September 16, 2026

My Family Umrah Journey

Alhamdulillah... akhirnya Allah kabulkan doa kami bisa umroh bersama keluarga. Rabu 2 September lalu kami berangkat ke Tanah Suci transit Abu Dhabi dengan maskapai Etihad. Ini first umrah kami sekeluarga, jadi tentu rasanya campur aduk. Seneng, excited, haru, tapi juga deg-degan karena benar-benar belum punya pengalaman. Sudah banyak baca, banyak tanya, browsing ini-itu, tapi tetap saja namanya pengalaman pertama pasti ada rasa, "Nanti di sana gimana ya?". Dan ternyata perjalanan umroh itu gak dimulai saat pesawat take off. Jauh sebelumnya, perjalanan sudah dimulai dari berbagai ikhtiar: riset kecil-kecilan untuk memilih travel, belajar manasik, menyiapkan fisik, sampai urusan packing dengan segala printilannya. Sekarang setelah semuanya selesai dan kami sudah kembali ke rumah, rasanya sayang kalau cerita ini hanya tersimpan di galeri HP. Selain untuk menyimpan kenangan, berharap bisa berbagi hal-hal kecil yang bermanfaat buat teman-teman yang juga sedang bersiap menjalani first umrah seperti kami.

Salah satu pe-er pertama tentu saja: pilih travel yang mana? Pilihan travel umroh sekarang banyak banget. Paketnya macam-macam, fasilitasnya kelihatannya mirip2, harga juga bervariasi. Apalagi kami berangkat sekeluarga, jadi faktor biaya tentu ikut diperhitungkan. Tapi sejak awal concern kami bukan sekadar cari yang terjangkau. Kami ingin travel yang amanah, pembimbingan ibadahnya baik dan sesuai sunnah, handling jamaahnya proper, hotel dekat masjid, itinerary jelas, dan tentu saja harganya masih reasonable.

Mulailah riset kecil-kecilan. Baca paket, bandingkan fasilitas. Cari tahu lokasi hotel. Tanya-tanya pengalaman yang sudah pernah berangkat. Lihat bagaimana manasiknya dan bagaimana pendampingan jamaah selama di Tanah Suci. Setelah menimbang ini itu, akhirnya bismillah kami memilih Hamdan Tour. Alhamdulillah setelah menjalani sendiri seluruh rangkaiannya, dari sebelum berangkat, selama di Tanah Suci, sampai kembali ke Indonesia, pilihan kami sesuai harapan dan sesuai promosinya (umrah sesuai sunnah dan sesuai akad @hamdantour). 
Salah satu yang paling berkesan adalah handling dan service-nya, juga bimbingan umrohnya yang sesuai sunnah. Sejak sebelum keberangkatan, urusan barang dan berbagai kebutuhan jamaah ditangani dengan proper. Selama perjalanan pun tim selalu sigap membantu. Hal2 yang mungkin kalau dilihat sederhana, tapi buat jamaah first timer seperti kami ternyata sangat berarti. Ada rasa tenang karena kalau bingung ada tempat bertanya, kalau ada masalah ada yang membantu. Kami pun bisa lebih fokus menjalani perjalanan sekaligus beribadah. Mereka benar-benar melayani jamaah dengan sepenuh hati, before, during, and even after the journey. 

Setelah travel beres, masuk ke tahap berikutnya: packing baju barang2 dan printilan yang rasanya gak habis-habis. Mana yg bisa masuk kabin dan mana yg hrs masuk koper bagasi. Packing umroh punya tantangan tersendiri, apalagi sebagai pemula seperti kami, rasanya semua perlu dibawa. Masukin barang2 ke koper. Browsing lagi, "barang yang wajib dibawa saat umroh". Nemu rekomendasi baru, masukin lagi. Merasa kebanyakan, keluarin sebagian. Besoknya mikir, "Kayaknya ini penting deh..." masukin lagi, repeat ;)

Ada mukena, sajadah tipis, sandal, tas sandal, obat-obatan, toiletries, pelembap, masker, kaos kaki, kantong ini-itu, charger, adaptor, powerbank, spray kecil (untuk wudhu kondisi darurat dan penyegar muka), botol minum dan berbagai printilan yang di rumah kelihatannya sepele tapi di perjalanan ternyata berguna. Setelah mengalami sendiri, menurutku prinsip packing umroh sebaiknya bukan "kira2 apa yang mungkin dibutuhkan?", karena kalau pakai prinsip itu satu rumah rasanya ingin dimasukkan koper. Lebih tepatnya: "Apa yang kemungkinan besar benar-benar akan dipakai?" Apalagi jangan lupa masih ada agenda beli oleh-oleh. Sisakan ruang koper. Trust me..

Manasik via Zoom dan pemantapan di bandara. Sebelum keberangkatan kami mengikuti manasik via Zoom. Buat kami yang baru pertama kali umroh, sesi ini penting banget. Walaupun sebelumnya sudah diberikan buku saku panduan umroh, tetap berbeda ketika rangkaian ibadah dijelaskan secara runtut oleh pembimbing/ muthawwif. Apa yang dilakukan, urutannya bagaimana, apa yang perlu diperhatikan, sampai berbagai hal kecil yang sebelumnya mungkin gak terpikir. Sebelum berangkat, saat jamaah sudah berkumpul di bandara, tim Hamdan Tour memberikan pemantapan lagi. Jazaakallahu khair, Ustadz Azka, yang sangat soft-spoken dan sabar membimbing kami. Semacam final briefing sebelum benar-benar terbang. Ini menurutku penting, karena materi yang rasanya sudah paham saat duduk santai di rumah bisa mendadak agak buyar begitu sudah di bandara.

Koper di mana-mana, dokumen harus dijaga, anggota keluarga mesti dipastikan lengkap, sementara pikiran sudah melayang membayangkan Madinah dan Mekkah. Bagusnya lagi, selama di Tanah Suci paspor kami disimpan oleh tim Hamdan Tour untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kami hanya diwanti-wanti untuk selalu memakai nametag siskopatuh yang sudah disiapkan pihak travel sejak keberangkatan. Ustadz Haikal dan tim Hamdan di Saudi sangat memperhatikan detail-detail seperti ini. Terima kasih, jazaakumullahu khair. Di sinilah proper handling dari travel mulai benar-benar terasa. Bus yang kami pakai selama di Saudi pun terasa nyaman.

Sampai di Madinah rasanya sulit dijelaskan. Madinah... suasananya terasa tenang dan damai. Hotel kami alhamdulillah sangat strategis dan dekat dengan Masjid Nabawi. Setelah mengalami sendiri, baru terasa bahwa lokasi hotel ini penting banget. Waktu lihat brosur travel, jarak beberapa ratus meter mungkin terasa "ah, deket itu." Coba jalani beberapa kali sehari. Pergi ke masjid, balik hotel, pergi lagi. Belum lagi kalau badan capek atau sedang kurang fit. Jadi buat teman-teman yang sedang memilih paket umroh, saranku jangan cuma lihat bintang hotel atau foto kamarnya. Cek juga lokasinya di maps dan akses menuju masjid. Hotel yang dekat masjid itu benar-benar privilege. 
Hari2 di Madinah kemudian berjalan dengan ritme sederhana: masjid - hotel - sedikit jalan2 di sekitar masjid Nabawi - istirahat - ke masjid lagi. Madinah sungguh tenang dan damai. Takjub dengan kecanggihan teknologi payungnya. Duduk diam sehabis sholat di bawah payung sambil menikmati sunset dan segerombolan merpati mematuk biji2an yg ditebar jamaah, sungguh mengesankan di sela2 suasana itu payung-payung raksasa yang megah menguncup bersamaan hanya dlm hitungan menit. Di Madinah, aku bersama ibuibu rombongan yang gak dapat jadwal ke Raudah, dibantu Ummu Hasby (owner Hamdan Tour) bisa masuk ke sisi terdekat Raudah, sehingga kami tetap bisa merasakan feel-nya Raudah dari area terdekat. Jazaakillahu khoir Ummu Hasby. Untuk jadwal Raudah, masing-masing jamaah perlu mengusahakan sendiri melalui aplikasi Nusuk, bukan lagi di-handle oleh travel. 

City tour Madinah: ternyata bukan sekadar jalan-jalan. Agenda city tour di Madinah membawa kami ke Masjid Quba, Jabal Uhud dan kebun kurma.Yang membuatnya menarik bukan sekadar datang, foto, lalu pindah ke destinasi berikutnya. Sepanjang perjalanan pembimbing menceritakan sirah Nabawiyah yang berkaitan dengan tempat-tempat yang kami lihat. Ini yang aku suka. Tempat yang tadinya hanya sebuah nama mendadak punya cerita. Jabal Uhud misalnya. Ustadz Azka nyritain detil bagaimana peristiwa penting pernah terjadi di gunung itu. Selama ini tentu sudah sering mendengar kisah Perang Uhud. Tapi berdiri dan melihat sendiri kawasan tersebut sambil mendengar kembali kisah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat rasanya beda. Sejarah seperti berubah dari teks menjadi landscape yang nyata.

Shahih Muslim 2467: Telah menceritakan kepada kami [Ubaidullah bin Mu'adz] telah menceritakan kepada kami [bapakku] telah menceritakan kepada kami [Qurrah bin Khalid] dari [Qatadah] telah menceritakan kepada kami [Anas bin Malik] ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Uhud adalah bukit yang mencintai kita dan kita pun mencintainya”. Begitu juga Masjid Quba.  “Siapa yang bersuci di rumahnya, lalu ia mendatangi masjid Quba’, lantas ia melaksanakan shalat di dalamnya, maka pahalanya seperti pahala umrah.” (HR. Ibnu Majah, no. 1412, An-Nasai, no. 700. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Ada cerita, perjuangan dan perjalanan panjang di balik tempat-tempat yang sekarang bisa kami datangi dengan kendaraan nyaman. Kami sempat mampir juga ke kebun kurma, lihat2 dan sedikit berbelanja. 

Dari Madinah kami bertolak ke Mekah, dengan mengambil miqot di Bir Ali sambil terus ber-talbiyah "Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal-hamda wan-ni’mata laka wal-mulk, la syarika lak" sepanjang perjalanan. Kalau Madinah memberi rasa tenang, Mekkah punya rasa yang berbeda. Terutama ketika pertama kali masuk Masjidil Haram dan melihat Ka'bah.  MasyaaAllah.... Ka'bah yang seumur hidup menjadi arah sholat kita, yang selama ini hanya kulihat dari foto, video, atau siaran televisi, sekarang benar-benar ada di depan mata. Sulit menjelaskan rasanya. Ada haru, syukur, rasa kecil bak debu sebagai manusia, sekaligus banyak sekali doa yang ingin dilangitkan. Kami juga takjub dengan kemegahan masjidil Haram, termasuk waqaf keluarga kerajaan untuk perluasan masjid, dan kecanggihan teknologi sound system nya yg begitu presisi shg semua jamaah dari segala penjuru masjidil Haram dpt mendengar seruan adzan iqomah dan suata sang Imam tanpa delay.. masyaaAllah tabarokallahu.

Salah satu hal yang sangat kusyukuri adalah kami mendapat bimbingan umroh sesuai sunnah. Buat first timer, pembimbing yang benar-benar mengarahkan ibadah jamaah sesuai sunnah yaitu dengan mencontoh apa yang sudah dilakukan Rasulullah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sangat membantu. Karena teori yang sudah dipelajari bisa terasa berbeda ketika dipraktikkan di tengah ribuan manusia, dalam kondisi badan yang mulai lelah dan suasana yang sangat ramai. Jazaakumullahu khoir Ustadz Azka dan tim Hamdan Tour.

Mekkah - Madinah: baru sadar sejauh apa perjalanan hijrah baginda Rasul dan para sahabat. Selama ini kita sering mendengar kisah hijrah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari Mekkah menuju Madinah bersama para sahabat. Cerita itu begitu familiar. Tapi setelah benar-benar berada di sana, melihat kondisi geografisnya dan menempuh sendiri perjalanan antara dua kota itu, aku baru tersadar. Ternyata sejauh itu. Kami menjalaninya dengan kendaraan nyaman. Duduk manis di bus yang nyaman ber-AC. Jalanannya mulus. Banyak bekal makanan dan minuman. Tapi perjalanan tetap terasa panjang. Lalu membayangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat menempuh perjalanan hijrah di masa itu. Benar2 gak kebayang. Bentangan padang pasir yang tandus. Cuaca yang terik dan kering. Belum ada jalan raya seperti sekarang. Gak ada kendaraan ber-AC, rest area, minuman dingin dan segala kenyamanan perjalanan modern. Dan hijrah tentu bukan perjalanan wisata. Ada perjuangan, ancaman, pengorbanan, meninggalkan kampung halaman dan segala yang dimiliki demi mempertahankan keimanan. Di situ rasanya kisah hijrah yang selama ini dibaca di buku mendadak punya dimensi yang berbeda. Jaraknya nyata. Teriknya nyata. Tandusnya tanah yang dilalui juga nyata. 

Dan perjuangan Beliau tentu jauh lebih berat daripada yang sanggup kita bayangkan hari ini. Kadang memang harus melihat sendiri tempatnya supaya cerita yang sudah berkali2 kita dengar terasa hidup. Kami hanya mencicipi sedikit sekali gambaran medannya, itu pun dengan segala kenyamanan zaman sekarang. Justru dari kenyamanan itu muncul rasa malu sekaligus syukur. Beliau dan para sahabat menempuh perjalanan sejauh itu untuk menjaga dan memperjuangkan agama ini. Sementara kita hari ini menerima Islam dalam keadaan semuanya sudah begitu dimudahkan. MasyaaAllah tabarokallahu..

City tour Mekkah: sirah yang berubah menjadi landscape nyata. City tour Mekkah membawa kami melihat Jabal Tsur, Jabal Rahmah, dan rangkaian Armuzna (Arafah - Muzdalifah - Mina: tiga situs utama dan puncak dari ibadah haji). Nama2 ini tentu sudah sangat familiar. Setiap musim haji kita mendengarnya. Tapi ternyata melihat sendiri tempatnya memberikan perspektif yang berbeda. Potongan-potongan cerita yang sebelumnya hanya ada di kepala seperti tersambung satu per satu. Begitu pula ketika melihat Jabal Tsur dan mendengar kembali kisah perjalanan hijrah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Di situ aku makin merasa bahwa city tour sebenarnya bukan sekadar bonus jalan-jalan dalam itinerary umroh. Ini seperti kelas sirah di alam terbuka. Belajar sejarah sambil melihat langsung geografis tempat peristiwa itu pernah terjadi. Dan storytelling dari pembimbing membuat semuanya terasa jauh lebih hidup. Foto di samping berlokasi di Jabal Rahmah saat city tour Mekah bersama jamaah paling sepuh di rombongan kami, mbah kung dan mbah uti yg berusia sekitar 80 tahun, tapi masih sehat dan tak pernah sekalipun kulihat beliau berdua pakai kursi roda, baik saat tawaf, sa'i maupun di keseharian selama di dua tanah suci. MasyaaAllah..  sehat2 ya mbah.

Salah satu destinasi yang juga sangat berkesan adalah Museum Wahyu di kawasan Gua Hira. Kisah turunnya wahyu pertama tentu sudah kita dengar sejak kecil. Iqra'. Tapi lagi-lagi, berada di kawasan tempat sejarah besar itu bermula memberikan rasa yang berbeda. Museum membantu kita memahami kisah turunnya wahyu dan perjalanan kenabian dengan penyajian yang lebih visual. Buatku ini menarik karena informasi sejarah yang selama ini hanya berupa teks menjadi lebih mudah dibayangkan. Tapi di tengah suasana serius belajar sejarah, selalu ada cerita receh - di area souvenir kami bertemu penjual yang cukup fasih berbahasa Indonesia disertai sedikit banyolan untuk promosiin jualannya, auto ketawa. 

Hal lain yang cukup berkesan adalah mencari tempat sholat yang nyaman di masjidil Haram. Sebagai first timer, Masjidil Haram awalnya lumayan bikin bingung. Luas. Pintunya banyak. Lantainya banyak. Eskalator di mana-mana. Jamaah datang dari berbagai arah. Bersyukur pembimbing kami di awal2 masuk masjidil Haram sudah ngasih banyak informasi dan petunjuk yang mudah diikuti untuk pp hotel – masjid. Sehingga kami merasa tenang dan aman saat beribadah mandiri setelah prosesi umroh. 

Tawaf wada' dan rasa berat untuk pergi. Salah satu momen yang paling membekas buatku adalah tawaf wada' (tawaf perpisahan). Alhamdulillah aku dan si bungsu bisa tawaf wada’ persis di pelataran Ka’bah, sekaligus dapat rejeki bisa menyentuh Ka’bah dan melihat langsung maqom Nabi Ibrahim - sebuah batu tempat Nabi Ibrahim berpijak saat membangun kembali Ka'bah (bekas dua tapak kaki Nabi Ibrahim tersebut kira-kira berukuran panjang sekitar 27 cm, lebar 14 cm, dan kedalaman 10 cm). Dan setelah putaran terakhir tawaf wada' selesai, rasanya ada sesuatu yang berat. Entah kapan bisa berdiri di tempat itu lagi.Entah kapan bisa melihat Ka'bah lagi. Ada satu doa yang rasanya spontan muncul: "Ya Allah... jangan jadikan ini kunjungan terakhir kami." 

Demam, batuk, dan obat mahal. Namanya perjalanan tentu gak semuanya mulus. Di Mekkah aku sempat demam dan batuk. Mungkin kombinasi aktivitas yang padat, perubahan cuaca, kurang istirahat, dan bertemu jamaah dari berbagai penjuru dunia. Akhirnya beli obat di apotek sebelah hotel kami di area Ajyad yg harganya lumayan mehong. Di situlah baru kepikiran: kenapa bisa lupa gak bawa obat batuk ya? Obat demam, flu, sakit tenggorokan, lambung, diare, oralit, vitamin, plester dan obat rutin pribadi untungnya bawa. Selain mereknya belum tentu familiar, pengalaman beli obat di area dekat hotel kami di Mekkah bikin sadar bahwa obat dari rumah jauh lebih economical.

Bin Dawood to the rescue, baik di Madinah maupun Mekah, supermarket ini yg sering kami kunjungi. Untuk urusan kebutuhan sehari2 dan sebagian oleh-oleh, lokasinya yg cukup dekat dengan masjid - lumayan jadi penyelamat. Butuh gunting, cemilan, buah tambahan, toiletries atau tiba2 sadar ada barang yang lupa dibawa? Bin Dawood. Mau cari kurma, cokelat atau oleh-oleh khas Arab? Bin Dawood lagi ;) Enaknya harga sudah jelas dan kita bisa santai pilih2 sendiri. Satu tips dariku: jangan kalap belanja perlengkapan atau oleh-oleh terlalu awal. Buat list dulu: mau beli apa dan untuk siapa. Lebih baik sebagian besar oleh2 beli di tanah air saja (rekomenku belanja di toko Nabawi - cukup lengkap pilihan paket umroh gift-nya dengan harga yg terjangkau).

