
Alhamdulillah wa syukurilah... akhirnya doa kami terkabul bisa umroh bersama keluarga. Rabu 2 September lalu kami berangkat ke Tanah Suci transit Abu Dhabi dengan maskapai Etihad. Ini first umrah kami sekeluarga, jadi tentu rasanya campur aduk. Seneng, excited, haru, dan penuh harap semuanya bisa berjalan lancar. Sudah baca buku panduan yg dberi travel, browsing2, tapi tetap saja namanya pengalaman pertama pasti ada rasa, "Nanti di sana gimana ya?". Sejatinya perjalanan umroh kami gak dimulai saat pesawat take off saja. Jauh sebelumnya, perjalanan sudah dimulai dari berbagai ikhtiar: riset kecil-kecilan untuk memilih travel, belajar manasik, menyiapkan fisik dan hati, sampai urusan packing dengan segala printilannya. Sekarang setelah semuanya selesai dan kami sudah kembali ke rumah, rasanya sayang kalau cerita ini hanya tersimpan di galeri HP. Selain untuk menyimpan kenangan, berharap bisa berbagi hal-hal kecil yang bermanfaat buat teman-teman yang juga sedang bersiap menjalani first umrah seperti kami. Salah satu pe-er pertama tentu saja: pilih travel yang mana? Pilihan travel umroh sekarang banyak banget. Paketnya macam-macam, fasilitasnya kelihatannya mirip2, harga juga bervariasi. Apalagi kami berangkat sekeluarga, jadi faktor biaya tentu ikut diperhitungkan. Tapi sejak awal concern kami bukan sekadar cari yang terjangkau. Kami ingin travel yang amanah, pembimbingan ibadahnya baik dan sesuai sunnah, handling jamaahnya proper, hotel dekat masjid, itinerary jelas, dan tentu saja harganya masih reasonable.
Mulailah riset kecil-kecilan. Baca paket, bandingkan fasilitas. Cari tahu lokasi hotel. Tanya-tanya pengalaman yang sudah pernah berangkat. Lihat bagaimana manasiknya dan bagaimana pendampingan jamaah selama di Tanah Suci. Setelah menimbang ini itu, akhirnya bismillah kami memilih Hamdan Tour. Kami pilih paket 10 hari dan pas ber-4 bisa sekamar. Alhamdulillah setelah menjalani sendiri seluruh rangkaiannya, dari sebelum berangkat, selama di Tanah Suci, sampai kembali ke Indonesia, pilihan kami sesuai harapan dan sesuai promosinya (umrah sesuai sunnah dan sesuai akad @hamdantour). Walaupun kami harus menempuh perjalanan pp Sidoarjo - Jakarta, karena keberangkatan dan kepulangan rombongan Hamdan Tour melalui bandara Soetta, tapi semuanya sepadan. Tengkiu juga buat si sulung yg banyak bantu ngurus ini itu dan wirawiri ke kantor Hamdan Tour.
Salah satu yang paling berkesan adalah handling dan service-nya, selain tentu bimbingan umrohnya yang sesuai sunnah. Jauh2 hari sebelum keberangkatan, semua info penting dibagikan secara berkala, mulai dari pengingat untuk persiapan fisik dan bekal ilmu jamaah, info visa, hotel, maskapai, apps Nusuk, sampai dgn rencana perjalanan. Pakaian ihram, seragam, tas travel, serta buku pedoman umroh & ziarah ke tanah suci juga dibagikan jauh2 hari. Urusan barang dan berbagai kebutuhan jamaah ditangani dengan proper. Selama perjalanan pun tim Hamdan Tour selalu sigap membantu. Hal2 yang mungkin kalau dilihat sederhana, tapi buat jamaah first timer seperti kami ternyata sangat berarti. Ada rasa tenang karena kalau bingung ada tempat bertanya, kalau ada masalah ada yang membantu. Kami pun bisa lebih fokus menjalani perjalanan sekaligus beribadah. Mereka melayani jamaah dengan totalitas, before, during, and even after the journey. Jazaakumullahu khoir Hamdan Tour & team.
Setelah travel beres, masuk ke tahap berikutnya: nyiapin bekal fisik dan hati; jauh2 hari mulai rutin jalan kaki tiap pagi keliling fasum dpn rumah, baca2 buku dan artikel seputar umroh selain manasik yg diberikan oleh pihak travel, serta ngelist doa dan bikin target ibadah yg realistis - bikin fisik, pikiran, dan hati jadi lebih siap 'tempur'. Dibuang sayang, kubagi foto catatan rangkumanku dari buku panduan umroh yg dibagikan pihak travel. Isinya sangat lengkap termasuk di dlmnya juga ada kumpulan doa, panduan safar dan ziarah, serta panduan sholat jenazah. Di masjid Nabawi dan masjidil Haram tiap selesai sholat fardhu berjamaah, sering dilanjutkan dg panggilan / iqomah untuk sholat jenazah - amalan berpahala besar yg sayang jika dilewatkan.
Nah, untuk masalah packing, pihak travel juga rutin bagikan info penting terkait packing di wag. Misal mana barang2 yg bisa masuk kabin dan mana yg hrs masuk koper bagasi, berapa kapasitas maksimal koper bagasi dan barang bawaan di kabin pesawat yang akan kami naiki, dll. Packing umroh punya tantangan tersendiri, apalagi sebagai pemula seperti kami, rasanya semua perlu dibawa. Masukin barang2 ke koper. Browsing lagi, "barang yang wajib dibawa saat umroh". Nemu rekomendasi baru, masukin lagi. Merasa kebanyakan, keluarin sebagian. Besoknya mikir, "Kayaknya ini penting deh..." masukin lagi, repeat ;) Diantaranya mukena & sajadah travel, sandal, tas sandal, obat-obatan, toiletries, pelembap, masker, kaos kaki, kantong ini-itu, charger, adaptor, powerbank, spray kecil (untuk wudhu kondisi darurat dan penyegar muka), botol minum, gunting, pemotong kuku, alat cukur, dan berbagai printilan yang kelihatannya sepele tapi berguna. Setelah mengalami sendiri, menurutku prinsip packing umroh sebaiknya bukan "kira2 apa yang mungkin dibutuhkan?", tapi lebih ke: "apa yang kemungkinan besar benar2 akan dipakai?" Apalagi di sana kita bisa nge-laundry dan tentu ada agenda beli oleh-oleh. Jadi bawa baju secukupnya saja dan sisakan ruang koper dan bawa tas lipat buat jaga2 jika koper sudah gak muat. Trust me..
Sebelum keberangkatan kami mengikuti manasik via zoom. Buat kami yang baru pertama kali umroh, sesi ini penting banget. Walaupun sebelumnya sudah diberikan buku saku panduan umroh, tetap berbeda ketika rangkaian ibadah dijelaskan secara runtut oleh muthawwif. Apa yang dilakukan, urutannya bagaimana, apa yang perlu diperhatikan, sampai berbagai hal kecil yang sebelumnya mungkin gak terpikir. Arahan teknis keberangkatan - kepulangan, serta pemantapan manasik diberikan sekali lagi oleh tim Hamdan Tour saat jamaah sudah berkumpul di bandara. Semacam final briefing sebelum benar2 terbang. Bagusnya lagi, selama di Tanah Suci paspor kami disimpan oleh tim Hamdan Tour untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kami hanya diwanti2 untuk selalu mengenakan nametag siskopatuh yang sudah disiapkan pihak travel. Ustadz Haikal dan tim Hamdan di Saudi sangat memperhatikan detail-detail seperti ini. Di sinilah proper handling dari travel mulai benar-benar terasa. Bus yang kami pakai selama di Saudi pun terasa nyaman. Terimakasih Hamdan Tour, barokalllahu fiikum.

