Juni 11, 2026

Menjaga Fitrah

Beberapa hari ini linimasa lagi dipenuhi berita pesta kaum bot* yang sangat memprihatinkan. Sebenarnya fenomena ini bukan hal baru, tetapi yang bikin miris ketika perilaku menyimpang itu semakin terlihat terbuka, bahkan sebagian mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.. naudzubillah. 

Ribuan tahun lalu perilaku menyimpang itu telah terjadi dan akibatnya pun bukan main. Kisah Nabi Luth berulang kali diabadikan dalam Al-Qur’an (diantaranya di QS. Al-A’raf: 80-81; QS. At-Tahrim: 10) sebagai peringatan bagi manusia sepanjang jaman. Pesannya jelas, penyimpangan itu pernah terjadi dan bisa muncul kembali, serta setiap pilihan manusia akan membawa konsekuensi. Hingga kini, jejak kisah itu sering dikaitkan dengan Laut Mati -  sebuah tempat yang menjadi pelajaran dan pengingat bersama. 

Dari kisah sahih tersebut ada bagian lain yang bikin merenung, yaitu tentang istri Nabi Luth, yang notabene hidup bersama seorang Nabi, berada di lingkungan keluarga utusan Allah. Tetapi kedekatan itu ternyata tidak serta merta menjadikan seseorang selamat. Para ulama menjelaskan bahwa istri Nabi Luth bukan termasuk orang yang melakukan perbuatan kaumnya tersebut, tetapi ia tidak beriman dan memilih berpihak kepada mereka. Di antaranya disebutkan ia membantu kaumnya dengan memberi kabar tentang tamu Nabi Luth (malaikat yang datang menyamar sebagai pemuda tampan). Ketika akhirnya datang ketetapan Allah, Nabi Luth dan orang2 yang beriman diperintahkan meninggalkan negeri tersebut. Namun istrinya termasuk orang yang tertinggal dan ikut menerima azab bersama kaumnya. Sebuah pelajaran besar bahwa keluarga seorang Nabi sekalipun tidak menjamin keselamatan jika tidak diiringi dengan iman dan ketaatan kepada Allah.

Kusarikan juga dari artikel https://muslim.or.id/27509-membenarkan-lgbt-karena-alasan-takdir.html dan https://www.uii.ac.id/psikologi-islam-menjawab-perilaku-lgbt/, bahwa kehidupan dunia adalah tempat ujian. Setiap manusia diuji dengan bentuk yang berbeda2. Yang terpenting bukan membenarkan kesalahan dengan alasan takdir, tetapi terus berusaha memperbaiki diri dan kembali pada-Nya. Bahwa manusia diciptakan dengan kecenderungan untuk memilih jalan kebaikan ataupun keburukan. Maka tugas kita adalah terus menjaga hati agar tetap dekat dengan petunjuk Allah. Kondisi hati manusia bisa berbeda-beda, ada hati yang sehat, hati yang sakit, dan hati yang mati. Ketika kita makin dekat dengan-Nya, maka itu juga ngaruh ke amalan dan pilihan hidup kita. Karena pada akhirnya yang mampu membolak-balikkan hati manusia hanyalah Allah Ta'ala. 

Di sinilah pentingnya peran keluarga dan lingkungan. Banyak hal dalam perjalanan hidup seseorang yang dapat mempengaruhi cara berpikir, kebiasaan, dan keputusan yang diambilnya. Karena itu membangun keluarga yang dekat dan hangat, komunikasi yang baik, serta lingkungan yang sehat menjadi hal yang sangat penting. Sebagai ortu, kita tahu saat ini mendidik anak2 tantangannya makin besar. Mereka tumbuh di era ketika paparan informasi mudah masuk dari segala arah. Sesuatu yang terus menerus dilihat dan ditampilkan, perlahan bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Maka bekal terbaik tentu bukanlah harta dan koneksi, tetapi pondasi iman dan ilmu, keluarga dan lingkungan yang saling mendukung. Jangan sampai kita sibuk melihat ujian orang lain tetapi lupa menjaga diri dan keluarga. Jangan sampai pula merasa aman, karena hidayah murni milik Allah dan hati manusia mudah berubah tanpa pertolongan-Nya. 

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

"Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu".. aamiiin. 

Wallahu a'lam.. barokallahu fiikum.


Juni 05, 2026

Antara program besar & prioritas yang terlupakan

Akhir2 ini rasanya banyak sekali kebijakan dan program besar pemerintah yang ramai diperbincangkan. Mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), kebijakan pajak, sampai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Semua hadir dengan narasi yang terdengar baik: untuk rakyat, untuk pemerataan, untuk kesejahteraan. Tapi apakah semua program tersebut menjadi pilihan yang paling tepat? Karena dalam mengelola negara, tantangannya sering kali bukan memilih antara yang baik dan buruk. Tapi memilih mana yang paling penting, paling mendesak, dan paling berdampak ketika sumber daya negara terbatas. Kita coba riset kecil2an, bukan untuk cari2 ini salah siapa. Tapi untuk memahami, apakah arah kebijakan ini memang sudah menyentuh akar persoalan masyarakat.

Ambil contoh MBG.

Kedengarannya gagasan bagus bahwa anak-anak harus mendapatkan gizi yang baik. IMHO.. sejak awal ini jd pertanyaan pribadi dimana sih letak urgensinya. Apakah benar program makan gratis berskala nasional dengan kebutuhan anggaran sangat besar adalah jawaban paling tepat untuk masalah pendidikan kita hari ini? 

Karena kalau kita melihat kondisi di lapangan, masih banyak persoalan mendasar yang belum selesai. Masih banyak guru honorer yang bertahun-tahun mengabdi tetapi kesejahteraannya belum layak. Masih banyak sekolah yang fasilitasnya tertinggal. Masih banyak anak2 berprestasi yang butuh beasiswa. 

Belum lagi kebutuhan meningkatkan kualitas guru, memperbanyak beasiswa dengan mekanisme yang baik, memperkuat riset kampus, mendukung dosen agar pendidikan kita bisa bersaing. Jangan sampai kita sibuk memastikan anak dapat makan siang, tapi lupa memperhatikan guru2 mereka. Karena pendidikan tidak hanya dibangun dari sepiring makanan. Disinilah muncul persoalan prioritas. Dalam kondisi anggaran negara yang terbatas, setiap rupiah yang digunakan untuk satu program berarti ada program lain yang mungkin harus dikurangi atau dikorbankan.

Ketika ada efisiensi anggaran di berbagai sektor, termasuk sektor yang berkaitan dengan pendidikan, wajar kalau masy bertanya: Mengapa program baru dengan biaya sangat besar bisa berjalan cepat, sementara masalah lama yang sudah bertahun2 dirasakan dunia pendidikan masih belum selesai? Aneh tapi nyata ya..😒

Lalu muncul masalah kedua: tata kelola.

Program sebesar MBG bukan sekadar soal menyediakan makanan. Ada rantai panjang yang harus dijaga: pemilihan penyedia, standar gizi, kebersihan dapur, distribusi, pengawasan, sampai transparansi anggaran. Beberapa media nasional maupun internasional seperti BBC dan Reuters ikut menyoroti berbagai persoalan dalam implementasi MBG, termasuk kasus kesehatan yang terjadi di beberapa daerah. Belum lagi masalah distribusi di daerah 3T yang harusnya menjadi prioritas pembenahan agar embege lebih tepat sasaran. 

Dan ini menurutku jadi poin penting. Kalau sebuah program besar mengalami masalah, apakah cukup hanya mengganti orang di pucuk pimpinan? Saat ini juga banyak muncul berbagai sorotan terhadap tata kelola MBG, termasuk isu pengawasan dan transparansi yang menjadi perhatian publik, salah satunya bisa disimak di sini https://www.youtube.com/watch?v=lT5syvUg0U0. Kalau masalahnya ada pada individu, mungkin pergantian pejabat bisa membantu. Tapi kalau masalahnya ada pada desain dan sistem (tata kelola, monev, dll), maka mengganti orang hanya seperti mengganti sopir tanpa memperbaiki kondisi kendaraan. Cepat atau lambat, masalah yang sama bisa muncul kembali. 

Mungkin ini juga menggelitik banyak orang: jika yang substansial gak disentuh apakah sepadan program ini diteruskan? Atau mungkin sudah banyak hal yang dikorbankan sehingga sulit dihentikan di tengah jalan? Netizen juga banyak yang mempertanyakan: "Embege dihentikan, reaksi siswanya biasa saja tapi koq malah investornya yang kayak kebakaran jenggot ya?"😐

Isu serupa lainnya: Koperasi Desa Merah Putih

Sekali lagi, konsep dasarnya terdengar bagus. Koperasi bahkan punya sejarah panjang dalam ekonomi Indonesia. Semangatnya adalah gotong royong, membangun ekonomi dari bawah, dan membuat masyarakat desa lebih mandiri. Tapi lagi-lagi: Apakah masalah ekonomi desa hari ini akan selesai hanya dengan membentuk koperasi baru secara besar-besaran? Karena koperasi bukan sekadar papan nama, gedung, aplikasi, atau struktur organisasi. Koperasi hidup karena kepercayaan anggota, kemampuan pengelola, aktivitas ekonomi nyata, dan rasa memiliki dari masyarakat. 

Kalau koperasi dibangun karena kebutuhan masyarakat, peluang berhasilnya besar. Tapi kalau koperasi muncul karena target program dari atas alias top down (bukan karena kebutuhan dari bawah), risikonya juga besar, ramai di awal, tetapi sulit bertahan setelah perhatian pemerintah berkurang. Salah satu artikel menulis tentang protes aparat desa karena pemotongan anggaran sampai dengan 70% untuk dialihkan ke KDMP. Di media sosial juga beredar video warga di sejumlah daerah menolak pendirian Koperasi Merah Putih di atas lahan lapangan sepak bola (https://www.bbc.com/indonesia/articles/c89kyw3v9ylo). Beberapa pengamat juga menyoroti risiko program ini, mulai dari kesiapan sumber daya manusia, tata kelola dana, potensi tumpang tindih dengan usaha masyarakat yang sudah berjalan, hingga risiko pengawasan. Belum lagi muncul berbagai keluhan teknis, seperti proses rekrutmen dan kesiapan sistem. 

Pertanyaannya, apakah kita benar2 sedang membangun koperasi masyarakat? Atau hanya sedang membangun sebuah program administratif yang bernama koperasi? Karena ekonomi desa bukan laboratorium percobaan. Di sana sudah ada warung kecil, UMKM, dan masyarakat yang hidup dari aktivitas ekonomi lokal. Kebijakan baru seharusnya hadir untuk memperkuat mereka, bukan menjadi pesaing dengan dukungan fasilitas negara.

Di saat yang sama, masyarakat juga menghadapi tekanan ekonomi yang tidak sederhana. Nilai tukar rupiah yang semakin melemah jadi pengingat bersama bhw ini bisa jadi efek domino, naiknya bhn baku yg hrs impor, biaya produksi, dll yg akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat. Memang nilai tukar tidak sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah karena dipengaruhi banyak faktor global. Namun kondisi seperti ini seharusnya semakin membuat pemerintah berhati2 dalam menentukan prioritas penggunaan anggaran. Setiap kebijakan besar perlu serius dipastikan punya dampak yang jelas dan tata kelola yang kuat.

Di sisi lain, masyarakat juga menghadapi isu2 terkait pajak. Paham sih.. negara butuh pendapatan dari pajak. Tidak ada pembangunan tanpa biaya. Tapi pajak tidak hanya bicara tentang kewajiban membayar tapi juga bicara tentang kepercayaan. Kita akan lebih mudah menerima kewajibannya ketika melihat uang negara digunakan dan dikelola dengan baik, hati2, tepat sasaran, dan transparan. Sebaliknya, ketika muncul program besar dengan banyak pertanyaan, sementara kita diminta disiplin berkontribusi, keresahan itu wajar muncul. Bukan karena gak mau ikut bangun negeri. Tapi ingin memastikan pajak yg kita setor dikelola dengan amanah.

Apalagi saat ini dibarengi dengan isu kenaikan BBM, rasanya makin berat hati karena ngerasa di sisi lain ada banyak APBN yang dikorup😞.. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Tentu tidak ada kebijakan yang sempurna. Pemerintah juga hadapi persoalan yang kompleks dan tekanan untuk menyelesaikan banyak masalah sekaligus. Namun justru karena itu, pemilihan prioritas menjadi semakin penting. Pada akhirnya, masy bukan nolak perubahan bukan nolak program besar. Yang diharapkan sederhana: setiap kebijakan benar2 lahir dari kebutuhan, dikelola dengan baik, dan dievaluasi dengan jujur ketika muncul masalah.

