September 16, 2026

My Family Umrah Journey

Alhamdulillah... akhirnya Allah kabulkan salah satu keinginan yang sudah lama ada dalam doa: umroh bersama keluarga. 2 September lalu kami berangkat ke Tanah Suci. Ini first umrah kami sekeluarga, jadi tentu rasanya campur aduk. Seneng, excited, haru, tapi juga deg-degan karena benar-benar belum punya pengalaman. Sudah banyak baca, banyak tanya, browsing ini-itu, tapi tetap saja namanya pengalaman pertama pasti ada rasa, "Nanti di sana gimana ya?". Dan ternyata perjalanan umroh itu gak dimulai saat pesawat take off. Jauh sebelumnya, perjalanan sudah dimulai dari berbagai ikhtiar: riset kecil-kecilan untuk memilih travel, belajar manasik, menyiapkan fisik, sampai urusan packing dengan segala printilannya. Sekarang setelah semuanya selesai dan kami sudah kembali ke rumah, rasanya sayang kalau cerita ini hanya tersimpan di galeri HP. Selain untuk menyimpan kenangan, siapa tahu ada hal-hal kecil yang bisa bermanfaat buat teman-teman yang juga sedang bersiap menjalani first umrah seperti kami.

Salah satu pe-er pertama tentu saja: pilih travel yang mana? Pilihan travel umroh sekarang banyak banget. Paketnya macam-macam, fasilitasnya kelihatannya mirip2, harga juga bervariasi. Apalagi kami berangkat sekeluarga, jadi faktor biaya tentu ikut diperhitungkan. Tapi sejak awal concern kami bukan sekadar cari yang murah. Kami ingin travel yang amanah, pembimbingan ibadahnya baik dan sesuai sunnah, handling jamaahnya proper, hotel dekat masjid, itinerary jelas, dan tentu saja harganya masih reasonable.

Mulailah riset kecil-kecilan.Baca paket. Bandingkan fasilitas. Cari tahu lokasi hotel. Tanya-tanya pengalaman yang sudah pernah berangkat. Lihat bagaimana manasiknya dan bagaimana pendampingan jamaah selama di Tanah Suci. Setelah menimbang ini itu, akhirnya bismillah kami memilih Hamdan Tour. Alhamdulillah setelah menjalani sendiri seluruh rangkaiannya, dari sebelum berangkat, selama di Tanah Suci, sampai kembali ke Indonesia, pilihan kami sesuai harapan. Salah satu yang paling berkesan adalah handling dan service-nya, juga bimbingan umrohnya yang sesuai sunnah. Sejak sebelum keberangkatan, urusan barang dan berbagai kebutuhan jamaah ditangani dengan proper. Selama perjalanan pun tim selalu sigap membantu. Hal2 yang mungkin kalau dilihat sederhana, tapi buat jamaah first timer seperti kami ternyata sangat berarti. Ada rasa tenang karena kalau bingung ada tempat bertanya, kalau ada masalah ada yang membantu. Kami pun bisa lebih fokus menjalani perjalanan sekaligus beribadah. Mereka benar-benar melayani jamaah dengan sepenuh hati, before, during, and even after the journey. 

Setelah travel beres, masuk ke tahap berikutnya: packing dan printilan yang rasanya gak habis-habis. Mana yg bisa masuk kabin dan mana yg hrs masuk koper bagasi. Nah... ternyata packing umroh punya tantangan tersendiri. Karena first timer, rasanya semua ingin dibawa. Buka koper. Masukin barang. Browsing lagi, "barang yang wajib dibawa saat umroh". Nemu rekomendasi baru, masukin lagi. Merasa kebanyakan, keluarin sebagian. Besoknya mikir, "Kayaknya ini penting deh..." masukin lagi. Repeat ;)

Ada mukena, sajadah tipis, sandal, tas sandal, obat-obatan, toiletries, pelembap, masker, kaos kaki, kantong ini-itu, charger, adaptor, powerbank, spray kecil (untuk wudhu kondisi darurat dan penyegar muka), botol minum dan berbagai printilan yang di rumah kelihatannya sepele tapi di perjalanan ternyata berguna. Setelah mengalami sendiri, menurutku prinsip packing umroh sebaiknya bukan "kira2 apa yang mungkin dibutuhkan?", karena kalau pakai prinsip itu satu rumah rasanya ingin dimasukkan koper. Lebih tepatnya: "Apa yang kemungkinan besar benar-benar akan dipakai?" Apalagi jangan lupa masih ada agenda beli oleh-oleh. Sisakan ruang koper. Trust me..

Manasik via Zoom dan pemantapan di bandara. Sebelum keberangkatan kami mengikuti manasik via Zoom. Buat kami yang baru pertama kali umroh, sesi ini penting banget. Walaupun sebelumnya sudah diberikan buku saku panduan umroh, tetap berbeda ketika rangkaian ibadah dijelaskan secara runtut oleh pembimbing/ muthawwif. Apa yang dilakukan, urutannya bagaimana, apa yang perlu diperhatikan, sampai berbagai hal kecil yang sebelumnya mungkin gak terpikir. Sebelum berangkat, saat jamaah sudah berkumpul di bandara, tim Hamdan Tour memberikan pemantapan lagi. Jazaakallahu khair, Ustadz Azka, yang sangat soft-spoken dan sabar membimbing kami. Semacam final briefing sebelum benar-benar terbang. Ini menurutku penting, karena materi yang rasanya sudah paham saat duduk santai di rumah bisa mendadak agak buyar begitu sudah di bandara.

Koper di mana-mana, dokumen harus dijaga, anggota keluarga mesti dipastikan lengkap, sementara pikiran sudah melayang membayangkan Madinah dan Mekkah. Bagusnya lagi, selama di Tanah Suci paspor kami disimpan oleh tim Hamdan Tour untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kami hanya diwanti-wanti untuk selalu memakai name tag SISKOPATUH yang sudah disiapkan pihak travel sejak keberangkatan. Ustadz Haikal dan tim Hamdan di Saudi sangat memperhatikan detail-detail seperti ini. Terima kasih, jazaakumullahu khair. Di sinilah proper handling dari travel mulai benar-benar terasa. Bus yang kami pakai selama di Saudi pun terasa nyaman.

Sampai di Madinah rasanya sulit dijelaskan. Madinah... tenangnya beda. Entah kenapa kotanya punya suasana yang berbeda. Hotel kami alhamdulillah sangat strategis dan dekat dengan Masjid Nabawi. Setelah mengalami sendiri, baru terasa bahwa lokasi hotel ini penting banget. Waktu lihat brosur travel, jarak beberapa ratus meter mungkin terasa "ah, deket itu." Coba jalani beberapa kali sehari. Pergi ke masjid, balik hotel, pergi lagi. Belum lagi kalau badan capek atau sedang kurang fit. Jadi buat teman-teman yang sedang memilih paket umroh, saranku jangan cuma lihat bintang hotel atau foto kamarnya. Cek juga lokasinya di maps dan akses menuju masjid. Hotel yang dekat masjid itu benar-benar privilege.

Hari2 di Madinah kemudian berjalan dengan ritme sederhana: masjid - hotel - sedikit jalan2 di sekitar masjid Nabawi - istirahat - ke masjid lagi. Madinah sungguh tenang dan damai. Takjub dengan kecanggihan teknologi payungnya. Duduk diam sambil berdzikir sehabis sholat sambil menikmati sunset dan kemegahan payung-payung raksasanya yang menguncup.. sungguh mengesankan. 

Di Madinah, aku bersama ibuibu rombongan yang gak dapat jadwal ke Raudah, dibantu Ummu Hasby (owner Hamdan Tour) bisa masuk ke sisi terdekat Raudah, sehingga kami tetap bisa merasakan feel-nya Raudah dari area terdekat. Jazaakillahu khoir Ummu Hasby. Untuk jadwal Raudah, masing-masing jamaah perlu mengusahakan sendiri melalui aplikasi Nusuk, bukan lagi di-handle oleh travel. 

City tour Madinah: ternyata bukan sekadar jalan-jalan. Agenda city tour di Madinah membawa kami ke Masjid Quba, Jabal Uhud dan kebun kurma.Yang membuatnya menarik bukan sekadar datang, foto, lalu pindah ke destinasi berikutnya. Sepanjang perjalanan pembimbing menceritakan sirah Nabawiyah yang berkaitan dengan tempat-tempat yang kami lihat. Ini yang aku suka. Tempat yang tadinya hanya sebuah nama mendadak punya cerita. Jabal Uhud misalnya. Ustadz Azka nyritain detil bagaimana peristiwa penting pernah terjadi di gunung itu. Selama ini tentu sudah sering mendengar kisah Perang Uhud. Tapi berdiri dan melihat sendiri kawasan tersebut sambil mendengar kembali kisah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat rasanya beda. Sejarah seperti berubah dari teks menjadi landscape yang nyata.

