Beberapa hari ini lagi rame beredar berita pesta kaum bot* yang bikin miris (https://news.detik.com/berita/d-8525485/fakta-miris-pesta-gay-di-karawang-didominasi-remaja). Sebenarnya fenomena ini bukan hal baru, tetapi yang bikin prihatin ketika perilaku menyimpang itu semakin terlihat terbuka, bahkan sebagian mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.. naudzubillah.
Ribuan tahun lalu perilaku menyimpang itu telah terjadi dan akibatnya pun bukan main. Kisah Nabi Luth berulang kali diabadikan dalam Al-Qur’an (diantaranya di QS. Al-A’raf: 80-81; QS. At-Tahrim: 10) sebagai peringatan bagi manusia sepanjang jaman. Pesannya jelas, penyimpangan itu pernah terjadi dan bisa muncul kembali, serta setiap pilihan manusia akan membawa konsekuensi. Hingga kini, jejak kisah itu sering dikaitkan dengan Laut Mati - sebuah tempat yang menjadi pelajaran dan pengingat bersama.
Dari kisah sahih tersebut ada bagian lain yang bikin merenung, yaitu tentang istri Nabi Luth, yang notabene hidup bersama seorang Nabi, berada di lingkungan keluarga utusan Allah. Tetapi kedekatan itu ternyata tidak serta merta menjadikan seseorang selamat. Para ulama menjelaskan bahwa istri Nabi Luth bukan termasuk orang yang melakukan perbuatan kaumnya tersebut, tetapi ia tidak beriman dan memilih berpihak kepada mereka. Di antaranya disebutkan ia membantu kaumnya dengan memberi kabar tentang tamu Nabi Luth (malaikat yang datang menyamar sebagai pemuda tampan). Ketika akhirnya datang ketetapan Allah, Nabi Luth dan orang2 yang beriman diperintahkan meninggalkan negeri tersebut. Namun istrinya termasuk orang yang tertinggal dan ikut menerima azab bersama kaumnya. Sebuah pelajaran besar bahwa keluarga seorang Nabi sekalipun tidak menjamin keselamatan jika tidak diiringi dengan iman dan ketaatan kepada Allah.
Kusarikan juga dari artikel https://muslim.or.id/27509-membenarkan-lgbt-karena-alasan-takdir.html dan https://www.uii.ac.id/psikologi-islam-menjawab-perilaku-lgbt/, bahwa kehidupan dunia adalah tempat ujian. Setiap manusia diuji dengan bentuk yang berbeda2. Yang terpenting bukan membenarkan kesalahan dengan alasan takdir, tetapi terus berusaha memperbaiki diri dan kembali pada-Nya. Bahwa manusia diciptakan dengan kecenderungan untuk memilih jalan kebaikan ataupun keburukan. Maka tugas kita adalah terus menjaga hati agar tetap dekat dengan petunjuk Allah. Kondisi hati manusia bisa berbeda-beda, ada hati yang sehat, hati yang sakit, dan hati yang mati. Ketika kita makin dekat dengan-Nya, maka itu juga ngaruh ke amalan dan pilihan hidup kita. Karena pada akhirnya yang mampu membolak-balikkan hati manusia hanyalah Allah Ta'ala.
Di sinilah pentingnya peran keluarga dan lingkungan. Banyak hal dalam perjalanan hidup seseorang yang dapat mempengaruhi cara berpikir, kebiasaan, dan keputusan yang diambilnya. Karena itu membangun keluarga yang dekat dan hangat, komunikasi yang baik, serta lingkungan yang sehat menjadi hal yang sangat penting. Sebagai ortu, kita tahu saat ini mendidik anak2 tantangannya makin besar. Mereka tumbuh di era ketika paparan informasi mudah masuk dari segala arah. Sesuatu yang terus menerus dilihat dan ditampilkan, perlahan bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Maka bekal terbaik tentu bukanlah harta dan koneksi, tetapi pondasi iman dan ilmu, keluarga dan lingkungan yang saling mendukung. Jangan sampai kita sibuk melihat ujian orang lain tetapi lupa menjaga diri dan keluarga. Jangan sampai pula merasa aman, karena hidayah murni milik Allah dan hati manusia mudah berubah tanpa pertolongan-Nya.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
Wallahu a'lam.. barokallahu fiikum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar