Blognya Uce Indahyanti
September 16, 2026
My Family Umrah Journey
Juli 07, 2026
Merancang Evaluasi Project Based Learning
Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman pribadi dalam proses mencari cara agar mahasiswa yang benar2 belajar, bisa mendapatkan penghargaan yang layak, selamat membaca😇
Memberikan tugas proyek pada mata kuliah pemrograman sebenarnya bukan hal baru. Setiap dosen yang mengajar mata kuliah sejenis pasti pernah melakukannya. Mahasiswa dibentuk menjadi beberapa kelompok, kemudian diminta merancang dan membangun sebuah program sebagai implementasi dari materi yang telah dipelajari selama satu semester. Dengan harapan mahasiswa tidak hanya belajar sintaks bahasa pemrograman, tetapi juga belajar team work, berdiskusi, membagi tugas, mengelola waktu, menyelesaikan masalah, dan bekerja sama. Persis seperti yang kelak akan mereka hadapi ketika memasuki dunia industri. Berharap mahasiswa dapat semuanya : hard skills + soft skills.
Seperti pada beberapa mata kuliah pemrograman yang kuampu juga menerapkan pembelajaran berbasis proyek (PBL). Misal pada mata kuliah ASD, mahasiswa diminta mengembangkan program sederhana berbasis menu menggunakan struktur data yang telah dipelajari. Sedangkan pada mata kuliah PBO, mahasiswa mengembangkan aplikasi untuk sebuah studi kasus yang sama, tetapi menggunakan teknologi Java yang berbeda2 (berbasis web, desktop dan mobile).
Agar suasana proyek mendekati kondisi nyata di dunia kerja, pembagian tugas juga diserahkan kepada masing2 kelompok. Ada yang bertanggung jawab mengembangkan antarmuka, logika program, menyusun dokumentasi, melakukan pengujian, dan ada yang mengintegrasikan seluruh pekerjaan menjadi sebuah aplikasi yang utuh. Awalnya, perhatian lebih banyak tertuju pada bagaimana merancang proyek yang sesuai dengan capaian pembelajaran. Studi kasus harus cukup menantang, tetapi tetap dapat diselesaikan dalam satu semester. Tingkat kesulitan juga harus seimbang sehingga semua materi pokok tetap dapat diterapkan di dalam proyek.
Namun semakin sering menggunakan pendekatan ini, muncul satu pertanyaan yang ternyata lebih sulit dijawab. Bagaimana memastikan setiap mahasiswa benar2 belajar dan berkontribusi terhadap kelompoknya. Bukan sekadar namanya tercantum dalam laporan, tetapi juga memahami proyek yang sedang dikerjakan, mengetahui alasan mengapa sebuah solusi dipilih, serta mampu menjelaskan bagian yang menjadi tanggung jawabnya. Ini memang menjadi tantangan terbesar dalam PBL, bukan terletak pada bagaimana merancang proyeknya, tetapi bagaimana dapat menilai semua proses dengan cukup fair. Hal ini kemudian membawa pada serangkaian perubahan yang tidak direncanakan sebelumnya. Mulai dari cara memonitor perkembangan proyek, cara mengevaluasi kontribusi setiap anggota kelompok, hingga akhirnya mengubah mekanisme penilaian akhir yang semula dirancang melalui demo hasil proyek di lab komputer.
Ketika Tantangan Terbesar Bukan Lagi Coding.
Selama beberapa minggu pertama, semuanya berjalan seperti yang direncanakan. Setiap kelompok mulai berdiskusi menentukan rancangan program, membagi tugas sesuai kemampuan masing-masing, kemudian mulai mengembangkan proyeknya sedikit demi sedikit. Konsultasi rutin dilakukan di sela-sela perkuliahan. Ada kelompok yang progresnya cukup cepat, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama karena masih menyesuaikan diri dengan materi yang baru dipelajari. Namun di tengah jalan, dinamika mulai berubah. Diskusi yang semula banyak membahas algoritma, struktur data, atau implementasi class dan object, perlahan bergeser menjadi persoalan yang sama sekali berbeda. Bukan lagi tentang bagaimana membuat program berjalan. Tetapi tentang bagaimana membuat tim tetap berjalan.
Mulailah muncul cerita2 yang mungkin juga pernah dialami oleh banyak rekan dosen. Ada anggota yang aktif berdiskusi mencari referensi atau solusi, ada yang rajin memperbaiki error ketika teman2nya sudah beristirahat. Ada pula yang "rela" mengambil alih pekerjaan anggota lain agar proyek tetap selesai sesuai jadwal. Sebaliknya, ada juga anggota yang sulit dihubungi. Ada yang baru merespons ketika batas waktu sudah semakin dekat. Bahkan ada yang baru mulai mengerjakan bagiannya setelah mengetahui bahwa akan ada penilaian individu.
Menariknya, persoalan yang mereka sampaikan hampir tidak pernah berkaitan dengan printilan seputar teknis pemrograman. Apalagi mereka diperbolehkan untuk memanfaatkan tools yg ada tentu dgn syarat melampirkan proses dan riwayat pemakaiannya di dlm laporan. Persoalannya justru banyak berkaitan dengan komunikasi, komitmen, dan tanggung jawab dalam bekerja sebagai sebuah tim. Sebagai contoh, ada mahasiswa yg mengeluhkan, salah satu anggota kurang kooperatif. Sudah ada pembagian tugas yang disepakati bersama kelompok. Sebagian sudah dikerjakan dan masih perlu banyak revisi. Tetapi revisi tidak diselesaikan hingga mendekati batas waktu. Akhirnya anggota lain yg membereskan revisi tsb. Saat mendengar keluhan itu dan lainnya, perhatian bukan lagi tertuju pada siapa yang salah atau siapa yang benar.
Kalau akhirnya sebagian besar pekerjaan diselesaikan oleh satu atau dua orang, apakah adil jika seluruh anggota memperoleh penilaian yang sama? Di satu sisi, proyek memang dirancang sebagai tugas kelompok. Keberhasilan sebuah proyek tentu merupakan hasil kerja bersama. Di sisi lain, proses belajar tetap terjadi pada masing2 individu. Sangat mungkin dalam satu kelompok terdapat mahasiswa yang benar2 memahami program karena ikut terlibat sejak awal. Sebaliknya, ada pula yang hanya mengetahui hasil akhirnya tanpa memahami bagaimana proses atau alur program berjalan.
Kalau hanya melihat aplikasi yang berhasil dibuat, keduanya akan tampak sama. Kalau hanya melihat laporan kelompok, perbedaannya juga belum tentu terlihat. Padahal tujuan pembelajaran bukan sekadar menghasilkan sebuah aplikasi yang berjalan dengan baik. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap mahasiswa benar-benar belajar selama proses pengerjaannya. Dari sinilah mulai muncul kebutuhan untuk melihat proyek dari sudut pandang yang berbeda. Bukan hanya menilai hasil akhirnya, tetapi juga mencoba memahami proses di balik lahirnya hasil tersebut.
Ketika Monitoring Progress Individu Mengubah Dinamika Kelompok.
Berangkat dari berbagai dinamika tersebut, muncul pemikiran sederhana, yaitu meminta setiap mahasiswa mengisi Monitoring Kemajuan Individu secara berkala. Awalnya monitoring ini tidak dirancang sebagai alat penilaian. Tujuan utamanya justru untuk memudahkan melihat perkembangan setiap kelompok. Siapa yang sedang mengerjakan apa, bagian mana yang sudah selesai, kendala apa yang sedang dihadapi, dan apakah proyek masih berjalan sesuai rencana. Formatnya pun dibuat sederhana. Mahasiswa diminta menjelaskan bagian yang menjadi tanggung jawabnya, progres pekerjaan yang telah diselesaikan, kendala yang dihadapi, serta rencana penyelesaiannya pada minggu berikutnya. Harapannya, dosen memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai perkembangan setiap kelompok tanpa harus menunggu hingga proyek selesai.Tak diduga, monitoring tersebut ternyata memberikan dampak positif. Mahasiswa yang selama ini aktif mulai merasa lebih dihargai karena setiap perkembangan pekerjaannya tercatat dengan jelas. Dan mahasiswa yang kurang aktif mulai menyadari bahwa pada akhirnya mereka harus mempertanggung jawabkan apa yang mereka tuliskan sendiri. Menariknya, suasana diskusi di dalam kelompok juga mulai berubah. Beberapa ketua kelompok mulai lebih mudah melakukan pembagian tugas karena setiap anggota mengetahui bahwa kontribusinya akan terlihat melalui monitoring tersebut. Tidak sedikit pula yang mulai lebih rutin memberikan kabar mengenai progres pekerjaannya dibandingkan minggu-minggu sebelumnya (lewat chat maupun lewat forum diskusi di platform LMS / elearning).
Tentu saja monitoring ini bukan solusi yang dapat menyelesaikan semua persoalan. Masih saja ada anggota yang lelet dan harus diingatkan beberapa kali oleh teman2nya. Masih ada juga bagian proyek yang akhirnya terpaksa diselesaikan oleh anggota lain agar proyek tidak terlambat dikumpulkan. Namun setidaknya mulai terlihat dengan lebih jelas siapa yang benar-benar terlibat selama proses pengerjaan proyek. Yang awalnya monitoring dipandang hanya sebagai alat bagi dosen untuk mengawasi perkembangan mahasiswa, setelah dijalankan fungsi terbesarnya justru bukan di situ. Monitoring menjadi semacam pengingat tanggung jawab bagi setiap anggota kelompok. Ketika seorang mahasiswa menuliskan bahwa minggu ini ia bertanggung jawab menyelesaikan proses searching, menyusun class tertentu, atau membuat antarmuka aplikasi, secara tidak langsung ia sedang membuat komitmen kepada kelompoknya sekaligus kepada dirinya sendiri. Komitmen itulah yang kemudian harus dipertanggungjawabkan pada minggu-minggu berikutnya.
Jadi, kalau monitoring individu sudah mampu memberikan gambaran mengenai proses belajar setiap mahasiswa, mengapa hasil monitoring tersebut tidak dimanfaatkan juga pada saat evaluasi akhir? Bukankah akan lebih adil apabila mahasiswa diminta menjelaskan apa yang memang benar-benar mereka kerjakan? Pemikiran itu kemudian berkembang lebih jauh. Awalnya, evaluasi akhir memang direncanakan melalui demo proyek di kelas seperti yang selama ini umum dilakukan.
Namun setelah dihitung kembali, muncul pertanyaan baru. Apakah demo kelompok (presentasi program) mampu menunjukkan pemahaman setiap anggota? Atau justru hanya memberi kesempatan pada 1 atau 2 mahasiswa untuk berbicara mewakili seluruh kelompok? Hal itu mengubah skenario evaluasi yang telah dirancang sebelumnya. Sampai akhirnya menemukan bentuk yang dirasa lebih sesuai dengan tujuan pembelajaran. Demo ditiadakan, sebagai gantinya tiap mahasiswa wajib membuat video presentasi individu dan mengisi lampiran individu yang "menguji konsistensi kontribusi" terhadap kelompoknya.
Ketika AI Menjadi Asisten, Bukan Pengambil Keputusan
Pada akhirnya, bagian yang paling menguras waktu dari mekanisme evaluasi ini adalah memastikan konsistensi antar berbagai komponen penilaian. Monitoring Kemajuan Individu perlu dicocokkan dengan laporan kelompok. Lampiran individu perlu dibandingkan dengan apa yang sebelumnya dituliskan mahasiswa pada monitoring. Jawaban UAS juga perlu dilihat, apakah benar-benar sejalan dengan kontribusi yang diklaimnya. Belum lagi video presentasi individu yang memperlihatkan bagaimana mahasiswa menjelaskan proyek dan bagian yang menjadi tanggung jawabnya. Kalau seluruh proses tersebut dilakukan secara manual untuk satu kelas yang berisi puluhan mahasiswa (kali n kelas), tentu membutuhkan waktu yang lama. Di sinilah perlunya pakai alaty bantu alias pakai AI, bukan untuk memberikan nilai, tetapi bantu melakukan pekerjaan yang berulang. Misal merangkum jawaban mahasiswa, membandingkan isi Monitoring Progress Individu dengan lampiran individu, atau menemukan bagian2 yang tampak tidak konsisten sehingga layak dicermati lebih lanjut. Lebih efisien dan energi dapat difokuskan pada memahami konteks dari jawaban mahasiswa dan mengambil keputusan penilaian secara lebih objektif. Intinya AI bantu mengenali pola sehingga mempercepat proses koreksi, nilai akhir tetap berada di tangan dosen, karena dosenlah yang mengetahui dinamika kelasnya.
Refleksi di Akhir Semester
Pelajaran berharganya: bukan hanya tentang bagaimana merancang studi kasus, menyusun rubrik penilaian, atau membuat soal UAS berbasis proyek. Tetapi juga bagaimana merancang sistem evaluasinya. Sebuah proyek yang baik relatif lebih mudah disusun. Tentukan capaian pembelajaran. Pilih studi kasus yang sesuai. Sesuaikan tingkat kesulitannya. Lalu biarkan mahasiswa mulai berkarya. Setelah proyek selesai, bagaimana memastikan mahasiswa yang aktif memperoleh penghargaan yang sesuai dengan usaha yang telah dilakukannya? Bagaimana mendorong mahasiswa yang masih kurang berkontribusi agar tetap belajar bertanggung jawab terhadap tugasnya? Dan bagaimana melakukan semuanya tanpa menghilangkan semangat kerja sama yang memang menjadi inti PBL?
Rasanya sampai sekarangpun belum ada resep yang perfect. Mungkin saja mekanismenya perlu diperbaiki pada semester berikutnya. Bisa jadi format monitoring berubah. Soal UAS diperbarui. Atau mungkin bisa ditemukan cara yg lebih sederhana tetapi tetap mampu menggambarkan proses belajar mahasiswa secara utuh. It should be.. pembelajaran merupakan proses yang terus berkembang, begitu pula cara mengevaluasinya.
Ini menjadi pengingat diri: pentingnya merancang pengalaman belajar yang mendorong mahasiswa bertumbuh. Program yang mereka buat mungkin suatu saat sudah tidak digunakan lagi. Bahasa pemrograman yang dipelajari hari ini pun bisa saja berganti beberapa tahun ke depan. Namun memberikan edukasi atau kebiasaan untuk bertanggung jawab, bekerja sama, dan menyelesaikan pekerjaan dengan baik, akan tetap menjadi bekal berharga buat mereka.
Mekanisme evaluasi di atas tentu belum sempurna, dan apakah layak dicoba? jawabannya bisa "ya" atau "tidak". Masing-masing mata kuliah tentu punya karakteristik berbeda. Jumlah mahasiswa, capaian pembelajaran, hingga budaya belajar di setiap kelas juga tidak sama. Sekali lagi, tulisan ini disusun dari pengalaman pribadi, sebagai catatan kecil dari sebuah proses belajar. Mungkin saja ada bagian yang bisa diamati ditiru dan dimodifikasi (ATM) oleh rekan2 seprofesi. Oya penting juga menyiapkan panduan proyek untuk mahasiswa yg berisi ketentuan pengerjaan dan pengumpulan hasil proyek serta aspek2 penilaiannya. Satu lagi, koreksinya dibuat per-kelompok agar mudah cek ricek konsistensi jawaban masing2 anggotanya✅
Semoga bermanfaat.. barokallahu fiikum.
Juni 11, 2026
Menjaga Fitrah
Beberapa hari ini lagi rame beredar berita pesta kaum bot* yang bikin miris (https://news.detik.com/berita/d-8525485/fakta-miris-pesta-gay-di-karawang-didominasi-remaja). Sebenarnya fenomena ini bukan hal baru, tetapi yang bikin prihatin ketika perilaku menyimpang itu semakin terlihat terbuka, bahkan sebagian mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.. naudzubillah.
Ribuan tahun lalu perilaku menyimpang itu telah terjadi dan akibatnya pun bukan main. Kisah Nabi Luth berulang kali diabadikan dalam Al-Qur’an (diantaranya di QS. Al-A’raf: 80-81; QS. At-Tahrim: 10) sebagai peringatan bagi manusia sepanjang jaman. Pesannya jelas, penyimpangan itu pernah terjadi dan bisa muncul kembali, serta setiap pilihan manusia akan membawa konsekuensi. Hingga kini, jejak kisah itu sering dikaitkan dengan Laut Mati - sebuah tempat yang menjadi pelajaran dan pengingat bersama.