Karena kalau setiap lihat sesuatu berpikir, "kayaknya bagus buat oleh-oleh", lama2 masalahnya bukan lagi berapa riyal yang keluar. Tapi gimana caranya nutup koper dan menjaga agar tidak kelebihan bagasi. Oya perlu juga bawa timbangan digital, selain itu jerigen portabel untuk ambil air zam2 di masjid buat persediaan di kamar hotel, timba portabel dan hanger lipat untuk sedikit nyuci pakaian dalam. Baju2 lbh baik baik di-laundry saja. Selama seminggu di Mekkah kami 3x nge-laundry ke sebuah binatu kecil di dalam Mall Mira di area Ajyad, cuci kering tanpa setrika10 SAR per kilonya.

Beberapa catatan kecil buat sesama first timer. Setelah mengalami sendiri, ada beberapa hal sederhana yang ternyata cukup penting. Persiapkan fisik sebelum berangkat. Biasakan jalan kaki beberapa minggu sebelumnya. Walaupun hotel dekat masjid, total langkah dalam sehari tetap bisa lumayan. Pakai sandal dan gamis yang benar-benar nyaman. Fashion urusan belakangan. Bawa tas sandal dan biasakan sandal langsung dimasukkan ke tas saat memasuki masjid. Tentukan meeting point yang jelas kalau pergi bersama keluarga. Bawa obat yang biasa cocok dengan tubuh kita. Rajin minum.Jangan abaikan istirahat. Dan sisakan space di koper sejak dari Indonesia.

Nasehat diri: upayakan jgn terlalu sibuk mendokumentasikan semuanya. Foto penting.Video juga menyenangkan buat kenangan.Tapi ada momen2 yang rasanya lebih baik dinikmati tanpa layar HP di depan mata.Biarkan mata melihat.Biarkan hati menyimpan.Ternyata yang paling berkesan bukan hanya Ka'bah. Kalau ditanya bagian mana yang paling berkesan dari perjalanan ini, rasanya susah memilih. Pertama kali melihat Ka'bah? Masjid Nabawi? Tawaf? Perjalanan Mekkah–Madinah? City tour dan mendengarkan sirah? Atau kejadian-kejadian kecil selama perjalanan? Jor2an sedekah makanan minuman dari warga lokal dan jamaah yang banyak kami temui saat umroh juga sungguh berkesan.
Semuanya punya cerita.Tapi satu yang paling kusyukuri: Allah memberi kesempatan menjalani perjalanan ini bersama keluarga. Pergi bersama. Ibadah bersama. Capek bersama. Saling tunggu. Saling ingatkan. Hal-hal yang kelihatannya sederhana, tapi ternyata menjadi bagian paling personal dari perjalanan ini.

Dan tentu perjalanan kami menjadi jauh lebih ringan karena banyak orang yang membantu. Tim Hamdan Tour, pembimbing, muthawwif dan semua yang mendampingi sejak sebelum keberangkatan, selama di Tanah Suci sampai kami kembali pulang. Ada banyak pekerjaan mereka yang mungkin gak terlihat: handling koper, koordinasi kendaraan dan kamar, mengarahkan rombongan, memastikan jamaah lengkap, menjawab pertanyaan, membantu ketika ada kebutuhan, dan mungkin menyelesaikan berbagai drama di belakang layar yang jamaah bahkan gak tahu. Sekarang aku paham bahwa proper handling dalam perjalanan seperti ini bukan hal kecil. Ketika kita berada ribuan kilometer dari rumah, ada orang yang siap membantu itu memberikan rasa aman yang luar biasa. Jazakumullahu khoiran katsira tim Hamdan Tour dan semua yang sudah membantu perjalanan kami.

Dan akhirnya pulang. Refleksi diri.. apa yang kita bawa pulang? Apakah sholat menjadi lebih dijaga? Apakah lebih mudah mengingat Allah? Apakah lebih sabar? Apakah setelah melihat langsung tempat-tempat perjuangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat, kita menjadi lebih menghargai nikmat iman yang hari ini kita terima dengan begitu mudah? Perjalanan ini juga mengingatkanku bahwa hidup sebenarnya punya pola yang   sebuah perjalanan. Kita sibuk menyiapkan bekal. Memilih apa yang perlu dibawa dan apa yang sebaiknya ditinggalkan. Berangkat ketika waktunya tiba. Kalau untuk perjalanan beberapa hari ke Tanah Suci saja persiapannya bisa berbulan-bulan, packing-nya dipikirkan begitu detail, bekalnya dihitung, itinerary dipelajari, fisik disiapkan. Lalu sudah seberapa serius kita mempersiapkan perjalanan pulang yang sebenarnya? Perjalanan kembali kepada-Nya.

Alhamdulillah untuk perjalanan yang luar biasa ini. Terimakasih Ya Robb untuk kesehatan, rejeki dan kesempatan. Untuk setiap kemudahan, untuk orang-orang baik yang Engkau kirimkan sepanjang perjalanan. Untuk rasa lelah, sakit, haru, tawa, pengalaman baru, bahkan drama-drama yang sekarang berubah menjadi cerita. Alhamdulillah wa syukurilah.. Engkau mampukan kami datang memenuhi panggilanMu bersama keluarga. Semua murni karena pertolonganMu Ya Robb, Engkau berikan kelancaran saat berangkat - saat transit - saat prosesi umroh - saat kepulangan pesawat kami dapat mendarat di Bandara Soetta sesuai jadwal (setelah sebelumnya ditutup dampak abu vulkanik letusan G.Krakatau).

Dan ada satu doa yang sampai sekarang rasanya masih ingin terus diulang. Ya Allah.. terimalah amal ibadah umroh kami, jangan jadikan ini kunjungan terakhir kami. Undang kami kembali ke tanah suci untuk haji plus bersama suami dan umroh lagi bersama orang2 yang kami sayangi. Dalam keadaan lebih sehat, lebih siap, lebih berilmu, dengan iman dan hati yang jauh lebih baik. Semoga Allah selalu jaga dua tanah suci di Saudi dan Aqsa di Palestina.. aamiiin ya Rabbal 'aalamiin. 

Our first umrah journey. First.. insyaaAllah not the last.. aamiiin.

Juli 07, 2026

Merancang Evaluasi Project Based Learning

Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman pribadi dalam proses mencari cara agar mahasiswa yang benar2 belajar, bisa mendapatkan penghargaan yang layak, selamat membaca😇

Memberikan tugas proyek pada mata kuliah pemrograman sebenarnya bukan hal baru. Setiap dosen yang mengajar mata kuliah sejenis pasti pernah melakukannya. Mahasiswa dibentuk menjadi beberapa kelompok, kemudian diminta merancang dan membangun sebuah program sebagai implementasi dari materi yang telah dipelajari selama satu semester. Dengan harapan mahasiswa tidak hanya belajar sintaks bahasa pemrograman, tetapi juga belajar team work, berdiskusi, membagi tugas, mengelola waktu, menyelesaikan masalah, dan bekerja sama. Persis seperti yang kelak akan mereka hadapi ketika memasuki dunia industri. Berharap mahasiswa dapat semuanya : hard skills + soft skills. 

Seperti pada beberapa mata kuliah pemrograman yang kuampu juga menerapkan pembelajaran berbasis proyek (PBL). Misal pada mata kuliah ASD, mahasiswa diminta mengembangkan program sederhana berbasis menu menggunakan struktur data yang telah dipelajari. Sedangkan pada mata kuliah PBO, mahasiswa mengembangkan aplikasi untuk sebuah studi kasus yang sama, tetapi menggunakan teknologi Java yang berbeda2 (berbasis web, desktop dan mobile).

Agar suasana proyek mendekati kondisi nyata di dunia kerja, pembagian tugas juga diserahkan kepada masing2 kelompok. Ada yang bertanggung jawab mengembangkan antarmuka, logika program, menyusun dokumentasi, melakukan pengujian, dan ada yang mengintegrasikan seluruh pekerjaan menjadi sebuah aplikasi yang utuh. Awalnya, perhatian lebih banyak tertuju pada bagaimana merancang proyek yang sesuai dengan capaian pembelajaran. Studi kasus harus cukup menantang, tetapi tetap dapat diselesaikan dalam satu semester. Tingkat kesulitan juga harus seimbang sehingga semua materi pokok tetap dapat diterapkan di dalam proyek.

Namun semakin sering menggunakan pendekatan ini, muncul satu pertanyaan yang ternyata lebih sulit dijawab. Bagaimana memastikan setiap mahasiswa benar2 belajar dan berkontribusi terhadap kelompoknya. Bukan sekadar namanya tercantum dalam laporan, tetapi juga memahami proyek yang sedang dikerjakan, mengetahui alasan mengapa sebuah solusi dipilih, serta mampu menjelaskan bagian yang menjadi tanggung jawabnya. Ini memang menjadi tantangan terbesar dalam PBL, bukan terletak pada bagaimana merancang proyeknya, tetapi bagaimana dapat menilai semua proses dengan cukup fair. Hal ini kemudian membawa pada serangkaian perubahan yang tidak direncanakan sebelumnya. Mulai dari cara memonitor perkembangan proyek, cara mengevaluasi kontribusi setiap anggota kelompok, hingga akhirnya mengubah mekanisme penilaian akhir yang semula dirancang melalui demo hasil proyek di lab komputer.

Ketika Tantangan Terbesar Bukan Lagi Coding.

Selama beberapa minggu pertama, semuanya berjalan seperti yang direncanakan. Setiap kelompok mulai berdiskusi menentukan rancangan program, membagi tugas sesuai kemampuan masing-masing, kemudian mulai mengembangkan proyeknya sedikit demi sedikit. Konsultasi rutin dilakukan di sela-sela perkuliahan. Ada kelompok yang progresnya cukup cepat, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama karena masih menyesuaikan diri dengan materi yang baru dipelajari. Namun di tengah jalan, dinamika mulai berubah. Diskusi yang semula banyak membahas algoritma, struktur data, atau implementasi class dan object, perlahan bergeser menjadi persoalan yang sama sekali berbeda. Bukan lagi tentang bagaimana membuat program berjalan. Tetapi tentang bagaimana membuat tim tetap berjalan.

Mulailah muncul cerita2 yang mungkin juga pernah dialami oleh banyak rekan dosen. Ada anggota yang aktif berdiskusi mencari referensi atau solusi, ada yang rajin memperbaiki error ketika teman2nya sudah beristirahat. Ada pula yang "rela" mengambil alih pekerjaan anggota lain agar proyek tetap selesai sesuai jadwal. Sebaliknya, ada juga anggota yang sulit dihubungi. Ada yang baru merespons ketika batas waktu sudah semakin dekat. Bahkan ada yang baru mulai mengerjakan bagiannya setelah mengetahui bahwa akan ada penilaian individu. 

Menariknya, persoalan yang mereka sampaikan hampir tidak pernah berkaitan dengan printilan seputar teknis pemrograman. Apalagi mereka diperbolehkan untuk memanfaatkan tools yg ada tentu dgn syarat melampirkan proses dan riwayat pemakaiannya di dlm laporan. Persoalannya justru banyak berkaitan dengan komunikasi, komitmen, dan tanggung jawab dalam bekerja sebagai sebuah tim. Sebagai contoh, ada mahasiswa yg mengeluhkan, salah satu anggota kurang kooperatif. Sudah ada pembagian tugas yang disepakati bersama kelompok. Sebagian sudah dikerjakan dan masih perlu banyak revisi. Tetapi revisi tidak diselesaikan hingga mendekati batas waktu. Akhirnya anggota lain yg membereskan revisi tsb. Saat mendengar keluhan itu dan lainnya, perhatian bukan lagi tertuju pada siapa yang salah atau siapa yang benar. 

Kalau akhirnya sebagian besar pekerjaan diselesaikan oleh satu atau dua orang, apakah adil jika seluruh anggota memperoleh penilaian yang sama? Di satu sisi, proyek memang dirancang sebagai tugas kelompok. Keberhasilan sebuah proyek tentu merupakan hasil kerja bersama. Di sisi lain, proses belajar tetap terjadi pada masing2 individu. Sangat mungkin dalam satu kelompok terdapat mahasiswa yang benar2 memahami program karena ikut terlibat sejak awal. Sebaliknya, ada pula yang hanya mengetahui hasil akhirnya tanpa memahami bagaimana proses atau alur program berjalan. 

Kalau hanya melihat aplikasi yang berhasil dibuat, keduanya akan tampak sama. Kalau hanya melihat laporan kelompok, perbedaannya juga belum tentu terlihat. Padahal tujuan pembelajaran bukan sekadar menghasilkan sebuah aplikasi yang berjalan dengan baik. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap mahasiswa benar-benar belajar selama proses pengerjaannya. Dari sinilah mulai muncul kebutuhan untuk melihat proyek dari sudut pandang yang berbeda. Bukan hanya menilai hasil akhirnya, tetapi juga mencoba memahami proses di balik lahirnya hasil tersebut.

Ketika Monitoring Progress Individu Mengubah Dinamika Kelompok.

Berangkat dari berbagai dinamika tersebut, muncul pemikiran sederhana, yaitu meminta setiap mahasiswa mengisi Monitoring Kemajuan Individu secara berkala. Awalnya monitoring ini tidak dirancang sebagai alat penilaian. Tujuan utamanya justru untuk memudahkan melihat perkembangan setiap kelompok. Siapa yang sedang mengerjakan apa, bagian mana yang sudah selesai, kendala apa yang sedang dihadapi, dan apakah proyek masih berjalan sesuai rencana. Formatnya pun dibuat sederhana. Mahasiswa diminta menjelaskan bagian yang menjadi tanggung jawabnya, progres pekerjaan yang telah diselesaikan, kendala yang dihadapi, serta rencana penyelesaiannya pada minggu berikutnya. Harapannya, dosen memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai perkembangan setiap kelompok tanpa harus menunggu hingga proyek selesai.

Tak diduga, monitoring tersebut ternyata memberikan dampak positif. Mahasiswa yang selama ini aktif mulai merasa lebih dihargai karena setiap perkembangan pekerjaannya tercatat dengan jelas. Dan mahasiswa yang kurang aktif mulai menyadari bahwa pada akhirnya mereka harus mempertanggung jawabkan apa yang mereka tuliskan sendiri. Menariknya, suasana diskusi di dalam kelompok juga mulai berubah. Beberapa ketua kelompok mulai lebih mudah melakukan pembagian tugas karena setiap anggota mengetahui bahwa kontribusinya akan terlihat melalui monitoring tersebut. Tidak sedikit pula yang mulai lebih rutin memberikan kabar mengenai progres pekerjaannya dibandingkan minggu-minggu sebelumnya (lewat chat maupun lewat forum diskusi di platform LMS / elearning).

Tentu saja monitoring ini bukan solusi yang dapat menyelesaikan semua persoalan. Masih saja ada anggota yang lelet dan harus diingatkan beberapa kali oleh teman2nya. Masih ada juga bagian proyek yang akhirnya terpaksa diselesaikan oleh anggota lain agar proyek tidak terlambat dikumpulkan. Namun setidaknya mulai terlihat dengan lebih jelas siapa yang benar-benar terlibat selama proses pengerjaan proyek. Yang awalnya monitoring dipandang hanya sebagai alat bagi dosen untuk mengawasi perkembangan mahasiswa, setelah dijalankan fungsi terbesarnya justru bukan di situ. Monitoring menjadi semacam pengingat tanggung jawab bagi setiap anggota kelompok. Ketika seorang mahasiswa menuliskan bahwa minggu ini ia bertanggung jawab menyelesaikan proses searching, menyusun class tertentu, atau membuat antarmuka aplikasi, secara tidak langsung ia sedang membuat komitmen kepada kelompoknya sekaligus kepada dirinya sendiri. Komitmen itulah yang kemudian harus dipertanggungjawabkan pada minggu-minggu berikutnya. 

Jadi, kalau monitoring individu sudah mampu memberikan gambaran mengenai proses belajar setiap mahasiswa, mengapa hasil monitoring tersebut tidak dimanfaatkan juga pada saat evaluasi akhir? Bukankah akan lebih adil apabila mahasiswa diminta menjelaskan apa yang memang benar-benar mereka kerjakan? Pemikiran itu kemudian berkembang lebih jauh. Awalnya, evaluasi akhir memang direncanakan melalui demo proyek di kelas seperti yang selama ini umum dilakukan. 

Namun setelah dihitung kembali, muncul pertanyaan baru. Apakah demo kelompok (presentasi program) mampu menunjukkan pemahaman setiap anggota? Atau justru hanya memberi kesempatan pada 1 atau 2 mahasiswa untuk berbicara mewakili seluruh kelompok? Hal itu mengubah skenario evaluasi yang telah dirancang sebelumnya. Sampai akhirnya menemukan bentuk yang dirasa lebih sesuai dengan tujuan pembelajaran. Demo ditiadakan, sebagai gantinya tiap mahasiswa wajib membuat video presentasi individu dan mengisi lampiran individu yang "menguji konsistensi kontribusi" terhadap kelompoknya.

Ketika AI Menjadi Asisten, Bukan Pengambil Keputusan

Pada akhirnya, bagian yang paling menguras waktu dari mekanisme evaluasi ini adalah memastikan konsistensi antar berbagai komponen penilaian. Monitoring Kemajuan Individu perlu dicocokkan dengan laporan kelompok. Lampiran individu perlu dibandingkan dengan apa yang sebelumnya dituliskan mahasiswa pada monitoring. Jawaban UAS juga perlu dilihat, apakah benar-benar sejalan dengan kontribusi yang diklaimnya. Belum lagi video presentasi individu yang memperlihatkan bagaimana mahasiswa menjelaskan proyek dan bagian yang menjadi tanggung jawabnya. Kalau seluruh proses tersebut dilakukan secara manual untuk satu kelas yang berisi puluhan mahasiswa (kali n kelas), tentu membutuhkan waktu yang lama. Di sinilah perlunya pakai alaty bantu alias pakai AI, bukan untuk memberikan nilai, tetapi bantu melakukan pekerjaan yang berulang. Misal merangkum jawaban mahasiswa, membandingkan isi Monitoring Progress Individu dengan lampiran individu, atau menemukan bagian2 yang tampak tidak konsisten sehingga layak dicermati lebih lanjut. Lebih efisien dan energi dapat difokuskan pada memahami konteks dari jawaban mahasiswa dan mengambil keputusan penilaian secara lebih objektif. Intinya AI bantu mengenali pola sehingga mempercepat proses koreksi, nilai akhir tetap berada di tangan dosen, karena dosenlah yang mengetahui dinamika kelasnya.

Refleksi di Akhir Semester

Pelajaran berharganya: bukan hanya tentang bagaimana merancang studi kasus, menyusun rubrik penilaian, atau membuat soal UAS berbasis proyek. Tetapi juga bagaimana merancang sistem evaluasinya. Sebuah proyek yang baik relatif lebih mudah disusun. Tentukan capaian pembelajaran. Pilih studi kasus yang sesuai. Sesuaikan tingkat kesulitannya. Lalu biarkan mahasiswa mulai berkarya. Setelah proyek selesai, bagaimana memastikan mahasiswa yang aktif memperoleh penghargaan yang sesuai dengan usaha yang telah dilakukannya? Bagaimana mendorong mahasiswa yang masih kurang berkontribusi agar tetap belajar bertanggung jawab terhadap tugasnya? Dan bagaimana melakukan semuanya tanpa menghilangkan semangat kerja sama yang memang menjadi inti PBL? 