Sampai di Madinah rasanya sulit dijelaskan. Suasananya terasa tenang dan damai. Hotel kami alhamdulillah sangat strategis dan dekat dengan Masjid Nabawi. Setelah mengalami sendiri, baru terasa bahwa lokasi hotel ini penting banget. Waktu lihat brosur travel, jarak beberapa ratus meter mungkin terasa "ah, deket itu." Coba jalani beberapa kali sehari. Pergi ke masjid, balik hotel, pergi lagi. Belum lagi kalau badan capek atau sedang kurang fit. Jadi buat teman-teman yang sedang memilih paket umroh, saranku jangan cuma lihat bintang hotel atau foto kamarnya. Cek juga lokasinya di maps dan akses menuju masjid. Hotel yang dekat masjid itu benar-benar privilege. Hari2 di Madinah kemudian berjalan dengan ritme sederhana: masjid - hotel - sedikit jalan2 di sekitar masjid Nabawi - istirahat - ke masjid lagi. Masjid Nabawi sungguh bikin betah. Kami juga takjub dengan kecanggihan teknologi payung2 raksasanya. Duduk diam sehabis sholat di bawah payung sambil menikmati sunset ditemani segerombolan merpati mematuk biji2an yg ditebar jamaah, sungguh mengesankan. Di sela2 suasana sunset itu payung2 raksasa yang megah menguncup bersamaan hanya dlm hitungan menit.. masyaaAllah. Tetapi selama di Madinah, qodarullah para akhwat di rombongan kami belum berhasil dapat akses masuk Raudah, walau sdh berkali2 mencobanya lwt apps Nusuk. Alhamdulillah para ikhwan termasuk suami dan si sulung bisa dapat aksesnya. Akhirnya aku dan ibuibu dibantu Ummu Hasby (owner Hamdan Tour) bisa masuk ke sisi terdekat Raudah, sehingga kami tetap bisa merasakan feel-nya Raudah. Beliau juga mengingatkan untuk cukup memberi salam pada Rasulullah, sahabat Abu Bakar dan Umar. Sholat yg didirikan di area tsb harus tetap menghadap kiblat - bukan ke arah makam - dan doa2 yg dipanjatkan juga bukan untuk meminta keberkahan dari makam Beliau dan para sahabat - tetapi semua doa dan pinta dipanjatkan pada Allah Ta'ala semata. Jazaakillahu khoiron katsiro Ummu Hasby. Kebijakan yg berlaku saat ini, untuk jadwal Raudah, masing-masing jamaah perlu mengusahakan sendiri melalui aplikasi Nusuk, bukan lagi di-handle oleh travel. Jadi jika ada pihak yg menjanjikan bisa ngasih akses ke Raudah tanpa melalui apps Nusuk, rasanya aneh, krn bisa jadi itu 'memakai data jamaah lain, kuatir mendzolimi hak jamaah lain.. wallahu a'lam.

City tour Madinah: ternyata bukan sekadar jalan-jalan. Agenda city tour di Madinah membawa kami ke Masjid Quba, Jabal Uhud dan kebun kurma. Sepanjang perjalanan muthawwif menceritakan sirah Nabawiyah yang berkaitan dengan tempat-tempat yang kami lihat dan datangi. Tempat yang tadinya hanya sebuah nama jadi punya cerita. Jabal Uhud misalnya. Ustadz Azka nyritain detil bagaimana peristiwa penting pernah terjadi di gunung itu. Selama ini kita mungkin sering mendengar kisah Perang Uhud. Tapi berdiri dan melihat sendiri deretan bukit/gunung tersebut, sambil mendengar kembali kisah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat, rasanya beda. Sejarah seperti berubah dari teks menjadi landscape yang nyata. Seperti diriwayatkan dalam sebuah hadits sahih Muslim 2467: Telah menceritakan kepada kami [Ubaidullah bin Mu'adz] telah menceritakan kepada kami [bapakku] telah menceritakan kepada kami [Qurrah bin Khalid] dari [Qatadah] telah menceritakan kepada kami [Anas bin Malik] ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Uhud adalah bukit yang mencintai kita dan kita pun mencintainya”. Begitu juga dengan hadits riwayat Masjid Quba. “Siapa yang bersuci di rumahnya, lalu ia mendatangi masjid Quba’, lantas ia melaksanakan shalat di dalamnya, maka pahalanya seperti pahala umrah.” (HR. Ibnu Majah, no. 1412, An-Nasai, no. 700. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan). MasyaaAllah tabarokallahu.. banyak cerita, perjuangan dan perjalanan panjang di balik tempat-tempat yang kami datangi. Sempat mampir juga ke kebun kurma - lebih tepatnya semacam toko oleh2 di antara pepohonan kurma sih. Di sana hanya sebentar, sekedar lihat2 dan sedikit berbelanja, mengingat perjalanan ke depan masih panjang, dan kami hanya membawa uang saku secukupnya.
Jarak Mekkah - Madina: baru sadar sejauh apa perjalanan hijrah baginda Rasul dan para sahabat. Selama ini kita sering mendengar kisah hijrah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari Mekkah Al Mukarramah menuju Madinah Al Munawwarah bersama para sahabat. Cerita itu begitu familiar. Tapi setelah benar-benar berada di sana, melihat kondisi geografisnya dan menempuh sendiri perjalanan antara dua kota itu, aku baru tersadar. Ternyata sejauh itu. Kami menjalaninya dengan kendaraan nyaman. Duduk manis di bus yang nyaman ber-AC. Jalanannya mulus. Banyak bekal makanan dan minuman. Tapi perjalanan tetap terasa panjang. Lalu membayangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat menempuh perjalanan hijrah di masa itu. Benar2 gak kebayang. Bentangan padang pasir yang tandus. Cuaca yang terik dan kering. Belum ada jalan raya seperti sekarang. Gak ada kendaraan ber-AC, rest area, minuman dingin dan segala kenyamanan perjalanan modern. Dan hijrah tentu bukan perjalanan wisata. Ada perjuangan, ancaman, pengorbanan, meninggalkan kampung halaman dan segala yang dimiliki demi mempertahankan keimanan. Di situ rasanya kisah hijrah yang selama ini dibaca di buku mendadak punya dimensi yang berbeda. Jaraknya nyata. Teriknya nyata. Tandusnya tanah yang dilalui juga nyata. Dan perjuangan Beliau tentu jauh lebih berat daripada yang sanggup kita bayangkan hari ini. Kadang memang harus melihat sendiri tempatnya supaya cerita yang sudah berkali2 kita dengar terasa hidup. Kami hanya mencicipi sedikit sekali gambaran medannya, itu pun dengan segala kenyamanan zaman sekarang. Justru dari kenyamanan itu muncul rasa malu sekaligus syukur. Beliau dan para sahabat menempuh perjalanan sejauh itu untuk menjaga dan memperjuangkan agama ini. Sementara kita hari ini menerima Islam dalam keadaan semuanya sudah begitu dimudahkan.
Dari Madinah kami bertolak ke Mekah, dengan mengambil miqot di Bir Ali sambil terus ber-talbiyah "
Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal-hamda wan-ni’mata laka wal-mulk, la syarika lak" sepanjang perjalanan. Kalau Madinah memberi rasa tenang, Mekkah punya rasa yang berbeda. Sesuai julukannya: Mekkah Al Mukarramah (kota yang mulia) dan Madinah Al Munawwarah (kota yg bercahaya), keduanya merupakan Haramain (dua kota suci umat Islam, yang harus dijaga, dimuliakan, dan dihormati). Ketika pertama kali masuk Masjidil Haram dan melihat Ka'bah, rasanya takjub dan seperti mimpi. MasyaaAllah.... Ka'bah yang seumur hidup menjadi arah sholat kita, yang selama ini hanya kulihat dari foto, video, atau siaran televisi, sekarang benar-benar ada di depan mata. Sulit menjelaskan rasanya. Ada haru, syukur, perasaan kerdil bak debu sebagai hambaNya, sekaligus banyak sekali doa yang ingin segera dilangitkan. Sangat takjub dengan kemegahan masjidil Haram, termasuk waqaf keluarga kerajaan untuk perluasan masjid, dan kecanggihan teknologi sound system-nya yg begitu presisi shg semua jamaah dari segala penjuru masjidil Haram dpt mendengar seruan adzan iqomah dan suata sang Imam tanpa delay.. masyaaAllah tabarokallahu.
Sangat bersyukur kami mendapat bimbingan umroh sesuai sunnah (dengan mencontoh apa yang sudah dilakukan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam), muthawwif kami - Ustadz Azka Firdaus - juga terus berupaya agar semua jamaah dalam rombongan kami, bisa menyimak penjelasan beliau di tengah ribuan manusia. Karena teori yang sudah dipelajari di tanah air, bisa terasa berbeda ketika dipraktikkan di tengah keramaian Masjidil Haram dan dalam kondisi badan yang mulai lelah. Alhamdulillah waktu yang dipilih memulai umroh juga tepat menurutku, yaitu ba'da Isya'. Sehingga lebih adem dan tidak terpotong waktu shalat wajib diantaranya. Kami dibimbing dengan mengingatkan kembali hal2 yg diharamkan saat ihram, memulai prosesi thawaf - sholat sunnah 2 rakaat di belakang maqom Ibrahim - minum air zamzam sambil berdoa dan mengusapkannya ke atas kepala - menuju bukit Shafa unt prosesi sa'i - sampai dengan tahalul yg menjadi penanda selesainya umroh.
Suami dan si sulung ikut rombongan bapak2 ditemani Ustadz Azka dan Ustadz Haikal - ke barber shop langganan travel- untuk mencukur habis rambut mereka (mengambil keutamaan sesuai sunnah). Lucu juga liat kepala pak suami dan si sulung gundul kayak avatar..hehe. Sementara jamaah ibuibu langsung balik ke hotel untuk memotong ujung rambut kami di kamar saja, sesuai anjuran muthawwif, jadi lebih aman dan nyaman. Selesai sudah rangkaian prosesi umroh selama hampir 4 jam yang dibimbing dengan sangat detil oleh muthawif kami.. Jazaakallahu khoiron katsiro Ustadz Azka Firdaus.

City tour Mekkah: sirah yang berubah menjadi landscape nyata. City tour Mekkah membawa kami melihat Jabal Tsur, Jabal Rahmah, dan rangkaian Armuzna (Arafah - Muzdalifah - Mina: tiga situs utama dan puncak dari ibadah haji). Nama2 ini tentu sudah sangat familiar. Setiap musim haji kita mendengarnya. Tapi ternyata melihat sendiri tempatnya memberikan perspektif yang berbeda. Potongan-potongan cerita yang sebelumnya hanya ada di kepala seperti tersambung satu per satu. Begitu pula ketika melihat Jabal Tsur dan mendengar kembali kisah perjalanan hijrah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Di situ aku makin merasa bahwa city tour sebenarnya bukan sekadar bonus jalan-jalan dalam itinerary umroh. Ini seperti kelas sirah di alam terbuka. Belajar sejarah sambil melihat langsung geografis tempat peristiwa itu pernah terjadi. Dan storytelling dari pembimbing membuat semuanya terasa jauh lebih hidup. Foto di samping berlokasi di Jabal Rahmah saat city tour Mekah bersama jamaah paling sepuh di rombongan kami, mbah kung dan mbah uti yg berusia sekitar 80 tahun, tapi masih sehat dan tak pernah sekalipun kulihat beliau berdua pakai kursi roda, baik saat tawaf, sa'i maupun di keseharian selama di dua tanah suci. MasyaaAllah.. sehat2 ya mbah.