Semoga setiap rupiah uang rakyat benar2 kembali untuk kepentingan rakyat. Karena yang paling mahal dari sebuah kebijakan bukan hanya anggaran yang hilang, tetapi kepercayaan publik yang hilang. Semoga segera pulih Indonesia-ku.. aamiiin.


Januari 25, 2026

My Study Journey

Alhamdulillah .. finally i did it .. akhirnya dengan pertolongan Allah bisa menyelesaikan studi lanjut di Program Doktor Ilmu Komputer (PDIK) Departemen Teknik Informatika, FTEIC- ITS. Ini studi paling epic dalam hidup, bukan hanya penuh ilmu eksak, tapi juga penuh ilmu kehidupan. Banyak hikmah yang kutemukan, mulai dari belajar disiplin dengan timeline, melawan prokrastinasi, meredam drama2 yg bikin mood swing, memberanikan diri ngadepin masalah seruwet apapun dan gak nunda2 cari solusi (walaupun gak mudah). Pelan pelan, day by day, step by step, satu per satu masalah selama masa studi akhirnya bisa terurai. 

Banyak momen ketika langkah terasa tambah berat. Mulai dari ganti judul proposal 2x, berjibaku nyari - ngumpulin - ngolah dataset agar representatif dan reliabel, bolak balik uji coba untuk dapetin hasil plg optimal, mesti submit artikel konferensi intl padahal saat itu yg siap baru materi hasil studi literatur, blm lgi sebuah sub bab disertasi sampe 2x di-seminar kemajuan-kan, tahapan akhir disertasi yg sempet stag, nilai TOEFL belum tembus skor 500; hingga memutuskan break dulu alias cuti kuliah 1 semester ketika artikel jurnal intl di-reject (publikasi wajib).

Kesempatan cuti kuliah coba kumanfaatkan betul sesuai pesan tim promotor, untuk serius kejar tayang revisi artikel - submit ulang dan menyelesaikan laporan disertasi. Agar saat aktif kembali sudah siap maju sidang kelayakan dan sidang tertutup. Tapi teori memang tidak semudah praktik, ada saja kendala teknis dan di luar teknis yang mesti kuhadapi. Sementara batas waktu pendaftaran maju sidang makin dekat. Saat itu sempat pesimis “bisa selesai sesuai target tim promotor nggak ya?” 

Di titik itu, yang bisa dilakukan hanya men-sugesti diri untuk terus jalan sambil sesekali rehat tipis2 biar tetap "waras"😌, dan terus tengadahkan doa terbaik. Ikhtiar semampunya. Do the best I can. Man jadda wa jadda, pesan promotor S2 sekaligus S3-ku yang selalu kuingat: bahwa yang bersungguh-sungguh akan menuai hasilnya, dengan cara dan waktu yang ditentukan-Nya.
 
Singkat cerita, akhirnya bisa maju sidang kelayakan lanjut sidang tertutup. Alhamdulillah, 14 Januari 2026 selesai sidang tertutup dinyatakan lulus. Persyaratan yudisium yang seabreg juga sudah rampung.. legaa. Tapi agak sedih sih pas harus nggunting KTM S3 sebagai salah satu persyaratan, tetap bersyukur, beban ini telah lepas, tinggal nunggu wisuda, insyaaAllah April nanti. Semakin bersyukur karena di PDIK gak ada sidang terbuka - cukup "Perkenalan Doktor Baru" yang simple tapi hikmat, sungguh meringankan. Satu poin plus lagi, awal kami masuk PDIK masih terakreditasi B, kini sudah "Unggul" (2023 - 2028).. alhamdulillah barokallahu.

Perjalanan ini mengajarkanku pentingnya disiplin dan komitmen dengan diri sendiri. Bukan sekadar disiplin hadir bimbingan, bukan sekedar untuk menggugurkan kewajiban, tapi disiplin duduk buka laptop, baca jurnal, revisi bab, pahami coding, perbaiki hasil eksperimen, analisis data, perbaiki artikel, meski rasanya pengin "berpaling". Ternyata perang terberat bukan dengan revisi, tapi dengan diri sendiri yang kadang suka nunda dan cari alasan pembenaran ;)

Keberanian juga jadi kunci. Berani kirim draft ke promotor meski sadar belum sempurna. Berani datang bimbingan meski deg-degan karena ngerasa kurang siap. Berani baca komentar reviewer yang tajam lalu perlahan memperbaiki. Benar, kritik memang bukan untuk dihindari, tapi dihadapi dan jadikan panduan arah yg membangun. Seperti obat: pahit, tapi menyembuhkan.

Tentu aku gak sendirian, do'a dan dukungan dari orang-orang terdekat jadi bahan bakar utama. Suami dan anak-anak, ayah, ibu, bude, dan keluarga besar yang selalu mendoakan. Serta tim promotor yang selalu mengarahkan dan menyemangati, juga rekan-rekan seperjuangan yang saling membantu, saling berbagi cerita - info & tips - bahkan berbagi keluhan semata untuk saling menguatkan. Support system seperti ini benar-benar berarti.

Terima kasih banyak untuk semua do'a, bantuan dan dukungannya: keluarga tersayang, tim dosen promotor (Prof. Arif dan Prof. Daniel), tim dosen penguji (internal dan eksternal), para dosen pengampu, KaDep. Teknik Informatika - KaProdi PDIK - dan para staf khususnya Mbak Lina, para anotator dataset riset, rekan2 yg bantu ngoding, dan rekan2 seperjuangan. Terima kasih sebesar-besarnya juga untuk UMSIDA yang telah membiayai studi doktoral ini melalui beasiswa internal dan bantuan publikasi. Jazakumullahu khoiran katsira.. semoga ilmu dan pencapaian ini bermanfaat dan menjadi berkah bagi banyak pihak.. aamiiin.

Kalau ditarik ke belakang, perjalanan ini bukan sekadar memenuhi tanggung jawab dan kualifikasi profesi melalui pencapaian gelar Dr. Lebih dari itu, ini proses pematangan diri: belajar berpikir strategis dan kritis, lebih terstruktur, lebih sabar, lebih siap menghadapi kegagalan, dan lebih peka melihat bahwa hambatan itu sebenarnya pintu belajar. Ada bagian2 yang harus dilepas, kenyamanan yang harus dikorbankan, dan waktu yang harus direlakan untuk fokus. Tapi semua terasa sepadan. Sangat bersyukur di usia hampir senja ini masih diberi kesehatan, rejeki, dan kesempatan bisa menempuh studi ini. 

Pada akhirnya, semua pencapaian ini murni pertolongan Allah melalui ikhtiar, doa, dan tawakal. Jalur langit (sky link - kata temenku) itu nyata, selama tidak berputus asa, dan tidak menggantungkan harapan pada makhluk, tapi hanya kepada-Nya. Pesanku: nikmati setiap proses & setiap rasa dalam semua tantangan kehidupan. Lelahnya, takutnya, hampir menyerahnya.. juga legaaanya ketika berhasil melewatinya. Agar kelak saat menghadapi tantangan baru, kita bisa berkata, “Dulu saja Allah mampukan, insyaaAllah kali ini pun bisa.” 

Satu hal lagi, perjalanan studi ini mengingatkanku bahwa masih ada perjalanan panjang yang harus jauh lebih serius dipersiapkan: perjalanan pulang kembali kepada-Nya. Selamat bersiap sambut bulan suci Ramadhan, momen emas buat nambah bekal pulang, semoga Allah selalu berikan kesehatan, kelancaran beribadah dan memperbaiki semua urusan dunia akhirat kita.. aamiiin.

Sedikit berbagi abstrak keseluruhan tahapan disertasi: https://repository.its.ac.id/130310/, dan link artikel hasil salah satu tahapan disertasi: https://www.informatica.si/index.php/informatica/article/view/12087 mungkin ada yg berminat mengembangkan bisa kontak ke email: uceindahyanti@umsida.ac.id semoga bermanfaat.


update momen pasca wisuda.. terimakasih semuanya.. barokallahu fiikum💗