Rasanya sampai sekarangpun belum ada resep yang perfect. Mungkin saja mekanismenya perlu diperbaiki pada semester berikutnya. Bisa jadi format monitoring berubah. Soal UAS diperbarui. Atau mungkin bisa ditemukan cara yg lebih sederhana tetapi tetap mampu menggambarkan proses belajar mahasiswa secara utuh. It should be.. pembelajaran merupakan proses yang terus berkembang, begitu pula cara mengevaluasinya. 

Ini menjadi pengingat diri: pentingnya merancang pengalaman belajar yang mendorong mahasiswa bertumbuh. Program yang mereka buat mungkin suatu saat sudah tidak digunakan lagi. Bahasa pemrograman yang dipelajari hari ini pun bisa saja berganti beberapa tahun ke depan. Namun memberikan edukasi atau kebiasaan untuk bertanggung jawab, bekerja sama, dan menyelesaikan pekerjaan dengan baik, akan tetap menjadi bekal berharga buat mereka. 

Mekanisme evaluasi di atas tentu belum sempurna, dan apakah layak dicoba? jawabannya bisa "ya" atau "tidak". Masing-masing mata kuliah tentu punya karakteristik berbeda. Jumlah mahasiswa, capaian pembelajaran, hingga budaya belajar di setiap kelas juga tidak sama. Sekali lagi, tulisan ini disusun dari pengalaman pribadi, sebagai catatan kecil dari sebuah proses belajar. Mungkin saja ada bagian yang bisa diamati ditiru dan dimodifikasi (ATM) oleh rekan2 seprofesi. Oya penting juga menyiapkan panduan proyek untuk mahasiswa yg berisi ketentuan pengerjaan dan pengumpulan hasil proyek serta aspek2 penilaiannya. Satu lagi, koreksinya dibuat per-kelompok agar mudah cek ricek konsistensi jawaban masing2 anggotanya✅

Semoga bermanfaat.. barokallahu fiikum.

Juni 11, 2026

Menjaga Fitrah

Beberapa hari ini lagi rame beredar berita pesta kaum bot* yang bikin miris (https://news.detik.com/berita/d-8525485/fakta-miris-pesta-gay-di-karawang-didominasi-remaja).  Sebenarnya fenomena ini bukan hal baru, tetapi yang bikin prihatin ketika perilaku menyimpang itu semakin terlihat terbuka, bahkan sebagian mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.. naudzubillah. 

Ribuan tahun lalu perilaku menyimpang itu telah terjadi dan akibatnya pun bukan main. Kisah Nabi Luth berulang kali diabadikan dalam Al-Qur’an (diantaranya di QS. Al-A’raf: 80-81; QS. At-Tahrim: 10) sebagai peringatan bagi manusia sepanjang jaman. Pesannya jelas, penyimpangan itu pernah terjadi dan bisa muncul kembali, serta setiap pilihan manusia akan membawa konsekuensi. Hingga kini, jejak kisah itu sering dikaitkan dengan Laut Mati -  sebuah tempat yang menjadi pelajaran dan pengingat bersama. 

Dari kisah sahih tersebut ada bagian lain yang bikin merenung, yaitu tentang istri Nabi Luth, yang notabene hidup bersama seorang Nabi, berada di lingkungan keluarga utusan Allah. Tetapi kedekatan itu ternyata tidak serta merta menjadikan seseorang selamat. Para ulama menjelaskan bahwa istri Nabi Luth bukan termasuk orang yang melakukan perbuatan kaumnya tersebut, tetapi ia tidak beriman dan memilih berpihak kepada mereka. Di antaranya disebutkan ia membantu kaumnya dengan memberi kabar tentang tamu Nabi Luth (malaikat yang datang menyamar sebagai pemuda tampan). Ketika akhirnya datang ketetapan Allah, Nabi Luth dan orang2 yang beriman diperintahkan meninggalkan negeri tersebut. Namun istrinya termasuk orang yang tertinggal dan ikut menerima azab bersama kaumnya. Sebuah pelajaran besar bahwa keluarga seorang Nabi sekalipun tidak menjamin keselamatan jika tidak diiringi dengan iman dan ketaatan kepada Allah.

Kusarikan juga dari artikel https://muslim.or.id/27509-membenarkan-lgbt-karena-alasan-takdir.html dan https://www.uii.ac.id/psikologi-islam-menjawab-perilaku-lgbt/, bahwa kehidupan dunia adalah tempat ujian. Setiap manusia diuji dengan bentuk yang berbeda2. Yang terpenting bukan membenarkan kesalahan dengan alasan takdir, tetapi terus berusaha memperbaiki diri dan kembali pada-Nya. Bahwa manusia diciptakan dengan kecenderungan untuk memilih jalan kebaikan ataupun keburukan. Maka tugas kita adalah terus menjaga hati agar tetap dekat dengan petunjuk Allah. Kondisi hati manusia bisa berbeda-beda, ada hati yang sehat, hati yang sakit, dan hati yang mati. Ketika kita makin dekat dengan-Nya, maka itu juga ngaruh ke amalan dan pilihan hidup kita. Karena pada akhirnya yang mampu membolak-balikkan hati manusia hanyalah Allah Ta'ala. 

Di sinilah pentingnya peran keluarga dan lingkungan. Banyak hal dalam perjalanan hidup seseorang yang dapat mempengaruhi cara berpikir, kebiasaan, dan keputusan yang diambilnya. Karena itu membangun keluarga yang dekat dan hangat, komunikasi yang baik, serta lingkungan yang sehat menjadi hal yang sangat penting. Sebagai ortu, kita tahu saat ini mendidik anak2 tantangannya makin besar. Mereka tumbuh di era ketika paparan informasi mudah masuk dari segala arah. Sesuatu yang terus menerus dilihat dan ditampilkan, perlahan bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Maka bekal terbaik tentu bukanlah harta dan koneksi, tetapi pondasi iman dan ilmu, keluarga dan lingkungan yang saling mendukung. Jangan sampai kita sibuk melihat ujian orang lain tetapi lupa menjaga diri dan keluarga. Jangan sampai pula merasa aman, karena hidayah murni milik Allah dan hati manusia mudah berubah tanpa pertolongan-Nya. 

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

"Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu".. aamiiin. 

Wallahu a'lam.. barokallahu fiikum.


Juni 05, 2026

Antara program besar & prioritas yang terlupakan

Akhir2 ini rasanya banyak sekali kebijakan dan program besar pemerintah yang ramai diperbincangkan. Mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), kebijakan pajak, sampai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Semua hadir dengan narasi yang terdengar baik: untuk rakyat, untuk pemerataan, untuk kesejahteraan. Tapi apakah semua program tersebut menjadi pilihan yang paling tepat? Karena dalam mengelola negara, tantangannya sering kali bukan memilih antara yang baik dan buruk. Tapi memilih mana yang paling penting, paling mendesak, dan paling berdampak ketika sumber daya negara terbatas. Kita coba riset kecil2an, bukan untuk cari2 ini salah siapa. Tapi untuk memahami, apakah arah kebijakan ini memang sudah menyentuh akar persoalan masyarakat.

Ambil contoh MBG.

Kedengarannya gagasan bagus bahwa anak-anak harus mendapatkan gizi yang baik. IMHO.. sejak awal ini jd pertanyaan pribadi dimana sih letak urgensinya. Apakah benar program makan gratis berskala nasional dengan kebutuhan anggaran sangat besar adalah jawaban paling tepat untuk masalah pendidikan kita hari ini? 

Karena kalau kita melihat kondisi di lapangan, masih banyak persoalan mendasar yang belum selesai. Masih banyak guru honorer yang bertahun-tahun mengabdi tetapi kesejahteraannya belum layak. Masih banyak sekolah yang fasilitasnya tertinggal. Masih banyak anak2 berprestasi yang butuh beasiswa. 

Belum lagi kebutuhan meningkatkan kualitas guru, memperbanyak beasiswa dengan mekanisme yang baik, memperkuat riset kampus, mendukung dosen agar pendidikan kita bisa bersaing. Jangan sampai kita sibuk memastikan anak dapat makan siang, tapi lupa memperhatikan guru2 mereka. Karena pendidikan tidak hanya dibangun dari sepiring makanan. Disinilah muncul persoalan prioritas. Dalam kondisi anggaran negara yang terbatas, setiap rupiah yang digunakan untuk satu program berarti ada program lain yang mungkin harus dikurangi atau dikorbankan.

Ketika ada efisiensi anggaran di berbagai sektor, termasuk sektor yang berkaitan dengan pendidikan, wajar kalau masy bertanya: Mengapa program baru dengan biaya sangat besar bisa berjalan cepat, sementara masalah lama yang sudah bertahun2 dirasakan dunia pendidikan masih belum selesai? Aneh tapi nyata ya..😒

Lalu muncul masalah kedua: tata kelola.

Program sebesar MBG bukan sekadar soal menyediakan makanan. Ada rantai panjang yang harus dijaga: pemilihan penyedia, standar gizi, kebersihan dapur, distribusi, pengawasan, sampai transparansi anggaran. Beberapa media nasional maupun internasional seperti BBC dan Reuters ikut menyoroti berbagai persoalan dalam implementasi MBG, termasuk kasus kesehatan yang terjadi di beberapa daerah. Belum lagi masalah distribusi di daerah 3T yang harusnya menjadi prioritas pembenahan agar embege lebih tepat sasaran. 

Dan ini menurutku jadi poin penting. Kalau sebuah program besar mengalami masalah, apakah cukup hanya mengganti orang di pucuk pimpinan? Saat ini juga banyak muncul berbagai sorotan terhadap tata kelola MBG, termasuk isu pengawasan dan transparansi yang menjadi perhatian publik, salah satunya bisa disimak di sini https://www.youtube.com/watch?v=lT5syvUg0U0. Kalau masalahnya ada pada individu, mungkin pergantian pejabat bisa membantu. Tapi kalau masalahnya ada pada desain dan sistem (tata kelola, monev, dll), maka mengganti orang hanya seperti mengganti sopir tanpa memperbaiki kondisi kendaraan. Cepat atau lambat, masalah yang sama bisa muncul kembali. 

