Keberanian juga jadi kunci. Berani kirim draft ke promotor
meski sadar belum sempurna. Berani datang bimbingan meski deg-degan karena ngerasa kurang siap. Berani baca komentar reviewer yang tajam lalu
perlahan memperbaiki. Dari situ beneran kerasa bahwa kritik bukan untuk dihindari,
tapi dihadapi dan jadikan panduan arah yg membangun. Seperti obat: pahit, tapi menyembuhkan.
Tentu aku gak jalan sendiri. Doa dan dukungan dari
orang-orang terdekat jadi bahan bakar utama. Suami, anak-anak, ayah, ibu, bude,
dan keluarga besar yang selalu mendoakan. Serta tim promotor yang selalu mengarahkan dan menyemangati, juga rekan-rekan seperjuangan yang saling berbagi cerita - tips - bahkan berbagi keluhan semata untuk saling menguatkan. Support system seperti ini benar-benar berarti.
Terima kasih banyak untuk semua do'a, bantuan dan dukungannya: keluarga terdekat, promotor dan co-promotor (Prof. Arif dan Prof. Daniel), tim penguji (internal dan eksternal), para dosen pengampu, KaDep. Teknik Informatika - KaProdi PDIK - dan para staf khususnya Mbak Lina, para anotator dataset riset, rekan2 yg bantu ngoding, dan rekan2 seperjuangan. Terima kasih sebesar-besarnya juga untuk
UMSIDA yang telah membiayai studi doktoral ini melalui beasiswa
internal dan bantuan publikasi. Jazakumullahu khoiran katsira.. semoga ilmu dan pencapaian ini bermanfaat dan menjadi berkah bagi banyak pihak.. aamiiin.
Kalau ditarik ke belakang, perjalanan ini bukan sekadar memenuhi tanggung jawab dan kualifikasi profesi melalui pencapaian gelar Dr. Lebih dari itu, ini proses pematangan diri: belajar berpikir strategis dan kritis, lebih terstruktur, lebih sabar, lebih siap menghadapi kegagalan, dan lebih peka melihat bahwa hambatan itu sebenarnya pintu belajar. Ada bagian2 yang harus dilepas, kenyamanan yang harus dikorbankan, dan waktu yang harus direlakan untuk fokus. Tapi semua terasa sepadan. Sangat bersyukur di usia hampir senja ini masih diberi kesempatan menjalani studi lanjut yang luar biasa.
Pada akhirnya, semua pencapaian ini murni pertolongan Allah melalui ikhtiar, doa, dan tawakal. Jalur langit (sky link - kata temenku) itu nyata, selama tidak berputus asa, dan tidak menggantungkan harapan pada makhluk, tapi hanya kepada-Nya. Pesanku: nikmati setiap rasa dalam setiap tantangan kehidupan. Lelahnya, takutnya, hampir menyerahnya.. juga legaaanya ketika berhasil melewatinya. Agar kelak saat menghadapi tantangan baru, kita bisa berkata, “Dulu saja Allah mampukan, insyaaAllah sekarang pun bisa.”
Satu hal lagi, perjalanan studi ini mengingatkanku bahwa masih ada perjalanan
panjang yang harus jauh lebih serius dipersiapkan: perjalanan pulang kembali
kepada-Nya. Selamat bersiap sambut bulan suci Ramadhan, momen emas buat nambah bekal pulang, semoga Allah mudahkan dan perbaiki semua urusan dunia akhirat kita.. aamiiin.
Sedikit berbagi abstrak disertasi: https://repository.its.ac.id/130310/, mungkin ada yg berminat mengembangkan bisa kontak ke email: uceindahyanti@umsida.ac.id .. semoga bermanfaat😇




