September 17, 2018

#lombokbangkit

Alhamdulillah, akhirnya kami mendarat juga di Praya-Lombok hari Sabtu 8 September lalu. Setelah sebulan sebelumnya kami terpaksa harus me-reschedule jadwal sowan kerabat di Mataram (sekaligus pingin jalan2 tentunya) - qodarullah gempa tiba2 melanda pulau seribu masjid itu. Kebetulan kami juga satu pesawat dengan rombongan relawan dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Jember. Ikut terharu waktu awak kabin memberikan sambutan khusus dan mendoakan kelancaran tugas mereka selama di Lombok.

Dari Praya, mas Candra dan putri2nya - kerabat kami itu - menjemput dan langsung membawa kami jalan2 ke dusun wisata Sade Rembitan - pemukiman suku Sasak - yang masih terjaga keaslian budayanya. Sebenarnya agak prihatin juga melihat rumah2 asli di sana, sepertinya kurang ventilasi, lantai yang masih dibersihkan dengan 'cara2 tradisional', dan kamar mandi yang letaknya di luar (untuk dipakai rame2 sepertinya) dengan kondisi yang sangat sederhana. Tapi mereka terlihat kompak satu sama lain, sangat terbuka dan ramah pada pengunjung. Termasuk seorang ibu suku Sasak yang lagi menenun kain, juga ramah melayani pertanyaan2 kami. Kearifan lokal yang kami rasakan itu tertuang dalam bingkai di berugak (sejenis bale2) dekat pintu masuk komplek dusun wisata itu. Tiga nilai sikap sosial masyarakat di sana adalah gerasaq (ramah, santun dan terbuka), reme (bersahaja, rukun dan kompak), dan lome (sikap tdk ingin mengecewakan org lain). 

Dari Sade perjalanan dilanjutkan ke pantai Kuta atau pantai Mandalika. Pantai dengan butiran pasirnya yang menyerupai bulir2 merica, terasa kasar dan agak sakit jika diinjak dengan kaki telanjang. Di pantai juga banyak dijumpai rumput laut di sela2 karang dan berbagai macam bentuk kerang laut. Baru sebentar menikmati pantainya, kami sudah diserbu warga lokal yang menjajakan dagangannya berupa sarung tenun Lombok dan oleh2 khas Lombok lainnya. Juga bocah2 yang menawarkan untuk memotret kami (dengan hp kami sendiri) dengan berbagai macam teknik dan gaya sesuai arahan mereka. Ada foto yang seakan2 jari kita menunjuk puncak bukit, mendorong bukit, membawa bukit, foto kembaran diri dalam 1 frame, dan macam2 gaya serta teknik manipulasi lainnya. Wah ternyata mereka melek teknologi juga ya. Dari Mandalika perjalanan dilanjutkan ke Tanjung Aan dan Bukit 
Merese yang jaraknya cukup dekat dari Mandalika - masih dalam 1 kawasan yang sama. Nah di tempat inilah anak2 girang banget .. karena pantainya lebih nyaman untuk berenang dan juga bisa melihat pemandangan indah termasuk sunset dari bukit Merese yang memang terkenal cantik itu. Di bale-bale pinggir pantai juga sempet ngobrol2 dengan bocah lokal Tanjung Aan, bahasa dan dialek mereka sangat khas (campuran bahasa Sasak kali ya..). Polos dan lugunya mereka saat bercerita tentang gempa dan kehidupan mereka yang mesti bantu ortu / kerabat mereka untuk dapat memperoleh uang saku, dengan cara menjaga bale2 yg disewakan ke pengunjung dan menimba air dari sumur untuk mengisi toilet di tempat wisata itu.

Keesokan harinya kami rame2 piknik ke Gili Nanggu.. perjalanan dari Mataram ke Pelabuhan Tawun-Sekotong (untuk nyebrang ke gili Nanggu) ditempuh sekitar 1.5 jam. Pemandangan indah sepanjang perjalanan begitu memanjakan mata, apalagi saat melewati pemandangan laut sekitar pelabuhan Lembar beserta kapal-kapal yang sedang berlayar dan bersandar di sana.. masyaaAllah indahnya. Alhamdulillah..akhirnya kami bisa nyebrang ke gili Nanggu. MasyaaAllah indahnya pulau kecil itu.. anak2 seneng banget bisa main pasir dan snorkling-an sepuasnya, serasa di pulau pribadi hehe.. Pulaunya yg bersih, ombak di sekitarnya tenang, pulaunya asri dan teduh - banyak ditumbuhi pohon pinus (ato cemara itu ya? hehe), banyak burung liar berkeliaran di sekitar pantai, pasirnya putih dan lembut, kerang2 berserakan di pantai dengan berbagai bentuknya yang cantik, terlihat juga di salah satu sudut pulau hamparan batu karang besar yang menjorok ke laut. Selain itu di pulau banyak terdapat bale2, ada juga ayunan di bawah teduhnya pepohonan, angin saat itu juga pas bertiup sepoi2, toilet2nya juga bersih.. plus crita seru si sulung yg nemui ikan2 nemo dan gurita unik yg kt dia kayak berubah2 warna pas snorkling agak ke tengah laut.. wis pokoknya recommended deh untuk dikunjungi. Ditambah lagi saat kami membuka bekal makan siang rame2 di bale2, dengan salah satu menu khas Lombok yaitu kangkung plecing yang nikmat bikinan mbak Tina, dan lauk lainnya yg tak kalah nikmat bikinan mbak Ike.. "maka nikmat Tuhan-mu manakah yang kamu dustakan (QS Ar-Rahman)"... sangat bersyukur padaMu ya Allah.. Jazaakumullahu khoir.. Barokallahu fiikum untuk mas Candra sekeluarga yang telah membawa kami ke tempat2 yang indah selama kami di Lombok.

Di sisi lain sempet prihatin mendengar cerita warga lokal di sana, pas mau nyebrangin rombongan kami ke gili. Mereka bilang akhir2 ini jadi jarang banget nyebrangin pengunjung ke gilis, ikutan sepi imbas pemberitaan gempa Lombok yg terus menerus. Padahal di daerah pelabuhan Tawun - Sekotong - Lombok Barat itu sangat aman dikunjungi. Mereka senang jika kami bisa upload status atau foto2 ttg "Gilis" (Nanggu, Kedis, Sudak), sambil bantu woro2 / promo bahwa di sana aman2 saja untuk dikunjungi. Mereka sangat berharap pariwisata bisa rame dan normal lagi kayak sebelum terjadi gempa dulu.. semoga harapan mereka terkabul.. aamiiin. Setelah puas menikmati gili Nanggu yang elok itu, kami naik kapal lagi berkeliling melihat dari dekat gili-gili lain yg lebih kecil di sekitar Nanggu (Kedis dan Sudak). Sepanjang perjalanan di laut juga banyak dijumpai kerambah2 dan bola2 hitam yg mengapung di permukaan - yg infonya itu untuk peternakan mutiara.

Malamnya kami diajak mengunjungi Islamic Center di pusat kota Mataram- gak jauh dari rumah dinas keluarga mas Candra. Alhamdulillah ..walaupun ada beberapa bagian pilar masjid yang jatuh dan beberapa tembok yang retak, masjid megah itu masih bisa dipakai untuk sholat berjamaah. Tapi untuk aktifitas lainnya belum bisa, mungkin masih perlu waktu untuk direnovasi, karena beberapa area ada yang masih dipasangi police line (garis kuning).

Hari ketiga - sekaligus hari terakhir kami di Lombok, mas Candra di sela-sela jam kantornya - kembali membawa kami keliling Lombok, kali ini ke Lombok Utara untuk melihat dari dekat dampak gempa di sana. Perjalanan dari Mataram ke Lombok Utara ditempuh sekitar 1.5 jam, melewati daerah pegunungan Pusuk dimana dijumpai banyak monyet berkeliaran di sepanjang jalan yang berkelok2 itu. Di Pusuk juga banyak dijumpai orang berjualan gula aren dan tuak (legen khas Pusuk yg katanya lbh seger dari legen di Jawa). Turun dari Pusuk mulai banyak kami jumpai rumah, toko, sekolah, masjid, kantor dan bangunan lainnya yg roboh akibat gempa. Tenda-tenda pengungsian, tenda tim relawan, spanduk2 bantuan dari berbagai LSM, badan2 sosial, lembaga2 zakat, dan organisasi Islam lainnya juga banyak kami jumpai di sepanjang perjalanan mendekati desa Tanjung - Lombok Utara. Kami juga ditunjukkan sebuah gang lebar - jalan masuk ke kampungnya Muhammad Zohri - sang pahlawan olahraga yg lagi viral itu.

Sepanjang jalan juga banyak ditemui besi2 bekas kerangka bangunan yg sudah tersusun rapi - infonya sih untuk dijual ke pemulung besi yang berdatangan dari Madura (hmmm.. ulet juga ya pedagang besi Madura itu). Alhamdulillah saat itu juga sudah banyak aktifitas kehidupan yang terlihat, lalu lalang anak2 plg sekolah, beberapa toko, warung, dan pasar yang masih berdiri juga sudah dibuka. Di sepanjang jalan juga banyak dijumpai orang2 berjualan es, bakso, dan gerobak jualan lainnya. Semoga tidak ada gempa atau musibah lainnya di sana, semoga segera aman dan tentram kembali.. aamiiin.

Perjalanan diteruskan sampai melewati RS Lapangan, dimana Presiden Joko Widodo mengunjungi tempat itu bersamaan acara closing ceremony Asian Games ke-18 lalu. Di lapangan depan RS itu banyak dijumpai tenda oranye yang cukup ekslusif, sepertinya itu tenda2 yang ditempati Presiden dan rombongan saat kunjungan ke Lombok.

Alhamdulillah.. kami juga sempat bertemu Ustadz Alfian-guru ngaji kami. Beliau tergabung dalam tim relawan dari BEM Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Ar Rohmah - Perak Surabaya,  mengantar bantuan logistik ke Lombok Utara melalui laut. Memang sebelumnya kami sudah kontak2an dgn beliau, setelah tahu barengan jadwal ke Lombok nya. Dan pas banget, saat kami ke Lombok Utara, beliau juga pas juga baru nyampe sana dari Mataram. Sungguh senang bertemu kenalan di sana, apalagi mas Candra - (kebetulan beliau membidangi bagian sosial kantor BPS Kab.NTB) - juga banyak memberi informasi yang bermanfaat untuk mereka terkait penyaluran bantuan ke desa2 sasaran, sehingga bantuan yang diberikan diharapkan dapat lebih bermanfaat dan efektif. Alhamdulillah ..

Pulang dari Lombok Utara kami melewati jalur lain ke arah pantai Senggigi. Mendekati Senggigi kami ditunjukkan hamparan laut yang luas yang dari kejauhan tampak beberapa pulau kecil yg salah satunya sangat terkenal itu yaitu Gili Trawangan. Kondisi pelabuhan di sana juga masih sepi, sepertinya belum ada aktifitas penyebrangan ke gili. Semoga wisata di gili Trawangan dan sekitarnya segera pulih dan jadi lebih baik lagi semuanya ke depan. Seperti slogan pemerintah NTB yang sudah meng-inisiasi dan menerapkan Lombok menjadi "a muslim friendly tourism".. aamiiin.

Sempet mampir sebentar ke pantai Senggigi yang juga masih sepi pengunjung. Sempet beli bulayak (semacam ketupat tapi lebih gurih sebagai pendamping sate) dan bumbu khas-nya yang dijual di pinggir pantai Senggigi. Gak jauh dari Senggigi - masih di kawasan Batu Layar - kami mampir beli oleh2 khas Lombok di toko Gandrung yang terkenal itu. Sore harinya diajak mbak Ike ke pasar Mataram, beli kangkung khas Lombok (yg biasa dibuat masakan plecing), ayam taliwang, bumbu plecing, dan krupuk rambak yang banyak dijumpai di lapak2 pasar Mataram. Alhamdulillah nikmatnya masakan ayam taliwang-nya mbak Ike, kami juga dibawakan bahan2 tadi untuk dibawa pulang. Pas nyampe di rumah mas Candra, kami diberitahu kalo tadinya ada gempa tapi ringan, sebenarnya kemarin juga ada gempa tapi juga ringan, sehingga kami gak ngerasain itu..alhamdulillah. Semoga setelah ini tidak ada lagi gempa2 susulan.

Malam jam 8 kami diantar ke bandara di Praya - alhamdulillah semuanya lancar sampai kami mendarat di Juanda sekitar jam 10 malam. Di bandara sempet janjian ketemuan ngasih sedikit oleh2 untuk Risky - alumni POLSAS yg sdh lama bekerja di salah satu maskapai penerbangan, dan yang juga ikut membantu kami selama proses reschedule dan cek in online-nya.. jazaakallahu khoir Risky.

Sampe sekarang, rasanya masih terkesan dengan keindahan alam terutama pantai2 di Lombok, dengan masyarakatnya yang rata2 ramah, juga dengan mas Candra sekeluarga (mbak Ike, mbak Sasa, dik Manda) yang sudah sangat welcome, sangat hangat menjamu dan melayani kami, membawa kami jalan2 ke tempat2 yang indah di Lombok. Si bungsu-ku malah sampe beberapa hari ngomongin Lombok dan dik Manda terus hehe .. saking senengnya di sana. Si sulung juga komen alam Lombok yang bagus. Makasih banyak juga untuk suamiku tercinta yang telah ngajak sekaligus 'nraktir' kami sekeluarga ke Lombok..hehe.. alhamdulillah wa syukurilah.

Berharap kapan2 bisa balik lagi ke sana, ke Gili Trawangan, ke pantai Pink, ke desa Sembalun di lereng gunung Rinjani, dan ke tempat2 indah lainnya di Lombok.. InsyaaAllah Lombok bisa bangkit .. aamiiin.


Agustus 25, 2018

Ayo ikut tularkan virus kebaikan : Edukasi Anti Riba

"Riba Bukan Opsi" adalah judul booklet komik edukasi anti riba yang ditulis oleh Squ @pengenjadibaik (penulis komik Islami best seller "Pengen Jadi Baik"). Harganya hanya 5 ribu rupiah saja - sebagai ganti biaya cetak.

Proyek amal jariyah "Menuju 1 juta booklet untuk 1 juta keluarga muslim Indonesia bebas riba" tersebut patut di-apresiasi dan didukung. Ayo ikut sebarkan booklet tersebut dan amalkan 'isinya' !

Di dalamnya banyak dikupas segala fenomena terkait riba yang sering kita alami dan temui di sekitar kita. Problematika ekonomi umat dikupas dengan ringan, menarik, tapi padat dan bernas. Termasuk solusi-solusi praktis yang bisa ditempuh (dengan niat dan tekad yang kuat tentunya) untuk bisa bebas dari riba. Solusi-solusi tersebut antara lain konsep "nabung-bangun-stop" yang bisa diterapkan jika kita ingin memiliki rumah,  dan membentuk KOBAR (komunitas anti riba - dengan sistem ta'awun- penulis sudah mempraktekkan dengan mekanisme tertentu bersama komunitasnya dan alhamdulillah berhasil). Serta banyak hal praktis lainnya yang bukan tidak mungkin dipraktekkan untuk bisa bebas dari riba.

Sebagai nasehat untuk diri sendiri dan saudara2ku seiman .. setelah kita faham ilmunya (tentang hukum dan bahayanya riba - QS Al Baqarah : 278-279), maka tindak lanjut berikutnya adalah kita amalkan ilmu tersebut semampu kita (mampu yang sejujur-jujurnya, byk istighfar, bertaubat jika 'terlanjur terlibat' dan berupaya 'mentas' darinya) .. wallahu a'lam

nasehat lainnya - dikutip dari hal 23 dan 25 booklet tersebut :
  • "cukuplah bagimu Al Badzadzah (hidup sederhana), sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda "al badzadzah adalah sebagian dari iman (HR Ibnu Majah ; shahih)"
  • "barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina (HR Ibnu Majah, Imam Ahmad dan lainnya; shahih)" 



Agustus 24, 2018

Budaya Menglish & Logom..

Istilah2 itu ada di dalam buku antologi keren berjudul “Asyiknya Belajar di 5 Benua”. Mengutip kata pengantar  dari Prof.Dr.Haidar Putra Daulay, M.A. – guru besar UIN Sumut; membaca buku yang ditulis oleh emak2 kontributor  yg punya pengalaman menyekolahkan anak2nya di berbagai negara itu, kita seakan-akan dibawa ikut serta dalam rihlah tarbiyah di berbagai negara tersebut. Kita seakan dibawa mengembara dari timur sampai ke barat. Dari pendidikan yang santai (tapi serius) di Swedia sampai yang sangat ketat di Singapura, sehingga lahir istilah kiasu (saya harus lebih dari orang lain). Belum lagi variasi cuaca di negara-negara tersebut, dari yang sangat ekstrim dingin (hingga mencapai minus 27 derajat Celcius) di tanah Sivas-Turki, sampai yang sangat panas di Dubai (47 derajat Celcius). Hmm.. seru isinya.

Kembali ke istilah Menglish pada judul di atas – istilah itu merujuk pada istilah bahasa Melayu campur English yang kebanyakan digunakan oleh orang Malaysia. Di salah satu sekolah swasta dekat kampus UTM (Universiti Teknologi Malaysia) yang dikelola seorang dosen Malaysia berkebangsaan Cina, memiliki guru yang tutur kata Bahasa Inngris nya bagus (baca : tidak menggunakan Menglish). Sekolah tersebut juga sangat menghargai anak-anak muslim, dengan cara mereka diberi kebebasan membawa makanan dari rumah dengan alat makan dan botol minum yang tidak boleh bercampur dengan temannya yang mayoritas anak Cina. Di Malaysia, sekolah dasar (Sekolah Rendah) yang mendapat subsidi kerajaan terbagi menjadi 3 jenis, yaitu Sekolah Kebangsaan Melayu, Cina dan Tamil / India – yang merupakan 3 suku mayoritas di Malaysia. Sekolah Kebangsaan hanya diperuntukkan untuk warga negara Malaysia atau warga asing dengan status sedang belajar. Namun warga asing lainnya bisa mengajukan surat permohonan (istilah di Malaysia : surat rayuan ..hehe lucu ya) agar dapat belajar di sekolah kerajaan, tentunya dengan beberapa pertimbangan. Di sana, SMK alias Sekolah Menengah Kebangsaan (baca SMP dan SMA) berada dalam satu sekolah dan total hanya 5 tahun, dan tidak ada lagi pemisahan antar suku.

Serius Tapi Santai (Swedia)
Swedia, negara terdepan dalam hal inovasi dan sustainability, negara yang terkenal dengan banyak produk unggulan diantaranya IKEA, Skype, Volvo atau Nobel Price, ternyata memiliki budaya hidup ‘logom’ alias hidup secukupnya - “just the right amount” , tidak ngoyo alias tidak malas juga, tidak kurang tapi tidak berlebihan, pertengahan. Jadi ingat wahyu Allah dan sabda nabi kita yang mulia, yang menyebut umat Islam adalah umat pertengahan. Budaya ‘logom’ itu juga tercermin dalam dunia pendidikan mereka. Kegiatan di sekolah biasanya menekankan pada pembentukan kebiasaan dan rutinitas, kemandirian, tematic learning, dan selfservice skills (misalnya melepas dan mengenakan sendiri perlengkapan winter-nya, makan dan tidur sendiri, dll). Di tingkat preschool pengenalan huruf diajarkan dengan cara santai - tidak ngoyo, satu huruf bisa diajarkan dalam hitungan bulan, calistung (baca tulis hitung) mulai diajarkan secara formal di kelas nol nanti (masa peralihan dari preschool ke sekolah dasar). Tidak aneh jika menemukan anak kelas 3 SD yg belum bisa membaca. Pendidikan ditekankan pada pengembangan karakter serta nilai-nilai etika dan moral, pendekatannya dilakukan pada tiap individu. Urusan akademis tidak menjadi faktor utama. Tidak ada tes masuk sama sekali untuk bisa memulai sekolah di sana, baik preschool maupun SD. Hampir setiap hari ada kegiatan outdoor di sekolah, tidak peduli musim panas ataukah musim dingin. Budaya literasi lebih terasa di sana, padahal kemampuan membaca tidak didorong untuk sedini mungkin dikuasai. Tidak hanya sekedar bisa membaca yang diinginkan, tapi bagaimana seseorang bisa senang membaca. Membawa anak ke perpustakaan sejak kecil adalah hal yang biasa di sana, bahkan perpustakaan kota punya area ramah bayi lengkap dengan mainan dan full karpet. Swedia juga salah satu negara yang patut dicontoh soal parental leave-nya, menitipkan anak ke orang tua atau babysitter adalah hal yang tak lazim di sana. Hal tersebut sedikit banyak juga dipengaruhi nilai kemandirian setempat. Selama setahun pertama kelahiran anak, biasanya ortu akan bergantian menjaga anak di rumah, hingga masanya anak bisa masuk preschool barulah mereka akan bekerja full lagi. Sehingga  disana tak aneh dijumpai suami/ayah mendorong stroller tanpa ditemani istri, atau playdate para ayah tanpa ditemani istri.

Perang bintang (Turki)
Guru SD di Turki memberlakukan Perang Bintang untuk memotivasi para murid agar semangat dalam belajar membaca dan menulis. Sepuluh bintang pertama yang berhasil diraih seorang murid, merupakan tanda kelulusan membaca. Momen tersebut akan dirayakan dalam tradisi yang disebut Okuma Bayrami, dimana wali murid yang bersangkutan menyediakan cake dan fruit juice kotak untuk dinikmati semua murid sekelas. Setelah Okuma Bayrami, perang bintang belum selesai, jika berhasil meraih bintang ke-20 mereka akan mendapatkan pita merah sebagai tanda keberhasilannya. Pemberian bintang dan hadiah-hadiah kecil tapi bisa memberi motivasi, memang perlu diberikan agar para murid lebih semangat belajar dan berlomba menggali potensi dirinya. Oya papan tulis sekolah di sana yang asalnya blackboard, sejak tahun 2015 telah diganti menjadi smartboard yang terkoneksi dengan internet. Hmmm.. hal menarik lainnya di sana adalah olahraga gulat menjadi olahraga yang sangat digemari kalangan pelajar, selain sepak bola, tak terkecuali di provinsi Sivas – Turki yang terkenal dengan cuaca dinginnya yang sangat ekstrim. Sekolah-sekolah di Sivas sering ditutup sementara, jika suhu minus ekstrim mengunjungi mereka (bisa sampai minus 27 derajat Celcius.. masyaaAllah), dan dibuka lagi jika suhu agak membaik, misalnya “hanya” minus 15 derajat Celcius. Mirip dengan Indonesia, sekolah menengah atas di Turki juga terdapat program sekolah menengah kejuruan, sekolah menengah agama, dan sekolah menengah umum.

No Hat, No Play (Australia)
Di Australia, kesehatan murid-murid menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian khusus. Tidak hanya masalah imunisasi ataupun makanan sehat, perlindungan dan pencegahan anak dari bahaya kanker kulit juga mendapat perhatian yang serius. “No hat, no play” merupakan peraturan sekolah yang melarang keras para murid bermain di playground atau ruangan terbuka jika mereka tidak memakai topi. Sekolah juga memberi peringatan pada siswa untuk mengenakan sunscreen ketika angka UV melewati batas aman. Pihak sekolah mengharuskan tiap siswa membawa sunscreen sesuai jenis kulitnya dan mengajarkan cara menggunakannya. Peraturan tersebut diterapkan karena tingginya angka statistik penderita kanker kulit di sana. Seperti negara-negara maju lainnya, di Australia dukungan untuk menumbuhkan minat dan day abaca sangat luar biasa. Murid2 diberikan kebebasan membaca buku apa saja, selain buku pelajaran. Tema membaca bebas disesuaikan dengan minat siswa, seringkali tugas2 yg diberikan guru disesuaikan dgn bacaan yg disenangi anak. Setiap hari mereka membawa pulang 1 buku dari perpustakaan sekolah untuk dibaca bersama ortunya. Pe er hanya sesekali diberikan, biasanya pee r berupa tugas membaca. Menjelang akhir term, ada satu tugas besar yang diberikan, misal membuat mini jurnal mengenai hal yang disukai murid. Contoh membuat mini jurnal mengenai salah seorang pemain sepak bola dunia, mulai dari awal meniti karir, klub yang diikuti, sampai prestasi yang diperolehnya. Kegiatan lain yang disukai anak2 antara lain Milo reading – membaca sambil menikmati secangkir coklat panas, Morning reading – membaca dengan didampingi ortu sambil memperagakan cerita di dalamnya (untuk murid year 1), dan Canteen volunteer – menjaga kantin melayani pembeli dan diberi upah berupa voucher belanja di kantin. Sikap toleran terhadap murid muslim juga patut diapresiasi. Sekolah menyediakan ruangan khusus yang sangat layak untuk sholat, bahkan guru2nya juga mengingatkan waktu sholat.

Tidur siang di sekolah  (Taiwan)
Ya betul.. murid2 di Taiwan diwajibkan tidur siang selama satu jam di kelas setiap hari Selasa… Hmmm seperti budaya tidur siang di Spanyol (baca ini juga ya.. https://uce-indahyanti.blogspot.com/2018/04/siesta-qailulah-dan-ceria-ramadhan.html)
Setelah jam makan siang, menyikat gigi dan membersihkan ruang kelas, murid2 diberi penutup kepala berbentuk persegi empat yang multifungsi. Fungsi sebenarnya adalah sebagai pelindung kepala saat keluar dari ruangan ke lapangan jika ada gempa bumi. Namun sehari2 penutup kepala itu juga digunakan sebagai bantal kursi dan bantal tidur siswa. Taiwan memang merupakan salah satu negara yang sering mengalami gempa bumi. Setiap awal semester, dilaksanakan Earthquake and fire rescue training dari pihak sekolah yang bekerjasama dengan fire department di setiap kota. Pada saat tertentu, pihak sekolah tanpa pemberitahuan akan membunyikan alarm bahaya sebagai latihan siaga pada anak2 dan guru2 saat jam sekolah berlangsung…  Jadi inget musibah gempa di Lombok, semoga semua anak2 di Indonesia juga mendapat training tersebut. 
Seorang guru SD di Taiwan akan menjadi walas selama dua tahun berturut2, dg begitu hubungan anak2 dan guru semakin dekat dan guru lebih memahami sifat msg2 anak. Semua murid di Taiwan mempunya nama Cina, termasuk murid2 pendatang, dan Bahasa Mandarin digunakan sebagai Bahasa pengantar di sekolah. Ada guru pendamping yang bisa Bahasa Inggris untuk mendampingi murid pendatang yang belum bisa berbasa Mandarin sama sekali. Para ortu / walmur di sana juga bisa menjadi volunteer di perpustakaan. Selain menambah keakraban antar ortu, hal tsb bisa menjadi ajang bagi ortu pendatang untuk melatih dan menambah kosakata Bahasa Mandarin-nya.

Sementara itu yang bisa dibagi, sebenarnya masih banyak hal seru dan menarik seputar belajar di negara lainnya yang diulas dalam buku tersebut. Seperti belajar di AS, Mesir, Belanda, Ceko, Inggris, Jepang, Jerman, Kanada, Korea, UEA dan Finlandia.  Pada dasarnya banyak hal yang juga telah dilaksanakan di sekolah-sekolah negara kita, hanya mungkin intensitas dan efektivitasnya yang perlu ditingkatkan. 

Secara umum berikut  poin2 yang bisa disimpulkan dari pendidikan dasar di banyak negara tersebut di atas :
  • Kurikulum yang tidak terlalu banyak mata pelajaran
  • Lebih banyak praktek diselingi outdoor activity
  • Active and tematic learning
  • Kegiatan2 ekstrakurikuler yang dikemas dan dikelola dengan serius tapi menyenangkan
  • Pemberian reward yang penuh stimulus
  • Penekanan pada attitude, kemandirian, ketrampilan hidup, dan sejenisnya
  • Pendampingan guru dan pihak sekolah yang sangat mendukung anak2 untuk mengembangkan minatnya, tampil percaya diri dan juga kreatif
  • Toleransi yang bagus pada murid2 muslim di negara minoritas muslim
  • Program2 dan suasana yg sangat mendukung minat dan daya baca anak2
  • Kegiatan parenting dan kegiatan lainnya yang melibatkan peran ortu di sekolah dan di rumah
  • Administrasi masuk sekolah di luar negeri rata2 butuh dokumen dan hal2 berikut : paspor ortu dan anak, dokumen domisili ortu di negara tujuan belajar, bukti imunisasi anak, dokumen2 pendukung dari sekolah asal, dan tes penempatan.