Mungkin ini juga menggelitik banyak orang: jika yang substansial gak disentuh apakah sepadan program ini diteruskan? Atau mungkin sudah banyak hal yang dikorbankan sehingga sulit dihentikan di tengah jalan? Netizen juga banyak yang mempertanyakan: "Embege dihentikan, reaksi siswanya biasa saja tapi koq malah investornya yang kayak kebakaran jenggot ya?"😐

Isu serupa lainnya: Koperasi Desa Merah Putih

Sekali lagi, konsep dasarnya terdengar bagus. Koperasi bahkan punya sejarah panjang dalam ekonomi Indonesia. Semangatnya adalah gotong royong, membangun ekonomi dari bawah, dan membuat masyarakat desa lebih mandiri. Tapi lagi-lagi: Apakah masalah ekonomi desa hari ini akan selesai hanya dengan membentuk koperasi baru secara besar-besaran? Karena koperasi bukan sekadar papan nama, gedung, aplikasi, atau struktur organisasi. Koperasi hidup karena kepercayaan anggota, kemampuan pengelola, aktivitas ekonomi nyata, dan rasa memiliki dari masyarakat. 

Kalau koperasi dibangun karena kebutuhan masyarakat, peluang berhasilnya besar. Tapi kalau koperasi muncul karena target program dari atas alias top down (bukan karena kebutuhan dari bawah), risikonya juga besar, ramai di awal, tetapi sulit bertahan setelah perhatian pemerintah berkurang. Salah satu artikel menulis tentang protes aparat desa karena pemotongan anggaran sampai dengan 70% untuk dialihkan ke KDMP. 

Di media sosial juga beredar video warga di sejumlah daerah menolak pendirian Koperasi Merah Putih di atas lahan lapangan sepak bola (https://www.bbc.com/indonesia/articles/c89kyw3v9ylo). Beberapa pengamat juga menyoroti risiko program ini, mulai dari kesiapan sumber daya manusia, tata kelola dana, potensi tumpang tindih dengan usaha masyarakat yang sudah berjalan, hingga risiko pengawasan. Belum lagi muncul berbagai keluhan teknis, seperti proses rekrutmen dan kesiapan sistem. 

Pertanyaannya, apakah kita benar2 sedang membangun koperasi masyarakat? Atau hanya sedang membangun sebuah program administratif yang bernama koperasi? Karena ekonomi desa bukan laboratorium percobaan. Di sana sudah ada warung kecil, UMKM, dan masyarakat yang hidup dari aktivitas ekonomi lokal. Kebijakan baru seharusnya hadir untuk memperkuat mereka, bukan menjadi pesaing dengan dukungan fasilitas negara.

Di saat yang sama, masyarakat juga menghadapi tekanan ekonomi yang tidak sederhana. Nilai tukar rupiah yang semakin melemah jadi pengingat bersama bhw ini bisa jadi efek domino, naiknya bhn baku yg hrs impor, biaya produksi, dll yg akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat. Memang nilai tukar tidak sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah karena dipengaruhi banyak faktor global. Namun kondisi seperti ini seharusnya semakin membuat pemerintah berhati2 dalam menentukan prioritas penggunaan anggaran. Setiap kebijakan besar perlu serius dipastikan punya dampak yang jelas dan tata kelola yang kuat.

Di sisi lain, masyarakat juga menghadapi isu2 terkait pajak. Paham sih.. negara butuh pendapatan dari pajak. Tidak ada pembangunan tanpa biaya. Tapi pajak tidak hanya bicara tentang kewajiban membayar tapi juga bicara tentang kepercayaan. Kita akan lebih mudah menerima kewajibannya ketika melihat uang negara digunakan dan dikelola dengan baik, hati2, tepat sasaran, dan transparan. Sebaliknya, ketika muncul program besar dengan banyak pertanyaan, sementara kita diminta disiplin berkontribusi, keresahan itu wajar muncul. Bukan karena gak mau ikut bangun negeri. Tapi ingin memastikan pajak yg kita setor dikelola dengan amanah.

Apalagi saat ini dibarengi dengan isu kenaikan BBM, rasanya makin berat hati karena ngerasa di sisi lain ada banyak APBN yang dikorup😞.. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ 

Tentu tidak ada kebijakan yang sempurna. Pemerintah juga hadapi persoalan yang kompleks dan tekanan untuk menyelesaikan banyak masalah sekaligus. Namun justru karena itu, pemilihan prioritas menjadi semakin penting. Pada akhirnya, masy bukan nolak perubahan bukan nolak program besar. Yang diharapkan sederhana: setiap kebijakan benar2 lahir dari kebutuhan, dikelola dengan baik, dan dievaluasi dengan jujur ketika muncul masalah. 

Semoga setiap rupiah uang rakyat benar2 kembali untuk kepentingan rakyat. Karena yang paling mahal dari sebuah kebijakan bukan hanya anggaran yang hilang, tetapi kepercayaan publik yang hilang. Semoga segera pulih Indonesia-ku.. aamiiin.


Januari 25, 2026

My Study Journey

Alhamdulillah .. finally i did it .. akhirnya dengan pertolongan Allah bisa menyelesaikan studi lanjut di Program Doktor Ilmu Komputer (PDIK) Departemen Teknik Informatika, FTEIC- ITS. Ini studi paling epic dalam hidup, bukan hanya penuh ilmu eksak, tapi juga penuh ilmu kehidupan. Banyak hikmah yang kutemukan, mulai dari belajar disiplin dengan timeline, melawan prokrastinasi, meredam drama2 yg bikin mood swing, memberanikan diri ngadepin masalah seruwet apapun dan gak nunda2 cari solusi (walaupun gak mudah). Pelan pelan, day by day, step by step, satu per satu masalah selama masa studi akhirnya bisa terurai. 

Banyak momen ketika langkah terasa tambah berat. Mulai dari ganti judul proposal 2x, berjibaku nyari - ngumpulin - ngolah dataset agar representatif dan reliabel, bolak balik uji coba untuk dapetin hasil plg optimal, mesti submit artikel konferensi intl padahal saat itu yg siap baru materi hasil studi literatur, blm lgi sebuah sub bab disertasi sampe 2x di-seminar kemajuan-kan, tahapan akhir disertasi yg sempet stag, nilai TOEFL belum tembus skor 500; hingga memutuskan break dulu alias cuti kuliah 1 semester ketika artikel jurnal intl di-reject (publikasi wajib).

Kesempatan cuti kuliah coba kumanfaatkan betul sesuai pesan tim promotor, untuk serius kejar tayang revisi artikel - submit ulang dan menyelesaikan laporan disertasi. Agar saat aktif kembali sudah siap maju sidang kelayakan dan sidang tertutup. Tapi teori memang tidak semudah praktik, ada saja kendala teknis dan di luar teknis yang mesti kuhadapi. Sementara batas waktu pendaftaran maju sidang makin dekat. Saat itu sempat pesimis “bisa selesai sesuai target tim promotor nggak ya?” 

Di titik itu, yang bisa dilakukan hanya men-sugesti diri untuk terus jalan sambil sesekali rehat tipis2 biar tetap "waras"😌, dan terus tengadahkan doa terbaik. Ikhtiar semampunya. Do the best I can. Man jadda wa jadda, pesan promotor S2 sekaligus S3-ku yang selalu kuingat: bahwa yang bersungguh-sungguh akan menuai hasilnya, dengan cara dan waktu yang ditentukan-Nya.
 
Singkat cerita, akhirnya bisa maju sidang kelayakan lanjut sidang tertutup. Alhamdulillah, 14 Januari 2026 selesai sidang tertutup dinyatakan lulus. Persyaratan yudisium yang seabreg juga sudah rampung.. legaa. Tapi agak sedih sih pas harus nggunting KTM S3 sebagai salah satu persyaratan, tetap bersyukur, beban ini telah lepas, tinggal nunggu wisuda, insyaaAllah April nanti. Semakin bersyukur karena di PDIK gak ada sidang terbuka - cukup "Perkenalan Doktor Baru" yang simple tapi hikmat, sungguh meringankan. Satu poin plus lagi, awal kami masuk PDIK masih terakreditasi B, kini sudah "Unggul" (2023 - 2028).. alhamdulillah barokallahu.

Perjalanan ini mengajarkanku pentingnya disiplin dan komitmen dengan diri sendiri. Bukan sekadar disiplin hadir bimbingan, bukan sekedar untuk menggugurkan kewajiban, tapi disiplin duduk buka laptop, baca jurnal, revisi bab, pahami coding, perbaiki hasil eksperimen, analisis data, perbaiki artikel, meski rasanya pengin "berpaling". Ternyata perang terberat bukan dengan revisi, tapi dengan diri sendiri yang kadang suka nunda dan cari alasan pembenaran ;)

Keberanian juga jadi kunci. Berani kirim draft ke promotor meski sadar belum sempurna. Berani datang bimbingan meski deg-degan karena ngerasa kurang siap. Berani baca komentar reviewer yang tajam lalu perlahan memperbaiki. Benar, kritik memang bukan untuk dihindari, tapi dihadapi dan jadikan panduan arah yg membangun. Seperti obat: pahit, tapi menyembuhkan.

Tentu aku gak sendirian, do'a dan dukungan dari orang-orang terdekat jadi bahan bakar utama. Suami dan anak-anak, ayah, ibu, bude, dan keluarga besar yang selalu mendoakan. Serta tim promotor yang selalu mengarahkan dan menyemangati, juga rekan-rekan seperjuangan yang saling membantu, saling berbagi cerita - info & tips - bahkan berbagi keluhan semata untuk saling menguatkan. Support system seperti ini benar-benar berarti.