Salah satu destinasi yang juga sangat berkesan adalah Museum Wahyu di kawasan Gua Hira. Di dalamnya dibagi dalam beberapa ruangan dengan yang menyajikan audio visual sejarah seputar turunnya wahyu di Gua Hira sambil dijelaskan langsung oleh pemandu berbahasa Indonesia. Replika gua Hira juga ada di dalam museum, sehingga pengunjung yang tidak sempat menaiki bukit tempat -the real- gua Hira berada, bisa melihat yang serupa dgn wujud aslinya. Museum membantu kita memahami kisah turunnya wahyu dan perjalanan kenabian dengan penyajian yang lebih visual. Buatku ini menarik karena informasi sejarah yang selama ini hanya berupa teks menjadi lebih mudah dibayangkan. Di ujung lorong museum wahyu, terdapat toko souvenir di mana kami disambut penjual Arab yang lucu dalam mempromosikan dagangannya, gayanya yang unik dan sedikit mbanyol dlm bahasa Indonesia seadanya, auto bikin kami ketawa (kabarnya beliau sempat viral di sosmed). Anak2ku betah banget di toko itu, karena akhirnya mereka menemukan body mist yg wanginya sangat mereka sukai. Toko itu juga menyediakan Al Qur'an cetakan khusus yang bisa langsung di wakafkan oleh pihak toko ke Masjidil Haram.
Si bungsu pingin banget bisa mengunjungi langsung gua bersejarah yg namanya identik dgn namanya itu. Alhamdulillah di lain hari dia bisa balik lagi ke kawasan itu ditemani kakaknya dan Ustadz Azka. Akhirnya dia bisa napak tilas mendaki sampai di mulut gua. View kota Mekkah di malam hari cantik sekali diabadikan si sulung dari atas bukit tempat gua Hira berada. Kisah turunnya wahyu pertama tentu sudah kita dengar sejak kecil. Iqra'. Berada di kawasan tempat sejarah besar itu bermula memberikan rasa takjub yang berbeda.
Hal lain yang cukup berkesan selama di Mekkah adalah mencari tempat sholat yang nyaman di masjidil Haram. Sebagai first timer, Masjidil Haram awalnya lumayan bikin bingung. Luas. Pintunya banyak. Lantainya banyak. Eskalator di mana-mana. Jamaah datang dari berbagai arah. Bersyukur pembimbing kami di awal2 masuk masjidil Haram sudah ngasih banyak informasi dan petunjuk yang mudah diikuti untuk pp hotel – masjid. Sehingga kami merasa tenang dan aman saat beribadah mandiri setelah prosesi umroh. Beberapa kali sholat dapat lokasi yg berbeda2, bahkan sampai ke rooftop, dan semuanya tetap terasa khusuk dan nyaman.
Tawaf wada' dan rasa berat untuk pergi. Salah satu momen yang paling membekas buatku adalah tawaf wada' (tawaf perpisahan). Alhamdulillah aku dan si bungsu bisa tawaf wada’ persis di pelataran Ka’bah, sekaligus dapat rejeki bisa menyentuh Ka’bah dan melihat langsung maqom Nabi Ibrahim - sebuah batu tempat Nabi Ibrahim berpijak saat membangun kembali Ka'bah (bekas dua tapak kaki Nabi Ibrahim tersebut kira-kira berukuran panjang sekitar 27 cm, lebar 14 cm, dan kedalaman 10 cm). Dan setelah putaran terakhir tawaf wada' selesai, rasanya ada sesuatu yang berat. Entah kapan bisa berdiri di tempat itu lagi.Entah kapan bisa melihat Ka'bah lagi. Ada satu doa yang rasanya spontan muncul: "Ya Allah... jangan jadikan ini kunjungan terakhir kami."