Alhamdulillah.. rasanya banyak hal positif di atas juga sudah diterapkan di sekolah dasar si sulung dan si bungsu (SDIT Insan Kamil Sidoarjo). Dan yang juga penting... kami merasakan semua ustadz dan ustadzah-nya benar2 mendidik dari hati, dg cinta dan keteladanan.. jazaakumullahu khoiron katsiro .. semoga istiqomah dan membawa keberkahan.. aamiiin.






Juli 25, 2018

That's what friends are for (2)

Sabtu minggu lalu, akhirnya kesampaian juga ke desa Centini di Babat-Tuban, untuk penuhi undangan keluarga bunda Fatma - panggilan untuk mamanya mbak Frieska - sahabat yang sudah kami anggap seperti saudara sendiri. Jarak dari jalan raya ke rumah beliau ternyata cukup jauh, tetapi cukup menyenangkan dengan pemandangan desa yang masih asri. Alhamdulillah lega rasanya bisa sowan ke kampung halaman beliau, ketemu banyak kerabat dan saudara baru. Sambutan hangat bunda dan familinya yang hangat sungguh membekas di hati, bahkan masih kerasa sampai tulisan ini kubuat. Jazaakumullahu khoiron katsiro..

Hmmm.. bicara tentang sahabat memang gak ada habisnya. Seperti persahabatanku yg alhamdulillah langgeng dengan Eva, Meita, bu Ida, dan sahabat lainnya, termasuk dengan bunda Fatma. Keakrabanku dengan bunda Fatma dimulai sejak awal si bungsu Hira masuk SD. Bunda nawarin nitip Hira di rumah beliau (kebetulan mbak Frieska teman sekelas si bungsu), beliau kasian liat Hira yang saat itu masih harus dititipin di TPA. Rasanya lega campur terharu mendengar tawaran sejuk beliau. Sejak itu kami jadi seperti saudara. Foto keakraban Hira dan mbak Fries yang sempat diambil bunda saat mereka pulang sekolah bareng, sempet kupasang juga di postingan ini http://uce-indahyanti.blogspot.com/2016/10/thats-what-friends-are-for.html


Walau saat ini Hira sudah bisa mandiri, kami tetap saling kontak dan bersilaturahmi. Persahabatan dengan bunda seperti rejeki buat kami.. kesalehan beliau dan putrinya, keramahan, kepekaan, pengertian, kesederhanaan sikap, semua pemberian dan pertolongan beliau terasa begitu tulus. Dari beliau, kami juga banyak belajar tentang kesabaran, ketegaran dan tawakkal. Bunda selalu tampak tersenyum, nrimo dan tegar, bahkan saat suaminya wafat kira" setahun yang lalu. Jadi ingat bu Ida yg juga sdh cukup lama jadi single parent.. innalillahi wa inna ilaihi roji'un, semoga suami bunda Fatma dan suami bu Ida wafatnya husnul khotimah..dan semoga Allah selalu menjaga keluarga ug ditinggalkannya.. aamiiin 

Semoga kami selalu saling mencintai karena Allah Ta'ala, semoga persahabatan dan persaudaraan kami langgeng, dan kelak dapat berkumpul kembali di surga Allah Ta'ala.. aamiiin.

keterangan foto:
[1] si bungsu bersama sepupu & sahabatnya (dari kika : Fachri-Fakhira-Frieska), [2] bersama bunda Fatma, [3] bersama ibunda beliau yang insyaaAllah sebentar lagi akan safar untuk menunaikan haji .. semoga selalu sehat, selamat dan diberi kemudahan ya Eyang Ti, dan semoga menjadi haji mabrur (doa yang sama juga untuk Eyang Kung-nya mbak Fries dan semua kerabat bunda Fatma yang tahun ini safar haji barengan).. aamiiin.



Juli 23, 2018

Fight Love Hope*

Buku berjudul “Fight Love Hope” yang ditulis Nunik Utami dkk itu sungguh mencerahkan, mengedukasi, menginspirasi, dan ..ah pokoknya meng-meng positif lainnya . Buku yang berisi kumpulan kisah sejati perjuangan para penderita kanker ini dilengkapi dengan pengantar medis oleh dr. Nanang Sugiarto dan Haya Aliya Zaki S.Si.,Apt. Seperti yang dikutip dari pegantarnya, buku ini diharapkan bisa menggugah kepedulian kita pada penderita dan survivor kanker, sekaligus menggugah kesadaran kita untuk lebih peduli pada kesehatan kita dan orang" yang kita cintai.

Hal lain yg menggugah adalah kisah seorang survivor - Tridanti - yg mewariskan blog kankerpayudara.wordpress.com. Dibantu dokter ahli senior RSCM yg merawatnya - Prof. Soehartati, blog itu dikelolanya dengan baik, sehingga banyak membantu penderita kanker sejenis dan orang awam memperoleh informasi berharga seputar kanker, terutama kanker payudara. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un .. Danti sang pemilik blog tersebut saat ini sudah wafat, semoga husnul khotimah dan pahala terus mengalir untuknya.. Aamiiin. 