Terima kasih banyak untuk semua do'a, bantuan dan dukungannya: keluarga tersayang, tim dosen promotor (Prof. Arif dan Prof. Daniel), tim dosen penguji (internal dan eksternal), para dosen pengampu, KaDep. Teknik Informatika - KaProdi PDIK - dan para staf khususnya Mbak Lina, para anotator dataset riset, rekan2 yg bantu ngoding, dan rekan2 seperjuangan. Terima kasih sebesar-besarnya juga untuk UMSIDA yang telah membiayai studi doktoral ini melalui beasiswa internal dan bantuan publikasi. Jazakumullahu khoiran katsira.. semoga ilmu dan pencapaian ini bermanfaat dan menjadi berkah bagi banyak pihak.. aamiiin.

Kalau ditarik ke belakang, perjalanan ini bukan sekadar memenuhi tanggung jawab dan kualifikasi profesi melalui pencapaian gelar Dr. Lebih dari itu, ini proses pematangan diri: belajar berpikir strategis dan kritis, lebih terstruktur, lebih sabar, lebih siap menghadapi kegagalan, dan lebih peka melihat bahwa hambatan itu sebenarnya pintu belajar. Ada bagian2 yang harus dilepas, kenyamanan yang harus dikorbankan, dan waktu yang harus direlakan untuk fokus. Tapi semua terasa sepadan. Sangat bersyukur di usia hampir senja ini masih diberi kesehatan, rejeki, dan kesempatan bisa menempuh studi ini. 

Pada akhirnya, semua pencapaian ini murni pertolongan Allah melalui ikhtiar, doa, dan tawakal. Jalur langit (sky link - kata temenku) itu nyata, selama tidak berputus asa, dan tidak menggantungkan harapan pada makhluk, tapi hanya kepada-Nya. Pesanku: nikmati setiap proses & setiap rasa dalam semua tantangan kehidupan. Lelahnya, takutnya, hampir menyerahnya.. juga legaaanya ketika berhasil melewatinya. Agar kelak saat menghadapi tantangan baru, kita bisa berkata, “Dulu saja Allah mampukan, insyaaAllah kali ini pun bisa.” 

Perjalanan studi ini mengingatkanku bahwa masih ada perjalanan panjang yang harus jauh lebih serius dipersiapkan: perjalanan pulang kembali kepada-Nya. Selamat bersiap sambut bulan suci Ramadhan, momen emas buat nambah bekal pulang, semoga Allah selalu berikan kesehatan, kelancaran beribadah dan memperbaiki semua urusan dunia akhirat kita.. aamiiin.

Dan ini sedikit gambaran disertasi (abstrak) bisa dibaca di sini: https://repository.its.ac.id/130310/, semoga bermanfaat.

update momen pasca wisuda.. terimakasih semuanya.. barokallahu fiikum💗









September 02, 2025

My Sweet Teenager’s Journey in Formosa

Postingan ini sekedar berbagi tulisan anak gadisku-Hira tentang perjalanan bersama teman2 kelas internasional-nya ke Taiwan. Perjalanan yang cukup panjang selama dua minggu di pertengahan Agustus 2025 lalu dalam rangka program Summer Camp. 
Alhamdulillah .. terimakasih banyak SMAMDA (SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo) dan Ibu Bapak Guru pendamping. Xie xie 谢谢 Da-Yeh University 大葉大學 yang telah memberi kesempatan berharga buat Hira dan rombongan untuk tinggal di dormitory-nya, belajar bahasa & budaya-nya, serta merasakan langsung suasana kampus dan kehidupan di Changhua County. 

Sepulang dari Taiwan, Hira banyak deep talk denganku tentang semua hal di sana. Perjalanan itu selain menambah wawasan, juga makin mengasah ketrampilan hidup dan pengendalian dirinya - termasuk ngerem gak sering2 beli cemilan di sev-el deket kampus, dan belanja oleh2 secukupnya untuk menghemat uang sakunya🙂.. pas balik dia masih nyimpen utuh uang rupiah dari ayahnya, yg sedianya buat cadangan untuk ditukar ke NTD jika kurang.. good job dek👍. Perjalanan itu juga bikin dia lebih terbuka mata hatinya, lebih mandiri dan dewasa. Dan membuatnya lebih bersyukur, selama 3 tahun terakhir berturut-turut diberi rejeki bisa melihat dunia yang lebih luas.. 2023 - bersama teman2 seangkatan & guru2nya ke Malaysia saat dia masih duduk di bangku SMPIT Insan Kamil Sidoarjo (Sister School), 2024 - diajak kakaknya jalan2 ke Singapura dan Malaysia, dan tahun ini - bersama tmn2 sekelas dan guru2 SMAMDA ke Taiwan (Summer Camp). Dia berharap bisa study abroad untuk lebih mengembangkan potensi dirinya. Semoga Allah berikan yang terbaik… aamiin.

Dan inilah tulisan Hira - yang juga menjadi bagian dari tugas sekolahnya - tulisan yang banyak merekam kenangan manis selama summer camp di sana.. semoga bermanfaat.

"Melangkah Jauh, Pulang dengan Kenangan

Akhirnya, setelah berjam-jam di udara dan transit di Bandara Changi, aku menginjakkan kaki di Taiwan. Matahari menyambut dengan hangatnya saat aku keluar dari Bandara Taoyuan. Semilir angin pagi yang menerpa wajahku membuatku bisa bernapas lebih lega. Ini bukan hanya soal perjalanan lintas negara, tapi juga langkah awal menuju petualangan yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Taiwan, negeri yang dijuluki Formosa karena keindahannya, menyambutku dengan tangan terbuka. Program Summer Camp di Da-Yeh University yang awalnya kupikir hanya akan jadi kegiatan musim panas biasa, ternyata berubah menjadi pengalaman yang membuka mataku lebar-lebar.

Dari awal, kami sudah dihadapkan dengan tantangan. Cuaca yang berbeda, makanan yang asing di lidah, tempat tidur baru yang butuh waktu bagiku untuk membiasakan diri. Pelan-pelan kami belajar beradaptasi. Hari demi hari, aku mulai menemukan ritme. Hal-hal yang awalnya terasa tak biasa, sekarang jadi kenangan manis.

Salah satu inti kegiatan kami adalah kelas bahasa Mandarin. Setiap pagi, kami mengikuti pembelajaran yang seru dan jauh dari kata membosankan. Para pengajar sangat kreatif. Mereka menggabungkan pelajaran dengan permainan, membuat kuis, bahkan lagu pendek yang semuanya menggunakan bahasa Mandarin. Belajar jadi terasa ringan, dan tanpa sadar, kami jadi bisa memahami serta berbicara kalimat sederhana. Rasanya seperti membuka jendela baru, aku bisa menyapa dan berbelanja yang sebelumnya terasa asing di telinga. 

Selain kelas bahasa, kami juga mengikuti berbagai kelas budaya yang memperkaya pengalaman kami. Salah satu yang paling berkesan adalah kelas memasak Taiwanese Cabbage Salad. Siapa sangka, meracik bumbu yang pas bisa jadi pengalaman menyenangkan? Kami juga belajar tentang face painting dalam opera tradisional. Warna merah berarti kesetiaan, putih berarti pengkhianatan, dan dari wajah-wajah yang dilukis itulah, aku belajar bahwa setiap budaya punya cara unik untuk bercerita.

Waktu di luar kelas jadi momen paling hangat. Malam hari sering kami habiskan dengan ngobrol santai di kamar teman, saling berbagi cerita sambil menyeruput milk tea atau menyeduh mie instan bareng. Kadang, hanya duduk di balkon asrama sambil menikmati angin malam dan langit berbintang sudah cukup untuk membuat kami merasa nyaman. Momen sederhana seperti ini justru jadi hal-hal yang paling melekat di ingatan. Dari jalan-jalan menyusuri komplek universitas, menemukan spot yang bagus untuk duduk bersama teman-teman sambil deeptalk, ngobrol santai di area laundry, saling berbagi camilan, sampai unboxing belanjaan yang dibeli saat jalan-jalan, semuanya terasa begitu hidup. 

Satu hari yang tak mungkin aku lupakan adalah perayaan 17 Agustus di negeri orang. Meski kami jauh dari tanah air, semangat nasionalisme tetap membara. Kami merayakannya dengan sederhana tapi khidmat. Acara dimulai dengan bapak guru kami yang menyampaikan narasi kemerdekaan, lalu kami bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan dengan penuh semangat. Setelah itu, kami makan nasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauk khas Indonesia, dari nasi kuning, ayam panggang bumbu rempah, telur balado, urap, hingga sambal, kurang kerupuk aja sih. Walau sederhana, suasananya hangat dan bikin haru. Rasanya seperti membawa sepotong Indonesia ke tengah-tengah Taiwan.

Kami juga mengunjungi beberapa SMA di Changhua, ada tiga sekolah yang kami datangi, yaitu National Changhua Senior High School, Changhua Arts High School, dan National Xihu Senior High School. Aku merasa sangat senang bisa berkunjung dan melihat langsung fasilitas yang ada serta mengetahui kurikulum sekolahnya. Pengalaman di National Xihu Senior High School jadi salah satu yang paling berkesan, di sana aku berkelompok dengan teman-teman dari Xihu, kami bekerja sama membuat origami, saling bertukar media sosial, jalan-jalan mengelilingi sekolah, dan mengobrol banyak hal. Rasanya hangat sekali bisa berinteraksi langsung dengan mereka. 

