Januari 25, 2026

My Study Journey

Alhamdulillah, finally I did it. Bersyukur dengan pertolongan Allah akhirnya bisa menyelesaikan studi doktoral di Prodi Ilmu Komputer ITS (FTEIC ITS). Ini studi paling epic dalam hidup, bukan hanya penuh ilmu eksak, tapi juga penuh ilmu kehidupan. Banyak hikmah yang kutemukan, mulai dari belajar disiplin dengan timeline, melawan prokrastinasi, memberanikan diri hadapi masalah seruwet apapun dan gak nunda2 cari solusi. Pelan tapi pasti, day by day, step by step, satu per satu masalah selama masa studi bisa terurai. 

Tentu ada masa ketika rasanya langkah terasa tambah berat. Di awal studi sempet ganti judul proposal 2x, sulit nemu dataset yg representatif, seminar kemajuan 2x hanya untuk tuntaskan satu sub tahapan disertasi, artikel sempat di-reject, tahapan akhir disertasi sempet mandek, nilai TOEFL belum tembus skor 500, dan pe-er2 lain yg menumpuk, sementara batas waktu sidang kelayakan dan tertutup makin dekat. Saat itu aku sempat bertanya dalam hati, “Bisa selesai gak ya?” Di titik itu, yang kupunya hanya dua cara: sugesti diri untuk tetap jalan dan terus menengadahkan tangan ke langit. Ikhtiar semampunya. Do the best I can. Man jadda wa jadda, pesan promotor yang selalu kuingat: bahwa yang bersungguh-sungguh akan menuai hasilnya, dengan cara dan waktu yang ditentukan-Nya. Akhirnya.. 14 Januari 2026 aku dinyatakan lulus di sidang tertutup. Lega dan plong. Persyaratan yudisium yang cukup banyak juga hampir rampung. InsyaAllah wisuda di bulan April.

Perjalanan ini mengajarkanku pentingnya disiplin dan komitmen dengan diri sendiri. Bukan sekadar disiplin hadir bimbingan, tapi disiplin duduk buka laptop, baca jurnal, revisi bab, pahami coding, perbaiki hasil eksperimen, perbaiki artikel, meski hati pengin rehat. Ternyata perang terberat bukan dengan revisi, tapi dengan diri sendiri yang suka menunda dan mencari alasan.

Keberanian juga jadi kunci. Berani kirim draft ke promotor meski sadar belum sempurna. Berani datang bimbingan meski deg-degan karena ngerasa kurang siap. Berani baca komentar reviewer yang tajam lalu perlahan memperbaiki. Dari situ aku paham bahwa kritik bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk mengarahkan dan membangun. Seperti obat: pahit, tapi menyembuhkan.

Tentu aku gak jalan sendiri. Doa dan dukungan dari orang-orang terdekat jadi bahan bakar utama. Suami, anak-anak, ayah, ibu, bude, dan keluarga besar yang selalu mendoakan. Rekan-rekan seperjuangan yang saling menyemangati, berbagi cerita revisi, berbagi tips, bahkan berbagi keluhan, tapi intinya saling menguatkan. Support system seperti ini benar-benar berarti.

Terima kasih banyak untuk keluarga tersayang, rekan seperjuangan, tim promotor (Prof. Arif dan Prof. Daniel), tim penguji (internal dan eksternal), para dosen pengampu, KaProdi S3 Ilmu Komputer dan staf, annotator dataset riset, rekan2 yg bantu ngoding, dan semua pihak yang tidak bisa disebut satu per satu. Terima kasih sebesar-besarnya juga untuk UMSIDA yang telah mendukung pembiayaan studi doktoral ini melalui beasiswa internal dan bantuan publikasi. Jazakumullahu khoiran katsira.. barokallahu fiikum.

Kalau ditarik ke belakang, perjalanan ini bukan sekadar memenuhi tanggung jawab dan kualifikasi profesi melalui pencapaian gelar Dr. Lebih dari itu, ini proses pematangan diri: belajar berpikir strategis dan kritis, lebih terstruktur, lebih sabar, lebih siap menghadapi kegagalan, dan lebih peka melihat bahwa hambatan itu sebenarnya pintu belajar. Ada bagian hidup yang harus kulepas, kenyamanan yang harus kukorbankan, dan waktu yang harus kurelakan untuk fokus. 

Pada akhirnya, ini bukan sekadar hasil kerja kerasku, ini murni pertolongan Allah melalui ikhtiar, doa, dan tawakal. Jalur langit itu nyata, selama tidak berputus asa, tidak menggantungkan harapan pada makhluk, tapi hanya kepada-Nya. Pesanku: nikmati setiap momen dan rasa. Lelahnya, takutnya, hampir menyerahnya. Agar kelak saat menghadapi tantangan baru, kita bisa berkata, “Dulu saja Allah mampukan, insyaAllah sekarang pun bisa.” 

Satu hal lagi, perjalanan studi ini mengingatkanku bahwa masih ada perjalanan panjang yang harus jauh lebih serius dipersiapkan: perjalanan pulang kembali kepada-Nya. Selamat bersiap sambut bulan suci Ramadhan, momen emas buat nambah bekal pulang, semoga Allah mudahkan dan perbaiki semua urusan kita.. aamiiin.