Demam, batuk, dan obat mahal. Namanya perjalanan tentu gak semuanya mulus. Di Mekkah aku sempat demam dan batuk. Mungkin kombinasi aktivitas yang padat, perubahan cuaca, kurang istirahat, dan bertemu jamaah dari berbagai penjuru dunia. Akhirnya beli obat di apotek sebelah hotel kami di area Ajyad yg harganya lumayan mehong. Di situlah baru kepikiran: kenapa bisa lupa gak bawa obat batuk ya? Obat demam, flu, sakit tenggorokan, lambung, diare, oralit, vitamin, plester dan obat rutin pribadi untungnya bawa. Selain mereknya belum tentu familiar, pengalaman beli obat di area dekat hotel kami di Mekkah bikin sadar bahwa obat dari rumah jauh lebih economical.
Bin Dawood to the rescue, baik di Madinah maupun Mekah, supermarket ini yg sering kami kunjungi. Untuk urusan kebutuhan sehari2 dan sebagian oleh-oleh, lokasinya yg cukup dekat dengan masjid - lumayan jadi penyelamat. Butuh gunting, cemilan, buah tambahan, toiletries atau tiba2 sadar ada barang yang lupa dibawa? Bin Dawood. Mau cari kurma, cokelat atau oleh-oleh khas Arab? Bin Dawood lagi ;) Enaknya harga sudah jelas dan kita bisa santai pilih2 sendiri. Satu tips dariku: jangan kalap belanja perlengkapan atau oleh-oleh terlalu awal. Buat list dulu: mau beli apa dan untuk siapa. Lebih baik sebagian besar oleh2 beli di tanah air saja (rekomenku belanja di toko Nabawi - cukup lengkap pilihan paket umroh gift-nya dengan harga yg terjangkau).
Karena kalau setiap lihat sesuatu berpikir, "kayaknya bagus buat oleh-oleh", lama2 masalahnya bukan lagi berapa riyal yang keluar. Tapi gimana caranya nutup koper dan menjaga agar tidak kelebihan bagasi. Oya perlu juga bawa timbangan digital, selain itu jerigen portabel untuk ambil air zam2 di masjid buat persediaan di kamar hotel, timba portabel dan hanger lipat untuk sedikit nyuci pakaian dalam. Baju2 lbh baik baik di-laundry saja. Selama seminggu di Mekkah kami 3x nge-laundry ke sebuah binatu kecil di dalam Mall Mira di area Ajyad, cuci kering tanpa setrika10 SAR per kilonya.
Beberapa catatan kecil buat sesama first timer. Setelah mengalami sendiri, ada beberapa hal sederhana yang ternyata cukup penting. Persiapkan fisik sebelum berangkat. Biasakan jalan kaki beberapa minggu sebelumnya. Walaupun hotel dekat masjid, total langkah dalam sehari tetap bisa lumayan. Pakai sandal dan gamis yang benar-benar nyaman. Fashion urusan belakangan. Bawa tas sandal dan biasakan sandal langsung dimasukkan ke tas saat memasuki masjid. Tentukan meeting point yang jelas kalau pergi bersama keluarga. Bawa obat yang biasa cocok dengan tubuh kita. Rajin minum.Jangan abaikan istirahat. Dan sisakan space di koper sejak dari Indonesia.

Nasehat diri: upayakan tidak terlalu sibuk untuk bisa mendokumentasikan semuanya. Foto penting. Video juga menyenangkan buat kenangan. Tapi ada momen2 yang rasanya lebih baik dinikmati tanpa layar HP di depan mata. Biarkan mata melihat. Biarkan hati menyimpan setiap momen, walau hanya duduk diam sehabis sholat sambil berdzikir dan menikmati masjidil Haram. Kalau ditanya bagian mana yang paling berkesan dari perjalanan ini, rasanya susah memilih. Pertama kali melihat Ka'bah? Masjid Nabawi? Tawaf? Perjalanan Mekkah–Madinah? City tour dan mendengarkan sirah? Atau kejadian-kejadian kecil selama perjalanan? Semuanya berkesan, termasuk pemandangan yang sering kami temui selama di Haramain - banyak orang berbagi sedekah makanan dan minuman, dan itu dalam jumlah yang sangat banyak dan berlimpah.. masyaaAllah tabarokallahu. Semuanya punya cerita. Tapi satu yang paling kusyukuri: Allah memberi kesempatan menjalani perjalanan ini bersama keluarga. Pergi bersama. Ibadah bersama. Capek bersama. Saling tunggu, saling ingatkan. Walaupun sempat ada drama tapi kami coba ambil hikmahnya. Semoga Allah selalu jaga kami dan beri kami rejeki kembali ke tanah suci.. aamiiin.