Berikut beberapa poin penting yang bisa kurangkum dari buku tersebut :
  • Kanker adalah suatu penonjolan atau pertumbuhan tidak wajar yang dapat terjadi pada setiap bagian tubuh, berupa benjolan yang keras, tidak sakit, dan tumbuh perlahan-lahan pada salah satu bagian tubuh.
  • Tumor (pembengkakan) menunjuk pada massa jaringan normal, tetapi dapat berubah ganas (bersifat kanker) atau jinak (tidak bersifat kanker).
  • Sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak terkendali, dan akan terus membelah diri. Selanjutnya akan menyusup ke jaringan sekitarnya (invasive) dan terus menyebar melalui jaringan ikat, darah, dan menyerang organ-organ penting serta saraf tulang belakang.
  • Klasifikasi kanker pada kategori yang lebih umum sebagai berikut: karsinoma (kanker pada jaringan epitel, seperti kulit atau jaringan yang menyelubungi organ tubuh), sarkoma (kanker pada tulang, otot, adipose, pembuluh darah, dan jaringan penghantar atau pendukung lainnya), leukemia, limfoma dan myeloma (kanker pada jaringan darah), melanoma (timbul dari melanosit), mesothelioma (kanker pada pleura atau perikardium), glioma (kanker pada susunan saraf, misal jaringan glia atau penunjang di susunan saraf pusat).
  • Banyak hal yang dapat memicu timbulnya kanker, sebagian dapat dikendalikan (misal faktor pola hidup) dan sebagian lagi tak dapat dikendalikan (misal faktor genetik). Penyebab lainnya adalah virus, infeksi, gangguan keseimbangan hormonal, faktor kejiawaan dan emosional, dan radikal bebas.
  • Kebanyakan kasus kanker baru diketahui setelah berada pada stadium lanjut, sehingga mempersulit proses penyembuhan.
  • Di Indonesia, kanker menjadi penyumbang kematian ketiga terbesar setelah penyakit jantung.
  • Keberhasilan pengobatan sangat ditentukan oleh jenis kanker, stadium kanker, keadaan umum penderita, dan usaha penderita untuk sembuh (dengan ijin Allah Ta’ala tentunya).
  • Upaya pengobatan secara medis dan mematuhi nasehat dokter itu sangat penting, tapi jangan lupakan untuk mencari second opinion. Sudah tiba waktunya bagi pasien untuk “learning by doing”, intens berkomunikasi dan berdiskusi dengan beberapa dokter spesialis terkait kanker yang dideritanya, termasuk dengan ahli gizi dan psikiatri.
  • Hal lain yang tak kalah penting adalah upaya pengobatan nonmedis, seperti berdo’a, menjaga keikhlasan dan menjaga sikap positif, tetap beraktifitas seperti biasa, olahraga ringan secara rutin, jaga berat badan ideal, cukup istirahat, menjaga pola makan, menghindari polusi dan paparan radikal bebas, berolahraga dan tinggal di lingkungan yang kaya oksigen (sel kanker tidak dapat tumbuh subur dalam lingkungan beroksigen), dan jika perlu konsumsi jamu, suplemen, atau antioksidan (tentunya penderita harus tahu dulu apa yang dikonsumsi : kandungan, manfaat, efek samping, takaran, cara konsumsi, dan interaksinya dengan obat-obat lain).
  • Lebih lanjut tentang menjaga pola makan dan pola hidup sehat : hindari tidur terlalu larut malam dan bangun terlalu siang, pola tidur seperti itu akan mengacaukan proses pembuangan zat-zat yang tidak berguna. Buang air besar secara teratur di pagi hari. Tidak merokok, tidak mengonsumsi : minuman atau makanan beralkohol, narkoba, makanan yang mengandung pengawet /pemanis buatan /zat pewarna buatan / penyedap rasa, makanan mentah atau setengah matang, makanan panggang / diasapi, makanan yang digoreng dengan minyak jelantah yang sudah dipakai berulang kali. Kurangi garam dan gula (gula adalah umpan bagi kanker), kurangi konsumsi lemak hewani, serta konsumsi lebih banyak sayuran hijau dan makanan yang kaya vitamin A dan C.   
  • Gejala khusus dan gejala umum kanker dapat dipastikan dengan diagnosis sebagai berikut: [1] Pemeriksaan awal (sejarah penyakit, riwayat keluarga, gaya hidup, status sosial dan ekonomi, pekerjaan, keluhan pasien), [2] Pemeriksaan fisik & tes laboratorium, [3] Pemeriksaan radiologi (X-Ray, USG, CT-Scan, MRI-Scan), [4] Pemeriksaan mikroskopis (biopsi), [5] Penentuan stadium (kanker yang berada pada stadium yang sama umumnya memiliki terapi dan prognosis / harapan hidup yang sama. Sistem TNM merupakan sistem standar dalam menentukan stadium kanker yang ditandai dengan kategori T (Tumor), N (Lymph Node) dan M(Metastase).
  • Jaga amanah dan nikmat sehat, serta lebih peka pada perubahan sekecil apapun yang ditunjukkan oleh orang-orang terdekat kita. Perhatikan juga orang-orang terdekat kita dengan lebih seksama, biasanya ortu tak mau mengeluh agar tidak menyusahkan anak-anaknya.
  • Diagnosis medis sedari dini terhadap penderita akan mempermudah pengobatan selanjutnya.
  • Lakukan SADARI bagi wanita, lebih efektif dilakukan pada hari ketujuh sampai hari kesepuluh setelah menstruasi. Saat itu payudara terasa lebih lunak. Jika menemukan benjolan pada saat SADARI, segera periksa ke dokter.
  • Lakukan pap smear minimal setahun sekali bagi wanita yang sudah menikah. 
  • Terapi kanker bertujuan untuk memenuhi fungsi kuratif (penyembuhan penyakit) dan paliatif (mengurangi keluhan). Terapi bentuknya bermacam-macam, bisa berupa terapi herbal, terapi fisik dan psikis, pembedahan, radiasi, kemoterapi, terapi hormone, imunoterapi, dan hipertermi.
  • Dukungan keluarga, kerabat, teman dan sahabat bagi penderita juga sangat penting , terutama untuk menguatkan sikap positif dan menumbuhkan semangat agar penderita mampu menjalani terapi yang terkadang luamaaa, menjenuhkan dan menyakitkan.
  • Tugas pendamping pasien antara lain : mengetahui secara persis perawatan yang dijalani pasien, memperhatikan obat-obatan yang dikonsumsi pasien, mencermati makanan pasien, melakukan penanganan sendiri (untuk pasien rawat jalan, tentu bukan untuk tindakan medis yang hanya boleh dilakukan tenaga ahli), menjadi teman bicara pasien, membimbing kegiatan spiritual pasien.
  • Pasien dapat memetik manfaat dengan bergabung bersama perhimpunan penderita kanker atau organisasi sosial serupa.
  • Pasien hendaknya jangan menunda tindakan medis hanya karena menaruh harapan pada pengobatan alternatif yang belum terukur kemajuannya
  • Dan ini yang "maha penting" bagi penderita… teruslah berdoa dan mendekat pada Allah Ta’ala, curahkan segala perasaan dan harapan pada-Nya. Jaga terus prasangka baik pada Allah Ta'ala. Kedekatan dan kemesraan hubungan tersebut akan membawa kedamaian, kekuatan dan keikhlasan hati, serta mengingatkan akan hakekat kehidupan.  
Semoga bermanfaat ... semoga Allah menghindarkan kita dari segala musibah & penyakit, dan semoga Allah memberi kesembuhan pada saudara-saudara kita yang sedang menderita kanker. 

"Laa ba’-sa thahuurun insyaa Allah" (Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, insyaAllah – [HR. Al-Bukhari no. 5656]).. Aamiiin…

Juni 26, 2018

Beramal Jariyah Bersama Yufid Network


Saudaraku, selama ini kantor yang ditempati untuk operasional Yayasan Yufid Network - yang menaungi beberapa situs dakwah Islam diantaranya : yufid.tv, konsultasisyariah.com, kisahmuslim.com - ternyata masih ngontrak. 

Menurutku tim Yufid sangat produktif. Jadi sangat dimaklumi jika mereka punya program 'pindah ke kantor sendiri' yg lebih kondusif, dan tentunya lebih 'aman' ke depannya. Banyak sekali ilmu bermanfaat yg kuperoleh dari situs2 yg mereka kelola. Semoga hal yg sama juga dirasakan oleh banyak orang. Kajian2nya yg cukup ringan tapi bernas, motion graphic-nya yg simple tapi apik dan mengena, kisah2 islami-nya yg menginspirasi, dan masih banyak lagi kebaikan2 lainnya. Barokallahu fiikum .. Jazaakumullahu khoiron katsiro. 

InsyaaAllah dalam waktu dekat Yufid akan membeli lahan berikut bangunan rumah untuk kantor baru Luas tanah 615 m2 dan luas bangunan 500 m2. Di Jl. Kaliurang KM 8 – Jl. Damai, Gg. Sumberan 2 Sleman Yorgyakarta (2 km dari kantor sebelumnya). Dengan total nilai Rp 3,5 milyard.

Yuk kita bantu wujudkan "Yufid Boyongan Kantor"dengan beramal jariyah cukup 100 ribu rupiah, syukur-syukur jika donasinya bisa lebih 😊.. Siapa tahu itu akan jadi "umur kedua" bagi kita kelak.. Aamiiin. 

“Sesungguhnya yang didapati oleh orang yang beriman dari amalan dan kebaikan yang ia lakukan setelah ia mati adalah: 

(1) Ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan, 
(2) Anak shalih yang ia tinggalkan, 
(3) Mushaf Al-Qur’an yang ia wariskan, 
(4) Masjid yang ia bangun, 
(5) Rumah bagi ibnu sabil (musafir yang terputus perjalanan) yang ia bangun, 
(6) Sungai yang ia alirkan, 
(7)Sedekah yang ia keluarkan dari harta ketika ia sehat dan hidup.