Dari kisah sahih tersebut ada bagian lain yang bikin merenung, yaitu tentang istri Nabi Luth, yang notabene hidup bersama seorang Nabi, berada di lingkungan keluarga utusan Allah. Tetapi kedekatan itu ternyata tidak serta merta menjadikan seseorang selamat. Para ulama menjelaskan bahwa istri Nabi Luth bukan termasuk orang yang melakukan perbuatan kaumnya tersebut, tetapi ia tidak beriman dan memilih berpihak kepada mereka. Di antaranya disebutkan ia membantu kaumnya dengan memberi kabar tentang tamu Nabi Luth (malaikat yang datang menyamar sebagai pemuda tampan). Ketika akhirnya datang ketetapan Allah, Nabi Luth dan orang2 yang beriman diperintahkan meninggalkan negeri tersebut. Namun istrinya termasuk orang yang tertinggal dan ikut menerima azab bersama kaumnya. Sebuah pelajaran besar bahwa keluarga seorang Nabi sekalipun tidak menjamin keselamatan jika tidak diiringi dengan iman dan ketaatan kepada Allah.
Kusarikan juga dari artikel https://muslim.or.id/27509-membenarkan-lgbt-karena-alasan-takdir.html dan https://www.uii.ac.id/psikologi-islam-menjawab-perilaku-lgbt/, bahwa kehidupan dunia adalah tempat ujian. Setiap manusia diuji dengan bentuk yang berbeda2. Yang terpenting bukan membenarkan kesalahan dengan alasan takdir, tetapi terus berusaha memperbaiki diri dan kembali pada-Nya. Bahwa manusia diciptakan dengan kecenderungan untuk memilih jalan kebaikan ataupun keburukan. Maka tugas kita adalah terus menjaga hati agar tetap dekat dengan petunjuk Allah. Kondisi hati manusia bisa berbeda-beda, ada hati yang sehat, hati yang sakit, dan hati yang mati. Ketika kita makin dekat dengan-Nya, maka itu juga ngaruh ke amalan dan pilihan hidup kita. Karena pada akhirnya yang mampu membolak-balikkan hati manusia hanyalah Allah Ta'ala.
Di sinilah pentingnya peran keluarga dan lingkungan. Banyak hal dalam perjalanan hidup seseorang yang dapat mempengaruhi cara berpikir, kebiasaan, dan keputusan yang diambilnya. Karena itu membangun keluarga yang dekat dan hangat, komunikasi yang baik, serta lingkungan yang sehat menjadi hal yang sangat penting. Sebagai ortu, kita tahu saat ini mendidik anak2 tantangannya makin besar. Mereka tumbuh di era ketika paparan informasi mudah masuk dari segala arah. Sesuatu yang terus menerus dilihat dan ditampilkan, perlahan bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Maka bekal terbaik tentu bukanlah harta dan koneksi, tetapi pondasi iman dan ilmu, keluarga dan lingkungan yang saling mendukung. Jangan sampai kita sibuk melihat ujian orang lain tetapi lupa menjaga diri dan keluarga. Jangan sampai pula merasa aman, karena hidayah murni milik Allah dan hati manusia mudah berubah tanpa pertolongan-Nya.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
Wallahu a'lam.. barokallahu fiikum.
Juni 05, 2026
Antara program besar & prioritas yang terlupakan
Akhir2 ini rasanya banyak sekali kebijakan dan program besar pemerintah yang ramai diperbincangkan. Mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), kebijakan pajak, sampai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Semua hadir dengan narasi yang terdengar baik: untuk rakyat, untuk pemerataan, untuk kesejahteraan. Tapi apakah semua program tersebut menjadi pilihan yang paling tepat? Karena dalam mengelola negara, tantangannya sering kali bukan memilih antara yang baik dan buruk. Tapi memilih mana yang paling penting, paling mendesak, dan paling berdampak ketika sumber daya negara terbatas. Kita coba riset kecil2an, bukan untuk cari2 ini salah siapa. Tapi untuk memahami, apakah arah kebijakan ini memang sudah menyentuh akar persoalan masyarakat.
Ambil contoh MBG.
Kedengarannya gagasan bagus bahwa anak-anak harus mendapatkan gizi yang baik. IMHO.. sejak awal ini jd pertanyaan pribadi dimana sih letak urgensinya. Apakah benar program makan gratis berskala nasional dengan kebutuhan anggaran sangat besar adalah jawaban paling tepat untuk masalah pendidikan kita hari ini?
Karena kalau kita melihat kondisi di lapangan, masih banyak persoalan mendasar yang belum selesai. Masih banyak guru honorer yang bertahun-tahun mengabdi tetapi kesejahteraannya belum layak. Masih banyak sekolah yang fasilitasnya tertinggal. Masih banyak anak2 berprestasi yang butuh beasiswa.
Belum lagi kebutuhan meningkatkan kualitas guru, memperbanyak beasiswa dengan mekanisme yang baik, memperkuat riset kampus, mendukung dosen agar pendidikan kita bisa bersaing. Jangan sampai kita sibuk memastikan anak dapat makan siang, tapi lupa memperhatikan guru2 mereka. Karena pendidikan tidak hanya dibangun dari sepiring makanan. Disinilah muncul persoalan prioritas. Dalam kondisi anggaran negara yang terbatas, setiap rupiah yang digunakan untuk satu program berarti ada program lain yang mungkin harus dikurangi atau dikorbankan.
Ketika ada efisiensi anggaran di berbagai sektor,
termasuk sektor yang berkaitan dengan pendidikan, wajar kalau masy bertanya: Mengapa program baru dengan biaya sangat besar bisa berjalan cepat,
sementara masalah lama yang sudah bertahun2 dirasakan dunia pendidikan
masih belum selesai? Aneh tapi nyata ya..😒
Lalu muncul masalah kedua: tata kelola.
Program sebesar MBG bukan sekadar soal menyediakan makanan. Ada rantai panjang yang harus dijaga: pemilihan penyedia, standar gizi, kebersihan dapur, distribusi, pengawasan, sampai transparansi anggaran. Beberapa media nasional maupun internasional seperti BBC dan Reuters ikut menyoroti berbagai persoalan dalam implementasi MBG, termasuk kasus kesehatan yang terjadi di beberapa daerah. Belum lagi masalah distribusi di daerah 3T yang harusnya menjadi prioritas pembenahan agar embege lebih tepat sasaran.
Dan ini menurutku jadi poin penting. Kalau sebuah program besar mengalami masalah, apakah cukup hanya mengganti orang di pucuk pimpinan? Saat ini juga banyak muncul berbagai sorotan terhadap tata kelola MBG, termasuk isu pengawasan dan transparansi yang menjadi perhatian publik, salah satunya bisa disimak di sini https://www.youtube.com/watch?v=lT5syvUg0U0. Kalau masalahnya ada pada individu, mungkin pergantian pejabat bisa membantu. Tapi kalau masalahnya ada pada desain dan sistem (tata kelola, monev, dll), maka mengganti orang hanya seperti mengganti sopir tanpa memperbaiki kondisi kendaraan. Cepat atau lambat, masalah yang sama bisa muncul kembali.
Mungkin ini juga menggelitik banyak orang: jika yang substansial gak disentuh apakah sepadan program ini diteruskan? Atau mungkin sudah banyak hal yang dikorbankan sehingga sulit dihentikan di tengah jalan? Netizen juga banyak yang mempertanyakan: "Embege dihentikan, reaksi siswanya biasa saja tapi koq malah investornya yang kayak kebakaran jenggot ya?"😐
Isu serupa lainnya: Koperasi Desa Merah Putih
Sekali lagi, konsep dasarnya terdengar bagus.
Koperasi bahkan punya sejarah panjang dalam ekonomi Indonesia. Semangatnya
adalah gotong royong, membangun ekonomi dari bawah, dan membuat masyarakat desa
lebih mandiri. Tapi lagi-lagi: Apakah masalah ekonomi desa hari
ini akan selesai hanya dengan membentuk koperasi baru secara besar-besaran? Karena
koperasi bukan sekadar papan nama, gedung, aplikasi, atau struktur organisasi. Koperasi
hidup karena kepercayaan anggota, kemampuan pengelola, aktivitas ekonomi nyata,
dan rasa memiliki dari masyarakat.
Kalau koperasi dibangun karena kebutuhan masyarakat, peluang berhasilnya besar. Tapi kalau koperasi muncul karena target program dari atas alias top down (bukan karena kebutuhan dari bawah), risikonya juga besar, ramai di awal, tetapi sulit bertahan setelah perhatian pemerintah berkurang. Salah satu artikel menulis tentang protes aparat desa karena pemotongan anggaran sampai dengan 70% untuk dialihkan ke KDMP.
Di media sosial juga beredar video warga di sejumlah daerah menolak pendirian Koperasi Merah Putih di atas lahan lapangan sepak bola (https://www.bbc.com/indonesia/articles/c89kyw3v9ylo). Beberapa pengamat juga menyoroti risiko program ini, mulai dari kesiapan sumber daya manusia, tata kelola dana, potensi tumpang tindih dengan usaha masyarakat yang sudah berjalan, hingga risiko pengawasan. Belum lagi muncul berbagai keluhan teknis, seperti proses rekrutmen dan kesiapan sistem.
Pertanyaannya, apakah
kita benar2 sedang membangun koperasi masyarakat? Atau hanya sedang
membangun sebuah program administratif yang bernama koperasi? Karena ekonomi
desa bukan laboratorium percobaan. Di sana sudah ada warung kecil, UMKM, dan
masyarakat yang hidup dari aktivitas ekonomi lokal. Kebijakan baru seharusnya
hadir untuk memperkuat mereka, bukan menjadi pesaing dengan dukungan fasilitas
negara.
Di saat yang sama, masyarakat juga menghadapi tekanan ekonomi yang tidak sederhana. Nilai tukar rupiah yang semakin melemah jadi pengingat bersama bhw ini bisa jadi efek domino, naiknya bhn baku yg hrs impor, biaya produksi, dll yg akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat. Memang nilai tukar tidak sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah karena dipengaruhi banyak faktor global. Namun kondisi seperti ini seharusnya semakin membuat pemerintah berhati2 dalam menentukan prioritas penggunaan anggaran. Setiap kebijakan besar perlu serius dipastikan punya dampak yang jelas dan tata kelola yang kuat.
Di sisi lain, masyarakat juga menghadapi isu2 terkait pajak. Paham sih.. negara butuh pendapatan dari pajak.
Tidak ada pembangunan tanpa biaya. Tapi pajak tidak hanya bicara tentang kewajiban
membayar tapi juga bicara tentang kepercayaan. Kita akan lebih mudah
menerima kewajibannya ketika melihat uang negara digunakan dan dikelola dengan baik, hati2,
tepat sasaran, dan transparan. Sebaliknya, ketika muncul program besar dengan
banyak pertanyaan, sementara kita diminta disiplin berkontribusi,
keresahan itu wajar muncul. Bukan karena gak mau ikut bangun
negeri. Tapi ingin memastikan pajak yg kita setor dikelola dengan
amanah.