Dan tentu perjalanan kami menjadi jauh lebih ringan karena banyak orang yang membantu. Tim Hamdan Tour, pembimbing, muthawwif dan semua yang mendampingi sejak sebelum keberangkatan, selama di Tanah Suci sampai kami kembali pulang. Ada banyak pekerjaan mereka yang mungkin gak terlihat: handling koper, koordinasi kendaraan dan kamar, mengarahkan rombongan, memastikan jamaah lengkap, menjawab pertanyaan, membantu ketika ada kebutuhan, dan mungkin menyelesaikan berbagai drama di belakang layar yang jamaah bahkan gak tahu. Sekarang aku paham bahwa proper handling dalam perjalanan seperti ini bukan hal kecil. Ketika kita berada ribuan kilometer dari rumah, ada orang yang siap membantu itu memberikan rasa aman yang luar biasa. Jazakumullahu khoiran katsira tim Hamdan Tour dan semua yang sudah membantu perjalanan kami.
Dan akhirnya pulang. Refleksi diri.. apa yang kita bawa pulang? Apakah sholat menjadi lebih dijaga? Apakah lebih mudah mengingat Allah? Apakah lebih sabar? Apakah setelah melihat langsung tempat-tempat perjuangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat, kita menjadi lebih menghargai nikmat iman yang hari ini kita terima dengan begitu mudah? Perjalanan ini juga mengingatkanku bahwa hidup sebenarnya punya pola yang sebuah perjalanan. Kita sibuk menyiapkan bekal. Memilih apa yang perlu dibawa dan apa yang sebaiknya ditinggalkan. Berangkat ketika waktunya tiba. Kalau untuk perjalanan beberapa hari ke Tanah Suci saja persiapannya bisa berbulan-bulan, packing-nya dipikirkan begitu detail, bekalnya dihitung, itinerary dipelajari, fisik disiapkan. Lalu sudah seberapa serius kita mempersiapkan perjalanan pulang yang sebenarnya? Perjalanan kembali kepada-Nya.
Alhamdulillah untuk perjalanan yang luar biasa ini. Terimakasih Ya Robb untuk kesehatan, rejeki dan kesempatan. Untuk setiap kemudahan, untuk orang-orang baik yang Engkau kirimkan sepanjang perjalanan. Untuk rasa lelah, sakit, haru, tawa, pengalaman baru, bahkan drama-drama yang sekarang berubah menjadi cerita. Terimakasih juga buat Ibunda, mbak Hemi dan bude Sit yang menjaga rumah selama kami safar. Sehat2 selalu beliau bertiga. Alhamdulillah wa syukurilah.. Engkau mampukan kami datang memenuhi panggilanMu bersama keluarga. Semua murni karena pertolonganMu Ya Robb, Engkau berikan kelancaran saat berangkat - saat transit - saat prosesi umroh - dan saat kepulangan pun pesawat kami dapat mendarat di Bandara Soetta sesuai jadwal dengan selamat (setelah sebelumnya bandara Soetta sempat ditutup kena dampak abu vulkanik letusan G.Krakatau).
Dan ada satu doa yang sampai sekarang rasanya masih ingin terus diulang. Semoga Allah menerima amal ibadah umroh kami, dan kami bisa kembali ke tanah suci untuk umroh lagi dan haji plus bersama keluarga. Dalam keadaan lebih sehat, lebih siap, lebih berilmu, dengan iman dan hati yang jauh lebih baik. Semoga Allah selalu jaga Haramain dan Aqsa.. aamiiin ya Rabbal 'aalamiin.
Our first umrah journey. First.. insyaaAllah not the last.. aamiiin.