Semua itu akan dikaitkan dengannya setelah ia mati.” (HR. Ibnu Majah, no. 242; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan dihasankan oleh Al-Mundziri. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
DONASI BISA DIKIRIM MELALUI REKENING:
BNI SYARIAH: 0381346658, a.n. YUFID NETWORK YAYASAN
BANK SYARIAH MANDIRI: 7086882242, a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
atau melalui Paypal: finance@yufid.org

*Untuk mempermudah laporan keuangan, tambahkan 3 angka unik terakhir setiap mau donasi, dengan angka: 119 Contoh: Rp. 500.119,-
Bagi para donatur wakaf dimohon untuk konfirmasi ke nomor: 0877-3839-4989
Dengan format: Nama donatur/wakaf/nominal donasi/nama bank
Semoga Allah menerima amal jariyah kita semua…

modif n copas dari :




Juni 23, 2018

Mudik & Libur Lebaran 2018

Mudik dan libur lebaran tahun ini, kami muter2 cukup jauh. Habis sholat Ied, silaturahmi dulu ke rumah ibunda di Rungkut, di situ ngumpul saudara2ku termasuk mbah dan bude yang sudah sebulan 'liburan' di rumah kami. Malamnya keluarga kecilku bersama rombongan keluarga besar suami berangkat ke Kudus. Bus pariwisata yg disewa rombongan keluarga besar suami berangkat dari meeting point Jl. Raya Wiyung Surabaya. Silaturahmi keluarga besar suami tahun ini ditempatkan di rumah kakak iparku yg tertua di Kudus.

Bus melalui jalur selatan, jemput kelg kakak suami di Nganjuk, lalu lanjut lewat Sragen – Purwodadi - Kudus. Setelah bersilaturahmi dan jalan2 tipis keliling kota Kudus : ke masjid menara kudus (terdapat komplek makam Sunan Kudus di sebelah masjid yg dibatasi tembok, sayangnya sempet kulihat ada yg sholat di makam itu.. astaghfirullah) , beli oleh2 khas kudus - jenang mubarok, dan icip2 soto daging kerbau khas Kudus - sabtu malam rombongan balik ke Surabaya. Alhamdulillah perjalanan pp aman dan cukup menyenangkan, walau sempet macet cukup lama di sekitar pintu masuk dan keluar tol Bandar - Kertosono.

Selasa 19 juni, nganter mbah uti dan bude pulkam sekalian mudik ke Situbondo. Esoknya habis subuhan lanjut jalan2 ke Banyuwangi. Qodarullah, mobil kami mengalami masalah di sekitar alas Baluran. Bersyukur tidak terlalu jauh dari rest area alas Baluran, dan ada pertolongan melalui P.Ahmad pemilik warkop  yg buka 24 jam di rest area itu. Beliau membantu suamiku ngecek kondisi mobil dan menjemput teknisi yg biasa memperbaiki mobil2 yg mengalami masalah di sekitar alas Baluran itu. Sekitar 5 jam kami ‘terpaksa ngendon’ di situ, menunggu teknisi memperbaiki kerusakan  + harus membeli suku cadang di Banyuwangi – yg jaraknya masih sekitar 50 km dari alas Baluran. MasyaaAllah..teknisinya menempuh perjalanan Baluran – Banyuwangi pp dengan santainya, tanpa helm dan tanpa persiapan apapun. 

Saking lamanya menunggu, kami sempet lesehan di amben bambu milik P.Ahmad. Si sulung bahkan sampe makan mie instan 2x di warkop P.Ahmad itu, juga sempet ngerjain laporan praktikumnya – yg memang sengaja dibawa saat berlibur, krn minggu depan sudah masuk kuliah. Si bungsu sempet merengek minta pulang, setelah bosen foto2 obyek di sekitar alas..hehe. Akhirnya..alhamdulillah sekitar jam 1 siang mobil selesai diperbaiki. Jazaakumullahu khoir untuk P. Ahmad dan pak teknisi – sampe lupa gak nanya nama beliau.

Hmmm… rencana awal berangkat pagi2 dari Situbondo agar bisa mengunjungi beberapa destinasi wisata sebelum cek in di hotel Mahkota – Genteng, akhirnya mesti disusun ulang. Itinerary-nya sih ke Savana Bekol di Taman Nasional Baluran, mampir ke Waroeng Kemarang – kulineran khas Banyuwangi yg katanya view sawah di sekitar 'warung' mirip di Ubud Bali dan baru diresmikan Menpar itu, ke Jawatan Benculuk - yg katanya deretan pepohonannya mirip seting dlm film Lord of the Ring itu, dan ke pantai Pulau Merah - yg lagi viral itu. Itulah .. manusia mmg hanya bisa merencanakan, Allah yang menentukan, ambil hikmahnya saja.

Alhamdulillah dengan waktu yg terbatas, kami masih sempet jelajahi 'little africa’ alias Savana Bekol di dalam Taman Nasional Baluran. Bagi yg pingin ke sana, usahakan kondisi ban mobil prima, karena akses masuk ke Savana cukup jauh dan jalannya rusak parah (btw katanya sih turis2 asing malah suka dg kondisi jalan yg menantang gitu.. waduh !), dan jangan terlalu sore masuk ke savana, karena tidak ada penerangan di sepanjang akses masuk. Pintu loket ditutup jam 4 sore, dan semua pengunjung wajib sudah keluar dari Savana Bekol maksimal jam 6 senja. Di savana, ada beberapa spot foto yg menarik dan banyak kera liar berkeliaran.

Saat kami berkunjung, hanya dapat menyaksikan 3 ekor banteng jawa dan seekor rusa dari kejauhan. Menurut petugasnya, sebaiknya pagi2 sudah nyampe savana, jika ingin melihat gerombolan banteng dari dekat, yg biasa minum di beberapa kolam buatan di tengah2 savana. Infonya, banteng jawa di sana ‘sensitif’ dgn kehadiran pengunjung, bukan seperti di taman safari yg ‘dijamin’ hewan2nya pasti nongol he he.. Oya htm-nya murah, cuma 5 ribu per orang dan 10 ribu untuk mobil.

Keluar dari Taman Nasional Baluran sudah menjelang sore, lanjut jalan ke arah Genteng – Banyuwangi. Lumayan jauh ternyata hotel yg kami tuju. Sebenarnya milih hotel Mahkota di daerah selatan alias di Kecamatan Genteng itu - krn infonya ‘deket’ dan searah dengan pantai Pulau Merah, gak ngira kalo lumayan jauh dari ‘pintu masuk’ Banyuwangi arah utara.  Sekitar jam 7 malam nyampe hotel, langsung pesen makan di resto hotel, wis gak sempet nyari di luar. Bersyukur harga2 makanannya ‘normal’ alias terjangkau dan rasanya enak. Kami pesen nasi gandrung, nasgor jawa, dan nasgor khas hotel mahkota..hmmm semuanya yummi.. alhamdulillah. Terutama nasi gandrung-nya itu lo..bikin nagih. Isinya nasi+ ayam kampong goreng yg gurih + tahu tempe goreng + terong goreng + lalapan ada pete juga + sambal tomat + sambal ijo + potongan kecil ikan asin jambal roti.. hmmm enak banget.