Semoga setiap rupiah uang rakyat benar2 kembali untuk kepentingan rakyat. Karena yang paling mahal dari sebuah kebijakan bukan hanya anggaran yang hilang, tetapi kepercayaan publik yang hilang. Semoga segera pulih Indonesia-ku.. aamiiin.
Januari 25, 2026
My Study Journey
Keberanian juga jadi kunci. Berani kirim draft ke promotor
meski sadar belum sempurna. Berani datang bimbingan meski deg-degan karena ngerasa kurang siap. Berani baca komentar reviewer yang tajam lalu
perlahan memperbaiki. Benar, kritik memang bukan untuk dihindari,
tapi dihadapi dan jadikan panduan arah yg membangun. Seperti obat: pahit, tapi menyembuhkan.
Terima kasih banyak untuk semua do'a, bantuan dan dukungannya: keluarga tersayang, tim dosen promotor (Prof. Arif dan Prof. Daniel), tim dosen penguji (internal dan eksternal), para dosen pengampu, KaDep. Teknik Informatika - KaProdi PDIK - dan para staf khususnya Mbak Lina, para anotator dataset riset, rekan2 yg bantu ngoding, dan rekan2 seperjuangan. Terima kasih sebesar-besarnya juga untuk
UMSIDA yang telah membiayai studi doktoral ini melalui beasiswa
internal dan bantuan publikasi. Jazakumullahu khoiran katsira.. semoga ilmu dan pencapaian ini bermanfaat dan menjadi berkah bagi banyak pihak.. aamiiin.
Kalau ditarik ke belakang, perjalanan ini bukan sekadar memenuhi tanggung jawab dan kualifikasi profesi melalui pencapaian gelar Dr. Lebih dari itu, ini proses pematangan diri: belajar berpikir strategis dan kritis, lebih terstruktur, lebih sabar, lebih siap menghadapi kegagalan, dan lebih peka melihat bahwa hambatan itu sebenarnya pintu belajar. Ada bagian2 yang harus dilepas, kenyamanan yang harus dikorbankan, dan waktu yang harus direlakan untuk fokus. Tapi semua terasa sepadan. Sangat bersyukur di usia hampir senja ini masih diberi kesehatan, rejeki, dan kesempatan bisa menempuh studi ini.
Pada akhirnya, semua pencapaian ini murni pertolongan Allah melalui ikhtiar, doa, dan tawakal. Jalur langit (sky link - kata temenku) itu nyata, selama tidak berputus asa, dan tidak menggantungkan harapan pada makhluk, tapi hanya kepada-Nya. Pesanku: nikmati setiap proses & setiap rasa dalam semua tantangan kehidupan. Lelahnya, takutnya, hampir menyerahnya.. juga legaaanya ketika berhasil melewatinya. Agar kelak saat menghadapi tantangan baru, kita bisa berkata, “Dulu saja Allah mampukan, insyaaAllah kali ini pun bisa.”
Perjalanan studi ini mengingatkanku bahwa masih ada perjalanan
panjang yang harus jauh lebih serius dipersiapkan: perjalanan pulang kembali
kepada-Nya. Selamat bersiap sambut bulan suci Ramadhan, momen emas buat nambah bekal pulang, semoga Allah selalu berikan kesehatan, kelancaran beribadah dan memperbaiki semua urusan dunia akhirat kita.. aamiiin.
Dan ini sedikit gambaran disertasi (abstrak) bisa dibaca di sini: https://repository.its.ac.id/130310/, semoga bermanfaat.
update momen pasca wisuda.. terimakasih semuanya.. barokallahu fiikum💗
September 02, 2025
My Sweet Teenager’s Journey in Formosa
Akhirnya, setelah berjam-jam
di udara dan transit di Bandara Changi, aku menginjakkan kaki di Taiwan.
Matahari menyambut dengan hangatnya saat aku keluar dari Bandara Taoyuan.
Semilir angin pagi yang menerpa wajahku membuatku bisa bernapas lebih lega. Ini
bukan hanya soal perjalanan lintas negara, tapi juga langkah awal menuju
petualangan yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Taiwan, negeri yang
dijuluki Formosa karena keindahannya, menyambutku dengan tangan terbuka.
Program Summer Camp di Da-Yeh University yang awalnya kupikir hanya akan jadi
kegiatan musim panas biasa, ternyata berubah menjadi pengalaman yang membuka
mataku lebar-lebar.
Dari awal, kami sudah
dihadapkan dengan tantangan. Cuaca yang berbeda, makanan yang asing di lidah,
tempat tidur baru yang butuh waktu bagiku untuk membiasakan diri. Pelan-pelan
kami belajar beradaptasi. Hari demi hari, aku mulai menemukan ritme. Hal-hal
yang awalnya terasa tak biasa, sekarang jadi kenangan manis.
Salah satu inti kegiatan kami adalah kelas bahasa Mandarin. Setiap pagi, kami mengikuti pembelajaran yang seru dan jauh dari kata membosankan. Para pengajar sangat kreatif. Mereka menggabungkan pelajaran dengan permainan, membuat kuis, bahkan lagu pendek yang semuanya menggunakan bahasa Mandarin. Belajar jadi terasa ringan, dan tanpa sadar, kami jadi bisa memahami serta berbicara kalimat sederhana. Rasanya seperti membuka jendela baru, aku bisa menyapa dan berbelanja yang sebelumnya terasa asing di telinga.