Kami juga berkesempatan mengunjungi beberapa tempat ikonik di Taiwan. Salah satunya adalah National Museum of Natural Science di Taichung. Tempatnya interaktif dan penuh informasi. Aku merasa seperti anak kecil yang takjub melihat segala hal baru. Setelah itu, kami melanjutkan petualangan ke Yi Zhong Night Market. Ini pengalaman pertamaku mengunjungi pasar malam di Taiwan. Lampu warna-warni, aroma makanan, dan hiruk-pikuk pengunjung menciptakan suasana yang hidup. Aku mencoba berbagai makanan, dari ayam goreng yang renyah, thai tea yang segar, hingga bola-bola kentang panas yang kenyal. Tapi yang paling aku suka adalah tanghulu, stroberi segar yang dilapisi gula karamel, ditusuk seperti sate. Rasanya manis, renyah, dan menyegarkan. Setiap gigitan seperti membawa rasa penasaran yang baru.

Perjalanan kami berlanjut ke Sun Moon Lake, danau terbesar di Taiwan yang dikelilingi pegunungan hijau dan udara yang sejuk. Di sana, aku duduk di bawah gazebo, menikmati angin dan suara alam yang tenang. Rasanya cocok sekali untuk merenung. Di tengah pemandangan yang menenangkan itu, aku teringat perjalanan yang sudah aku lalui bagaimana awalnya aku tidak biasa dan sempat ragu, lalu perlahan-lahan bisa menikmati semua prosesnya. Aku juga menyempatkan membeli oleh-oleh, dari gantungan kunci lucu hingga magnet kulkas bertuliskan Taiwan yang unik untuk orang-orang tersayang di Indonesia.

Kini, saat pesawat mengudara membawaku kembali ke Indonesia, aku tidak hanya membawa koper penuh oleh-oleh, tapi juga kenangan yang penuh cerita dan pelajaran hidup. Dari belajar menyapa dalam bahasa baru, merasakan makanan asing, menjalin persahabatan, hingga memahami nilai-nilai lokal yang berbeda tapi bermakna. Aku merasa pulang dengan versi diriku yang lebih terbuka, lebih mandiri, dan lebih bijak.

Program Summer Camp di Da-Yeh University bukan cuma soal "melangkah jauh" secara fisik ke negara lain. Lebih dari itu, program ini membawaku berjalan jauh dalam proses pendewasaan. Aku belajar bahwa “rumah” tidak selalu soal tempat, tapi tentang rasa. Rasa nyaman bersama teman-teman, rasa bangga ketika bisa mengatasi tantangan, dan rasa syukur atas momen-momen kecil yang membentuk cerita besar dalam hidupku.

Taiwan kini bukan lagi sekadar nama di peta atau cap di paspor. Taiwan sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Dan aku tahu, kenangan ini akan selalu aku bawa ke mana pun aku melangkah selanjutnya."


Sedikit tambahan + penutup: 
Sebelum balik ke tanah air, mereka sempat berkunjung ke kantor perwakilan Indonesia (KDEI) di Taipei (bukan KBRI). Negara kita memang belum menjalin hubungan diplomatik secara resmi dengan Taiwan. Tetapi kedua negara ini tetap berhubungan baik, saling melengkapi dan menguntungkan.. menarik ya😇 (Hubungan Indonesia-Taiwan Saling Lengkapi dan Menguntungkan | IDN Times). 
Akhirnya jadi tahu sejarah di balik berdirinya Taiwan - negeri Formosa (cantik atau molek: dalam bahasa Portugis). Secuil info dari berbagai sumber: Sun Yat-sen merupakan pemimpin kunci revolusi Tiongkok dan diakui secara luas sebagai Bapak Negara Tiongkok Modern, baik di Republik Taiwan maupun di Tiongkok Daratan. Beliau perintis demokrasi di Cina dan Republik Tiongkok (ROC) di Taiwan kemudian menjadi pemerintahan yang demokratis. Namun, Partai Komunis Cina (CPC) di bawah pimpinan Mao Zedong memilih jalur berbeda dan mendirikan Republik Rakyat Cina (PRC) atau yang disebut Tiongkok Daratan di Beijing. 

update Februari 2026:
"Buku Dua Bahasa diluncurkan di Milad 50 Tahun SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo. Berisi tulisan-tulisan reflektif tentang perjumpaan pertama dengan budaya baru, tantangan bahasa, perbedaan kebiasaan, hingga proses beradaptasi di lingkungan asing." (https://tagar.co/buku-dua-bahasa-diluncurkan-di-milad-50-tahun-smamda/)

Juni 20, 2025

Antara nurani dan geopolitik

Tagar #alleyesondeck dan #globalmarchtogaza akhir-akhir ini rame. Makin banyak warga dunia yang terang2an menunjukkan kepeduliannya pada blokade bantuan kemanusiaan untuk rakyat Gaza. Tapi muncul juga pertanyaan, mengapa Mesir sangat sulit membuka perbatasan Gaza (tepatnya di wilayah Sinai)? Kita coba riset kecil2an agar gak terseret narasinya pihak pendukung "sirewel" sang penjajah. Agar paham kenapa Mesir tidak bisa sembarangan membuka perbatasan itu. Tentu bukan karena Mesir tidak peduli dengan Gaza.

Banyak hal ternyata yang bikin Mesir dilema, berdiri diantara hati nurani dan realitas politik. Secara hukum, secara geopolitik, dan secara keamanan dalam negeri. Ada yang namanya Perjanjian Camp David, sejak tahun 1978. Itu perjanjian damai antara Mesir dan sirewel. Salah satu poinnya, Mesir tidak boleh sembarangan menaruh kekuatan militer di perbatasan Gaza, terutama di jalur sempit yang namanya Koridor Philadelphi. Itu wilayah sensitif, cuma 14 km panjangnya, tapi jadi titik rawan yang harus dijaga ketat. Kalau Mesir tiba-tiba membuka perbatasan tanpa koordinasi internasional, bisa dianggap pelanggaran serius. 

Lalu ada kekuatiran lain yang tak kalah besar, yaitu soal eksodus. Banyak analis termasuk dari New York Times dan Reuters bilang bahwa siriwil “punya misi” memaksa warga Gaza keluar dari tanah airnya lewat Rafah. Dipindahkan ke Sinai, “diusir perlahan”. Dan itu kalau dibiarkan, sama saja dengan membiarkan penjajahan pindah bentuk jadi pengusiran massal, dan Mesir jelas menolak itu (desain gambar dibantu AI untuk edukasi kemanusiaan - ilustrasi peta bukan bermaksud mengakui eksistensi siriwil).

Kita juga harus ingat, Mesir punya masalah dalam negerinya sendiri. Wilayah Sinai, yang jadi perbatasan itu, bukan wilayah damai. Sudah lama jadi medan konflik dengan kelompok-kelompok bersenjata. Pemerintah mereka khawatir, kalau Rafah dibuka bebas, bukan cuma pengungsi yang masuk, tapi juga potensi infiltrasi militer, senjata, bahkan kekacauan baru.

Apakah Mesir tidak bisa berbuat lebih? Mungkin bisa. Tapi mereka juga sedang menghadapi tekanan dari dua sisi: dari luar karena dianggap terlalu pasif. dan dari dalam karena harus menjaga stabilitas negeri mereka sendiri. Sebuah tulisan dari Brookings Institution menyebut Mesir menghadapi "jebakan geopolitik" dari potensi eksodus massal warga Gaza ke Sinai, yang dapat mengubah krisis kemanusiaan menjadi beban keamanan dan stabilitas domestik bagi Mesir (selengkapnya di sini https://carnegieendowment.org/research/2025/03/ending-the-new-wars-of-attrition-opportunities-for-collective-regional-security-in-the-middle-east?lang=en&utm_source=chatgpt.com.) 

Rafah sebenarnya tidak sepenuhnya ditutup. Sejak akhir tahun lalu, ribuan pasien luka dari Gaza sudah berhasil masuk ke Mesir untuk dirawat. Ratusan truk bantuan juga dikirimkan, meski jauh dari cukup, dan harus melalui proses yang rumit. Selain itu, banyak negara termasuk di kawasan Timur Tengah (Arab Saudi, Qatar, UEA, dll) memberikan bantuan dalam “diam” untuk alasan keamanan distribusi, pertimbangan diplomatik, motivasi keikhlasan. 

As we know, mayoritas media mainstream Barat gak banyak memberi panggung untuk bantuan kemanusiaan dari negara2 Arab, karena gak sesuai dengan agenda mereka. Narasi yang berkembang sering tidak obyektif. Kita seperti digiring untuk menyudutkan negara2 Arab termasuk Mesir. Seolah2 Mesir jadi penghalang utama masuknya bantuan kemanusiaan. Semua itu untuk mengalihkan fokus dunia dari isu utama, dan menjerumuskan kita ke dalam narasi pecah belah. Padahal jelas terang benderang, yang memblokade Gaza sejak lama itu ya isriwil. Yang mengontrol udara, laut, dan sebagian besar darat ya siriwil itu. Yang menggempur rumah-rumah warga sipil, ya sirewel itu.

Rasanya gak habis pikir melihat kebiadaban sirewel, seperti dalam sebuah video, tentara sirewel merekam momen2 saat menggempur rumah warga sipil sambil selfie cengar cengir .. subhanallahu.. Simak aksi bejatnya disini https://youtube.com/shorts/0SW_UhTRExg?si=Eo0Z52A-5HfImIE6 Berharap ICC (Mahkamah Pidana Internasional) bisa mengadili mereka, walau mungkin gak berharap banyak putusan akan diberikan seadil2nya bagi siriwil. Hanya Allah sebaik2 pemberi balasan.

Semoga kita tetap peduli sampai tuntas perjuangan rakyat Palestina. Sekecil apapun dukungan kita, semoga kelak menjadi hujjah di hadapan-Nya.. aamiiin.

#keepwritingkeepkind