Sarapan di hotel sih sederhana.. suamiku bilang lebih pas untuk vegetarian hehe.. menunya capjay full sayuran, bihun goreng, tahu dibumbu bali (?), acar dan krupuk. Minuman yg tersedia air mineral, teh dan kopi hitam. Seperti biasa, jatah sarapan free per kamar untuk 2 orang saja, tapi jika nambah jatah untuk anggota keluarga lainnya cukup murah, hanya 20 ribu per orang. Sebandinglah dg menu yg sederhana itu, tapi lumayan enak koq rasanya. Sebelum cek out kami pesen 2 porsi nasi gandrung dan nasgor jawa untuk bekal ke pantai.

Perjalanan dari hotel ke pantai Pulau Merah ditempuh sekitar 1,5 jam. Nyampe di kecamatan Jajag, kami disuguhi pemandangan desa yg cukup bersih dan menyenangkan. Banyak ditemui kebun buah naga dan kebun jeruk, belakangan baru nyadar kalo buah naga memang ikon kecamatan itu. Beberapa patung buah naga ditemui di persimpangan jalan. Petunjuk ke arah pantai-pun mudah kami temui. Mendekati pantai, kami sempet melewati sebuah bangunan seperti bangunan pabrik, terdapat beberapa bis sekolah terparkir di halamannya dan ada papan peringatan ‘ledakan’ di sebelah papan nama perusahaan PT Bumi Suksesindo. Gak jauh dari situ kulihat ada papan bertuliskan ‘Banyuwangi menolak tambang Tumpang Pitu’. Jadi penasaran.. setelah browsing2 baru paham bahwa perusahaan itu bergerak di bidang tambang dan pengolahan emas. Kalo dari beberapa tayangan di youtube sih perusahaan itu sudah memenuhi ijin keamanan operasional dan standar ramah lingkungan.. entahlah papan penolakan itu ditujukan untuk siapa.

Memasuki area parkir pantai, kami disuguhi deretan pohon yg menjulang tinggi , jadi terkesan adem banget. Turun dari mobil, langsung kedengeran gemuruh ombak pantainya. MasyaaAllah ... pantainya memang cantik dan bersih. Terlihat pulau kecil rimbun dengan pepohonan seperti bukit kecil - gak jauh dari pantai, ada sedikit area yg gundul dari bukit itu – dan terlihat tanahnya berwarna kemerahan. Pasirnya lembut berwarna coklat muda, ombaknya cukup besar tapi masih aman untuk bermain2 di pantainya yang bersih. Ada beberapa bendera merah yang ditancapkan di bibir pantai penanda area rawan bagi pengunjung – berbahaya jika bermain 'menantang ombak' terlalu ke tengah. 

Di pinggir pantai dekat area parkir, banyak berjejer tenda2 kecil plus kursi pantai berbantal empuk yang disewakan. Pilih saja salah satu yg kosong, nanti akan didatangi pemiliknya. Cukup murah harga sewanya, 20 ribu per jam-nya, jika 3 jam dapat diskon – cuma bayar 50 ribu. Oya htm ke pantai juga murah, cuma 8 ribu per orang dan 5 ribu per mobil. Pedagang yang menjajakan makanan, layangan dan kacamata hitam cukup ramah menawarkan dagangannya, tidak terkesan memaksa seperti yg pernah kami temui di tempat wisata lainnya. Murah2 harga makanannya .. rujak manis per porsi hanya 7 ribuan, es degan lengkap dg buahnya hanya 10 ribu, dan tahu bulat goreng per bungkus hanya 3 ribu saja. Bener juga info yg pernah kubaca, Banyuwangi merupakan kota 'termurah' setelah Solo :)

Saat itu angin berhembus lumayan kencang, pas banget untuk bermain layang2 di sana. Sekitar area parkir, toilet, area penjual souvenir dan warung – semuanya cukup bersih, banyak tersedia tempat sampah. Petugas keamanan pantai beberapa kali memperingatkan melalui pengeras suara tentang kebersihan, dan tentunya tentang batas aman bermain di pantai bagi pengunjung. Juga menawarkan jika ada pengunjung yang ingin mencoba belajar surfing didampingi pelatih.

Hmmm.. jarak yang jauh menuju pantai sungguh terbayarkan. Sepertinya jajaran pemerintah di Banyuwangi benar2 berbenah untuk mendongkrak potensi wisatanya – seperti yg sering kubaca dan kudengar di media. Meninggalkan Pulau Merah, mesti balik lagi ke arah Genteng – ke arah hotel kami menginap yang berada persis di tepi jalan raya ke arah Jember. Di Glenmore, sempet mampir beli pia khas daerah itu. Murah, enak dan renyah. Tersedia banyak rasa, mulai dari rasa pia yang konvensional sampai rasa cappuccino. Ada yg menarik perhatianku saat membayar di kasir, di situ dipajang kotak kaca berisi patung wanita penari gandrung khas Banyuwangi. Hmm..cantik sih patungnya, tapi sebagai muslim janganlah kita tertarik untuk membuat atau mengoleksi patung mahluk bernyawa, kecuali untuk mainan anak2.. wallahu a'lam. 

Alhamdulillah perjalanan aman, lancar dan gak macet. Termasuk saat kami memasuki kawasan perkebunan kopi robusta di lereng gunung Gumitir yang jalannya berkelok-kelok dan mendaki itu. Sempet turun hujan dan berkabut sih.. tapi jarak pandang masih aman. Masih terlihat jelas deretan pohon kopi yang sedang berbunga dan beberapa buahnya mulai tampak. Sayangnya kami menemui beberapa orang - sepertinya mereka asli penduduk di sana, termasuk ibu2 dan anak2 yang melambai2kan tangannya di pinggir jalan sepanjang kawasan wisata kebun kopi itu. Entahlah apa yg mereka maksud dg terus melambai2kan tangannya itu..mungkinkah meminta2 (?). sayang sekali jika mmg demikian ya.. 

Pingin sebenarnya mampir sholat di rest area atau di café Gumitir - daerah Kalibaru itu, krn di situ juga ada beberapa spot menarik untuk dikunjungi. Seperti wisata keliling kebun kopi dan ke pabrik kopi, termasuk ke terowongan kereta api peninggalan Belanda yang masih berfungsi itu. Ada area outbond dan naik kuda juga di sekitar café itu.  Tapi karena hari sudah menjelang maghrib jadi kuatir kemalaman, perjalanan balik ke Sidoarjo masih lumayan jauh. Keluar dari kawasan Gunung Gumitir, pemandangan berganti dengan banyak deretan pohon pinus.. hmmm… tetep hijau dan asri.

Setelah ishoma di Bromo Asri deket Tongas, lanjut jalan menuju Sidoarjo. Alhamdulillah nyampe rumah dg selamat sekitar jam 12 malam. Sudah kebayang bakal borongan nyuci nyetrika dan beres2 rumah nih.. Setelah itu, persiapan fisik dan mental kembali ke aktifitas normal termasuk persiapan ngantor lagi. Hmm masih banyak pe er di kantor, mesti disugesti untuk kembali 'wake up' he he.  

Finally... masih dalam suasana lebaran, kami ucapkan "Taqobballallahu minna wa minkum, semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan tahun depan .. aamiiin".