Selain kelas bahasa, kami juga
mengikuti berbagai kelas budaya yang memperkaya pengalaman kami. Salah satu
yang paling berkesan adalah kelas memasak Taiwanese Cabbage Salad. Siapa
sangka, meracik bumbu yang pas bisa jadi pengalaman menyenangkan? Kami juga
belajar tentang face painting dalam opera tradisional. Warna merah berarti
kesetiaan, putih berarti pengkhianatan, dan dari wajah-wajah yang dilukis
itulah, aku belajar bahwa setiap budaya punya cara unik untuk bercerita.
Waktu di luar kelas jadi momen paling hangat. Malam hari sering kami habiskan dengan ngobrol santai di kamar teman, saling berbagi cerita sambil menyeruput milk tea atau menyeduh mie instan bareng. Kadang, hanya duduk di balkon asrama sambil menikmati angin malam dan langit berbintang sudah cukup untuk membuat kami merasa nyaman. Momen sederhana seperti ini justru jadi hal-hal yang paling melekat di ingatan. Dari jalan-jalan menyusuri komplek universitas, menemukan spot yang bagus untuk duduk bersama teman-teman sambil deeptalk, ngobrol santai di area laundry, saling berbagi camilan, sampai unboxing belanjaan yang dibeli saat jalan-jalan, semuanya terasa begitu hidup.
Satu hari yang tak mungkin aku
lupakan adalah perayaan 17 Agustus di negeri orang. Meski kami jauh dari tanah
air, semangat nasionalisme tetap membara. Kami merayakannya dengan sederhana
tapi khidmat. Acara dimulai dengan bapak guru kami yang menyampaikan narasi
kemerdekaan, lalu kami bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan dengan penuh
semangat. Setelah itu, kami makan nasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauk khas
Indonesia, dari nasi kuning, ayam panggang bumbu rempah, telur balado, urap,
hingga sambal, kurang kerupuk aja sih. Walau sederhana, suasananya hangat dan
bikin haru. Rasanya seperti membawa sepotong Indonesia ke tengah-tengah Taiwan.
Kami juga mengunjungi beberapa SMA di Changhua, ada tiga sekolah yang kami datangi, yaitu National Changhua Senior High School, Changhua Arts High School, dan National Xihu Senior High School. Aku merasa sangat senang bisa berkunjung dan melihat langsung fasilitas yang ada serta mengetahui kurikulum sekolahnya. Pengalaman di National Xihu Senior High School jadi salah satu yang paling berkesan, di sana aku berkelompok dengan teman-teman dari Xihu, kami bekerja sama membuat origami, saling bertukar media sosial, jalan-jalan mengelilingi sekolah, dan mengobrol banyak hal. Rasanya hangat sekali bisa berinteraksi langsung dengan mereka.
Kami juga berkesempatan
mengunjungi beberapa tempat ikonik di Taiwan. Salah satunya adalah National
Museum of Natural Science di Taichung. Tempatnya interaktif dan penuh
informasi. Aku merasa seperti anak kecil yang takjub melihat segala hal baru.
Setelah itu, kami melanjutkan petualangan ke Yi Zhong Night Market. Ini
pengalaman pertamaku mengunjungi pasar malam di Taiwan. Lampu warna-warni,
aroma makanan, dan hiruk-pikuk pengunjung menciptakan suasana yang hidup. Aku
mencoba berbagai makanan, dari ayam goreng yang renyah, thai tea yang segar,
hingga bola-bola kentang panas yang kenyal. Tapi yang paling aku suka adalah
tanghulu, stroberi segar yang dilapisi gula karamel, ditusuk seperti sate.
Rasanya manis, renyah, dan menyegarkan. Setiap gigitan seperti membawa rasa
penasaran yang baru.
Perjalanan kami berlanjut ke
Sun Moon Lake, danau terbesar di Taiwan yang dikelilingi pegunungan hijau dan
udara yang sejuk. Di sana, aku duduk di bawah gazebo, menikmati angin dan suara
alam yang tenang. Rasanya cocok sekali untuk merenung. Di tengah pemandangan
yang menenangkan itu, aku teringat perjalanan yang sudah aku lalui bagaimana
awalnya aku tidak biasa dan sempat ragu, lalu perlahan-lahan bisa menikmati
semua prosesnya. Aku juga menyempatkan membeli oleh-oleh, dari gantungan kunci
lucu hingga magnet kulkas bertuliskan Taiwan yang unik untuk orang-orang
tersayang di Indonesia.
Kini, saat pesawat mengudara
membawaku kembali ke Indonesia, aku tidak hanya membawa koper penuh oleh-oleh,
tapi juga kenangan yang penuh cerita dan pelajaran hidup. Dari belajar menyapa
dalam bahasa baru, merasakan makanan asing, menjalin persahabatan, hingga
memahami nilai-nilai lokal yang berbeda tapi bermakna. Aku merasa pulang dengan
versi diriku yang lebih terbuka, lebih mandiri, dan lebih bijak.
Program Summer Camp di Da-Yeh
University bukan cuma soal "melangkah jauh" secara fisik ke negara
lain. Lebih dari itu, program ini membawaku berjalan jauh dalam proses
pendewasaan. Aku belajar bahwa “rumah” tidak selalu soal tempat, tapi tentang
rasa. Rasa nyaman bersama teman-teman, rasa bangga ketika bisa mengatasi
tantangan, dan rasa syukur atas momen-momen kecil yang membentuk cerita besar
dalam hidupku.
Taiwan kini bukan lagi sekadar
nama di peta atau cap di paspor. Taiwan sudah menjadi bagian dari perjalanan
hidupku. Dan aku tahu, kenangan ini akan selalu aku bawa ke mana pun aku melangkah
selanjutnya."
