

Bus melalui jalur selatan, jemput kelg kakak suami di Nganjuk, lalu lanjut lewat Sragen – Purwodadi - Kudus. Setelah bersilaturahmi dan jalan2 tipis keliling kota Kudus : ke masjid menara kudus (terdapat komplek makam Sunan Kudus di sebelah masjid yg dibatasi tembok, sayangnya sempet kulihat ada yg sholat di makam itu.. astaghfirullah) , beli oleh2 khas kudus - jenang mubarok, dan icip2 soto daging kerbau khas Kudus - sabtu malam rombongan balik ke Surabaya. Alhamdulillah perjalanan pp aman dan cukup menyenangkan, walau sempet macet cukup lama di sekitar pintu masuk dan keluar tol Bandar - Kertosono.
Selasa 19 juni, nganter mbah uti dan bude pulkam sekalian mudik ke Situbondo. Esoknya habis subuhan lanjut jalan2 ke Banyuwangi. Qodarullah, mobil kami mengalami masalah di sekitar alas Baluran. Bersyukur tidak terlalu jauh dari rest area alas Baluran, dan ada pertolongan melalui P.Ahmad pemilik warkop yg buka 24 jam di rest area itu. Beliau membantu suamiku ngecek kondisi mobil dan menjemput teknisi yg biasa memperbaiki mobil2 yg mengalami masalah di sekitar alas Baluran itu. Sekitar 5 jam kami ‘terpaksa ngendon’ di situ, menunggu teknisi memperbaiki kerusakan + harus membeli suku cadang di Banyuwangi – yg jaraknya masih sekitar 50 km dari alas Baluran. MasyaaAllah..teknisinya menempuh perjalanan Baluran – Banyuwangi pp dengan santainya, tanpa helm dan tanpa persiapan apapun.
Saking lamanya menunggu, kami
sempet lesehan di amben bambu milik P.Ahmad. Si sulung bahkan sampe makan mie
instan 2x di warkop P.Ahmad itu, juga sempet ngerjain laporan praktikumnya – yg
memang sengaja dibawa saat berlibur, krn minggu depan sudah masuk kuliah. Si
bungsu sempet merengek minta pulang, setelah bosen foto2 obyek di sekitar alas..hehe.
Akhirnya..alhamdulillah sekitar jam 1 siang mobil selesai diperbaiki.
Jazaakumullahu khoir untuk P. Ahmad dan pak teknisi – sampe lupa gak nanya nama
beliau.
Hmmm…
rencana awal berangkat pagi2 dari Situbondo agar bisa mengunjungi beberapa destinasi
wisata sebelum cek in di hotel Mahkota – Genteng, akhirnya mesti disusun ulang.
Itinerary-nya sih ke Savana Bekol di Taman Nasional Baluran, mampir ke Waroeng
Kemarang – kulineran khas Banyuwangi yg katanya view sawah di sekitar 'warung' mirip di Ubud Bali dan baru diresmikan Menpar itu, ke Jawatan Benculuk - yg katanya deretan pepohonannya mirip seting dlm film Lord of the Ring itu, dan ke pantai Pulau Merah - yg lagi viral itu. Itulah .. manusia mmg hanya bisa
merencanakan, Allah yang menentukan, ambil hikmahnya saja.


Saat kami berkunjung, hanya dapat menyaksikan 3 ekor banteng jawa dan seekor rusa dari kejauhan. Menurut petugasnya, sebaiknya pagi2 sudah nyampe savana, jika ingin melihat gerombolan banteng dari dekat, yg biasa minum di beberapa kolam buatan di tengah2 savana. Infonya, banteng jawa di sana ‘sensitif’ dgn kehadiran pengunjung, bukan seperti di taman safari yg ‘dijamin’ hewan2nya pasti nongol he he.. Oya htm-nya murah, cuma 5 ribu per orang dan 10 ribu untuk mobil.

Sarapan di hotel sih sederhana.. suamiku bilang lebih pas untuk vegetarian hehe.. menunya capjay full sayuran,
bihun goreng, tahu dibumbu bali (?), acar dan krupuk. Minuman yg tersedia air mineral, teh dan kopi
hitam. Seperti biasa, jatah sarapan free per kamar untuk 2 orang saja, tapi jika nambah jatah untuk anggota keluarga lainnya cukup murah, hanya 20 ribu per orang. Sebandinglah dg menu yg sederhana itu, tapi lumayan enak koq rasanya. Sebelum
cek out kami pesen 2 porsi nasi gandrung dan nasgor jawa untuk bekal ke pantai.



Saat itu angin berhembus lumayan kencang, pas banget untuk bermain layang2 di sana. Sekitar area parkir,
toilet, area penjual souvenir dan warung – semuanya cukup bersih, banyak tersedia
tempat sampah. Petugas keamanan pantai beberapa kali memperingatkan melalui
pengeras suara tentang kebersihan, dan tentunya tentang batas aman bermain di
pantai bagi pengunjung. Juga menawarkan jika ada pengunjung yang ingin mencoba
belajar surfing didampingi pelatih.
Hmmm..
jarak yang jauh menuju pantai sungguh terbayarkan. Sepertinya
jajaran pemerintah di Banyuwangi benar2 berbenah untuk mendongkrak potensi
wisatanya – seperti yg sering kubaca dan kudengar di media. Meninggalkan
Pulau Merah, mesti balik lagi ke arah Genteng – ke arah hotel kami menginap yang
berada persis di tepi jalan raya ke arah Jember. Di Glenmore, sempet mampir
beli pia khas daerah itu. Murah, enak dan renyah. Tersedia banyak rasa,
mulai dari rasa pia yang konvensional sampai rasa cappuccino. Ada yg menarik
perhatianku saat membayar di kasir, di situ dipajang kotak kaca berisi patung wanita penari gandrung khas Banyuwangi. Hmm..cantik sih patungnya, tapi sebagai muslim janganlah kita tertarik untuk membuat atau mengoleksi patung mahluk bernyawa, kecuali untuk mainan anak2.. wallahu a'lam.

Pingin
sebenarnya mampir sholat di rest area atau di café Gumitir - daerah Kalibaru itu, krn di situ juga
ada beberapa spot menarik untuk dikunjungi. Seperti wisata keliling kebun kopi
dan ke pabrik kopi, termasuk ke terowongan kereta api peninggalan Belanda yang
masih berfungsi itu. Ada area outbond dan naik kuda juga di sekitar café itu. Tapi karena hari sudah menjelang maghrib jadi
kuatir kemalaman, perjalanan balik ke Sidoarjo masih lumayan jauh. Keluar dari
kawasan Gunung Gumitir, pemandangan berganti dengan banyak deretan pohon pinus..
hmmm… tetep hijau dan asri.
Setelah
ishoma di Bromo Asri deket Tongas, lanjut jalan menuju Sidoarjo. Alhamdulillah
nyampe rumah dg selamat sekitar jam 12 malam. Sudah kebayang bakal borongan nyuci
nyetrika dan beres2 rumah nih.. Setelah itu, persiapan fisik dan mental kembali
ke aktifitas normal termasuk persiapan ngantor lagi. Hmm masih banyak pe
er di kantor, mesti disugesti untuk kembali 'wake up' he he.
Finally... masih dalam suasana lebaran, kami ucapkan "Taqobballallahu minna wa minkum, semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan tahun depan .. aamiiin".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar