangati saat lemah, dan teman yang mengingatkan saat kita mulai jauh dari-Nya.

Itulah gunanya teman…..

September 11, 2016

Barak dan Sawah di Dusun Penanggungan

Rabu – Kamis, 7 – 8 September 2016 kemarin, mahasiswa baru Politeknik SAKTI Surabaya menjalani orientasi sekaligus outbond di Lentera Camp Dusun Penanggungan – Trawas.

Menarik outbond maba tahun ini, karena ini pengalaman pertamaku menginap di barak setelah sekian luamaa gak pernah ngerasain camping lagi, mungkin juga dialami oleh sebagian maba atau panitia ospek lainnya. Barak-barak di camp tersebut cukup nyaman dilengkapi dengan bantal dan kantung tidur yang lumayan hangat melawan dinginnya malam di sekitar camp yang terletak di lereng gunung Penanggungan tersebut.

Outbond maba kali ini dipandu oleh tim Piramida Edu Training yang menurutku lebih professional dan cukup efektif pemanfaatan waktunya. Setiap materi maupun game yang diberikan, dijelaskan tujuan dan kesimpulannya serta maba diminta berkomitmen menerapkan nilai / moral yang terkandung di dalamnya. 
Selain itu tim trainer juga bisa mengkondisikan setiap maba bisa rapi dan tertib pada saat-saat makan bersama dan sholat 5 waktu berjamaah (bagi yang muslim tentunya).

Sedangkan kami saat itu memanfaatkan kebersamaan dengan rekan-rekan kerja menikmati fun games yang disiapkan oleh panitia. Rasanya jadi lebih akrab satu sama lain dan semoga bisa menambah semangat kerja setelah kembali ke kantor yang masih penuh dengan tantangan nantinya. 'Tantangan’ itu sebenarnya kata lain dari banyaknya pe-er atau masalah yang masih harus kami selesaikan di kantor – untuk menghibur diri he he ..

Nah yang terakhir ini yang paling berkesan menurutku… pada hari kedua maba dan semua panitia diajak jalan-jalan pagi oleh tim trainer menyusuri persawahan terasiring yang sungguh cantik. Persawahan itu diapit dua gunung yaitu gunung Penanggungan dan Welirang (kalo nggak salah), dan dialiri banyak sungai-sungai kecil nan jernih, ditambah aliran anginnya yang sejuk dan sepoi-sepoi, plus saat itu nampak beberapa petani sedang menanam padi dan membajak sawah dengan cara tradisional yaitu masih make tenaga si sapi :) 

MasyaAllah sungguh pemandangan yang menawan… melihat langsung tentu lebih indah daripada sekedar melihat gambar sejenis yang sering ditemui di lukisan dinding, kalender atau wallpaper laptop. Alhamdulillah ... diberi kesempatan menikmatinya.

btw makasih fotonya ya mbak Evy..


September 09, 2016

Membangun Budaya Mutu Perguruan Tinggi

Rakor Pimpinan Perguruan Tinggi Bidang Akademik yang diselenggarakan oleh Kopertis Wilayah VII pada tanggal 18 Agustus 2016 lalu, menghadirkan pemateri Sekretrais Pelaksana Kopertis VII – Prof. Ali Maksum, Rektor Ubaya – Prof. Ir. Joniarto Parung, MMBAT, Ph.D dan Rektor UK Petra – Prof. Dr. Eng. Ir. Rolly Intan, M.A.Sc. Kedua rektor tersebut berbagi best practice dalam menerapkan budaya mutu di kampus masing-masing sesuai dengan tema yang diambil dalam rapat koordinasi tersebut.

Membangun budaya mutu PT tentu tidak terlepas dari upaya menumbuhkan budaya atau iklim akademik yang di kampus. Budaya akademik merupakan keseluruhan sistem nilai, gagasan, norma, tindakan dan karya yang bersumber dari iptek dan sesuai azaz perguruan tinggi. Budaya  atau iklim akademik yg mendukung interaksi positif  antara dosen dengan mahasiswa, dosen dengan dosen, mahasiswa dengan mahasiswa, sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan proses belajar mengajar dan kegiatan tri dharma perguruan tinggi.

Terkait budaya mutu, maka Renstra DIKTI 2015 – 2019 telah bertransformasi dari yang semula memperluas akses pendirian PT berubah ke membangun budaya mutu setiap PT, sehingga berdampak terhadap ketatnya ijin pendirian PT baru.

Regulasi-regulasi terkait komitmen mutu (budaya mutu) PT antara lain adalah Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT - Permenristekdikti no 44 tahun 2015), Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI : Audit Internal, Monevin Renstra/Renop, Quality Assurance, Pedoman Monev Dosen, Pedoman Akademik, SOP, dll), dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME : Wasdalbin, Akreditasi, Sertifikasi ISO, dll)

Budaya mutu itu sangat terkait dengan prinsip FIT : frequency, intensity, time : budaya intelektual & budaya moral, contoh komitmen mengajar minimal 12 kali pertemua per semester, pemenuhan durasi mengajar 1 sks yg berkisar 50’, membudayakan kegiatan penelitian dan abdimas, membudayakan pertemuan dosen setingkat prodi atau institusi yang bersifat ilmiah (diseminasi hasil ristek dan abdimas, seminar/workshop ilmiah, sharing bidang keilmuan, dll).

Untuk menumbuhkan kegiatan tri dharma PT terutama penelitian dan abdimas yang umumnya belum banyak disentuh oleh dosen, maka perlu dibuat kebijakan yang mendukung tumbuhnya kegiatan tersebut. Misal melalui pemberian penghargaan/apresiasi, penerapan gaji berbasis kinerja, serta pemberian punishment yang mendidik. Hal senada juga bisa dilakukan untuk menumbuhkan produktifitas mahasiswa dalam menelorkan karya-karya ilmiah.

Budaya akademik juga tidak terlepas dari upaya menumbuhkan kegiatan atau program-program kemahasiswaan yang meliputi 3 hal yaitu soft skill (UKM, BEM, Pramuka), minat & penalaran (diskusi & karya ilmiah, olahraga, On MIPA), serta kreativitas & wirausaha (PKM, PMW).
Energi mahasiswa yang masih muda dan penuh semangat itu mesti 'diperas habis’ (dalam konteks positif), sehingga mereka tidak sempat lagi memikirkan hal-hal negatif seperti konsumsi narkoba, radikalisme / tawuran, dan lainnya.

Menyinggung soft skill mahasiswa, berikut beberapa 'ketrampilan' yang menurut pemateri sangat diperlukan oleh seorang lulusan :
- Manajemen diri
- Ketrampilan berpikir
- Belajar sepanjang hayat
- Komunikasi
- Kerjasama
- Keterbukaan dalam keberagaman
- Integritas (kesamaan ucapan dengan perbuatan)
- Ketrampilan organisasi
- Kepemimpinan

Budaya mutu juga menyangkut tata tertib administrasi di semua unit kerja sekaligus proses evaluasinya. Prinsip "do what you write and  write what you do" memang tidak mudah untuk dipraktekkan, tetapi perlu terus diupayakan, sehingga menjadi sebuah budaya yang baik.
Pengalaman UBAYA dan UK Petra dalam menyiapkan dan menjalankan sistem penjaminan mutu juga tidak mudah, karena membutuhkan energi yang luar biasa dan banyak tantangannya, mulai dari menyamakan visi & pemahaman, mengubah budaya, sampai dengan upaya menerapkannya secara konsisten di semua unit kerja.  Yang tidak kalah penting dalam menerapkan sistem penjaminan mutu adalah adalah meng-aligned-kan antara formal system dengan informal system

Untuk menciptakan iklim akademik yang kondusif, PT perlu menyediakan sarpras dan infrastruktur yang memadai termasuk ruang terbuka belajar bagi mahasiswa, ruang kegiatan ormawa, ruang dosen yang bersekat untuk mendukung kegiatan menulis / meneliti, serta ruang perpustakaan yang mungkin bisa dilengkapi dengan peralatan edutainment.

Selain itu, PT juga perlu menciptakan lingkungan kampus yang kondusif untuk belajar dan mengembangkan keilmuan, yaitu dengan menciptakan lingkungan kampus yang hijau, bersih, sehat untuk semua sivitasnya serta ramah lingkungan. Ubaya dan UK Petra telah menerapkan pengelolaan sampah, mengurangi pemakaian plastik/tas kresek, dan menerapkan kebijakan larangan merokok di seluruh lingkungan kampus. Mereka juga berkomitmen untuk tidak menerima sponsor dari perusahaan rokok termasuk tidak memberikan fasilitas rekrutmen secara resmi dari perusahaan rokok untuk mahasiswa / alumninya. Sangat sulit dan banyak penolakan pada awal-awal penerapan kebijakan tersebut termasuk dari dosen senior mereka, tetapi akhirnya kebijakan tersebut dapat diterapkan.