Juni 20, 2025
Antara nurani dan geopolitik
Tagar #alleyesondeck dan #globalmarchtogaza akhir-akhir ini rame. Makin banyak warga dunia yang terang2an menunjukkan kepeduliannya pada blokade bantuan kemanusiaan untuk rakyat Gaza. Tapi muncul juga pertanyaan, mengapa Mesir sangat sulit membuka perbatasan Gaza (tepatnya di wilayah Sinai)? Kita coba riset kecil2an agar gak terseret narasinya pihak pendukung "sirewel" sang penjajah. Agar paham kenapa Mesir tidak bisa sembarangan membuka perbatasan itu. Tentu bukan karena Mesir tidak peduli dengan Gaza.
Banyak hal ternyata yang bikin Mesir dilema, berdiri diantara hati nurani dan realitas politik. Secara hukum, secara geopolitik, dan secara keamanan dalam negeri. Ada yang namanya Perjanjian Camp David, sejak tahun 1978. Itu perjanjian damai antara Mesir dan sirewel. Salah satu poinnya, Mesir tidak boleh sembarangan menaruh kekuatan militer di perbatasan Gaza, terutama di jalur sempit yang namanya Koridor Philadelphi. Itu wilayah sensitif, cuma 14 km panjangnya, tapi jadi titik rawan yang harus dijaga ketat. Kalau Mesir tiba-tiba membuka perbatasan tanpa koordinasi internasional, bisa dianggap pelanggaran serius.
Lalu ada kekuatiran lain yang tak kalah besar, yaitu soal eksodus. Banyak analis termasuk dari New York Times dan Reuters bilang bahwa siriwil “punya misi” memaksa warga Gaza keluar dari tanah airnya lewat Rafah. Dipindahkan ke Sinai, “diusir perlahan”. Dan itu kalau dibiarkan, sama saja dengan membiarkan penjajahan pindah bentuk jadi pengusiran massal, dan Mesir jelas menolak itu (desain gambar dibantu AI untuk edukasi kemanusiaan - ilustrasi peta bukan bermaksud mengakui eksistensi siriwil).
Kita juga harus ingat, Mesir punya masalah
dalam negerinya sendiri. Wilayah Sinai, yang jadi perbatasan itu, bukan wilayah
damai. Sudah lama jadi medan konflik dengan kelompok-kelompok bersenjata.
Pemerintah mereka khawatir, kalau Rafah dibuka bebas, bukan cuma pengungsi yang
masuk, tapi juga potensi infiltrasi militer, senjata, bahkan kekacauan baru.
Apakah Mesir tidak bisa berbuat lebih? Mungkin bisa. Tapi mereka juga sedang menghadapi tekanan dari dua sisi: dari luar karena dianggap terlalu pasif. dan dari dalam karena harus menjaga stabilitas negeri mereka sendiri. Sebuah tulisan dari Brookings Institution menyebut Mesir menghadapi "jebakan geopolitik" dari potensi eksodus massal warga Gaza ke Sinai, yang dapat mengubah krisis kemanusiaan menjadi beban keamanan dan stabilitas domestik bagi Mesir (selengkapnya di sini https://carnegieendowment.org/research/2025/03/ending-the-new-wars-of-attrition-opportunities-for-collective-regional-security-in-the-middle-east?lang=en&utm_source=chatgpt.com.)
Rafah sebenarnya tidak sepenuhnya ditutup. Sejak akhir tahun lalu, ribuan pasien luka dari Gaza sudah berhasil masuk ke Mesir untuk dirawat. Ratusan truk bantuan juga dikirimkan, meski jauh dari cukup, dan harus melalui proses yang rumit. Selain itu, banyak negara termasuk di kawasan Timur Tengah (Arab Saudi, Qatar, UEA, dll) memberikan bantuan dalam “diam” untuk alasan keamanan distribusi, pertimbangan diplomatik, motivasi keikhlasan.
As we know, mayoritas media mainstream Barat gak banyak memberi panggung untuk bantuan kemanusiaan dari negara2 Arab, karena gak sesuai dengan agenda mereka. Narasi yang berkembang sering tidak obyektif. Kita seperti digiring untuk menyudutkan negara2 Arab termasuk Mesir. Seolah2 Mesir jadi penghalang utama masuknya bantuan kemanusiaan. Semua itu untuk mengalihkan fokus dunia dari isu utama, dan menjerumuskan kita ke dalam narasi pecah belah. Padahal jelas terang benderang, yang memblokade Gaza sejak lama itu ya isriwil. Yang mengontrol udara, laut, dan sebagian besar darat ya siriwil itu. Yang menggempur rumah-rumah warga sipil, ya sirewel itu.
Rasanya gak habis pikir melihat kebiadaban sirewel, seperti dalam sebuah video, tentara sirewel merekam momen2 saat menggempur rumah warga sipil sambil selfie cengar cengir .. subhanallahu.. Simak aksi bejatnya disini https://youtube.com/shorts/0SW_UhTRExg?si=Eo0Z52A-5HfImIE6 Berharap ICC (Mahkamah Pidana Internasional) bisa mengadili mereka, walau mungkin gak berharap banyak putusan akan diberikan seadil2nya bagi siriwil. Hanya Allah sebaik2 pemberi balasan.
Semoga kita tetap peduli sampai tuntas perjuangan rakyat Palestina. Sekecil apapun dukungan kita, semoga kelak menjadi hujjah di hadapan-Nya.. aamiiin.
#keepwritingkeepkind

