Shahih Muslim 2467: Telah menceritakan kepada kami [Ubaidullah bin Mu'adz] telah menceritakan kepada kami [bapakku] telah menceritakan kepada kami [Qurrah bin Khalid] dari [Qatadah] telah menceritakan kepada kami [Anas bin Malik] ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Uhud adalah bukit yang mencintai kita dan kita pun mencintainya”. Begitu juga Masjid Quba.  “Siapa yang bersuci di rumahnya, lalu ia mendatangi masjid Quba’, lantas ia melaksanakan shalat di dalamnya, maka pahalanya seperti pahala umrah.” (HR. Ibnu Majah, no. 1412, An-Nasai, no. 700. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Ada cerita, perjuangan dan perjalanan panjang di balik tempat-tempat yang sekarang bisa kami datangi dengan kendaraan nyaman. Kami sempat mampir juga ke kebun kurma, lihat2 dan sedikit berbelanja. Mekkah dan pertemuan pertama dengan Ka'bah. 

Kalau Madinah memberi rasa tenang, Mekkah punya rasa yang berbeda. Terutama ketika pertama kali masuk Masjidil Haram dan melihat Ka'bah. MasyaaAllah.... Ka'bah yang seumur hidup menjadi arah sholat kita, yang selama ini hanya kulihat dari foto, video, atau siaran televisi, sekarang benar-benar ada di depan mata. Sulit menjelaskan rasanya. Ada haru, syukur, rasa kecil bak debu sebagai manusia, sekaligus banyak sekali doa yang rasanya ingin disampaikan. "Ya Allah... akhirnya sampai juga." Kami juga takjub dengan masjidil Haram, waqaf keluarga kerajaan untuk perluasan masjid, dan kecanggihan teknologi sound system nya yg begitu presisi shg semua jamaah dari segala penjuru masjidil Haram dpt mendengar seruan adzan iqomah dan suata sang Imam tanpa delay.. masyaaAllah tabarokallahu.

Terimakasih banyak tim Hamdan Tour, salah satu hal yang kusyukuri adalah kami mendapat bimbingan umroh sesuai sunnah. Buat first timer, pembimbing yang benar-benar mengarahkan ibadah jamaah sesuai sunnah yaitu dengan mencontoh apa yang sudah dilakukan Rasulullah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sangat membantu. Karena teori yang sudah dipelajari bisa terasa berbeda ketika dipraktikkan di tengah ribuan manusia, dalam kondisi badan yang mulai lelah dan suasana yang sangat ramai.

Mekkah — Madinah: baru sadar sejauh apa perjalanan hijrah baginda Rasul dan para sahabat. Ada satu pengalaman yang sebelumnya gak terlalu kupikirkan, tapi justru sangat membekas setelah berada di sana. Jarak Mekkah ke Madinah. Selama ini kita sering mendengar kisah hijrah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari Mekkah menuju Madinah bersama para sahabat. Cerita itu begitu familiar.
Tapi setelah benar-benar berada di sana, melihat kondisi geografisnya dan menempuh sendiri perjalanan antara dua kota itu, aku baru tersadar. Ternyata sejauh itu. Kami menjalaninya dengan kendaraan nyaman. Duduk manis di bus yang nyaman ber-AC. Jalanannya mulus. Banyak bekal makanan dan minuman. Tapi perjalanan tetap terasa panjang.

Lalu membayangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat menempuh perjalanan hijrah di masa itu... Benar2 gak kebayang. Bentangan padang pasir yang tandus. Cuaca yang terik dan kering. Belum ada jalan raya seperti sekarang. Gak ada kendaraan ber-AC, rest area, minuman dingin dan segala kenyamanan perjalanan modern. Dan hijrah tentu bukan perjalanan wisata. Ada perjuangan, ancaman, pengorbanan, meninggalkan kampung halaman dan segala yang dimiliki demi mempertahankan keimanan. Di situ rasanya kisah hijrah yang selama ini dibaca di buku mendadak punya dimensi yang berbeda. Jaraknya nyata. Teriknya nyata. Tandusnya tanah yang dilalui juga nyata. 

Dan perjuangan Beliau tentu jauh lebih berat daripada yang sanggup kita bayangkan hari ini.
Kadang memang harus melihat sendiri tempatnya supaya cerita yang sudah berkali2 kita dengar terasa hidup. Kami hanya mencicipi sedikit sekali gambaran medannya, itu pun dengan segala kenyamanan zaman sekarang. Justru dari kenyamanan itu muncul rasa malu sekaligus syukur. Beliau dan para sahabat menempuh perjalanan sejauh itu untuk menjaga dan memperjuangkan agama ini. Sementara kita hari ini menerima Islam dalam keadaan semuanya sudah begitu dimudahkan. MasyaaAllah tabarokallahu..

City tour Mekkah: sirah yang berubah menjadi landscape nyata. City tour Mekkah membawa kami melihat Jabal Tsur, Jabal Rahmah, dan rangkaian Armuzna : Arafah - Muzdalifah - Mina: tiga situs utama dan puncak dari ibadah haji. Nama2 ini tentu sudah sangat familiar. Setiap musim haji kita mendengarnya. Tapi ternyata melihat sendiri tempatnya memberikan perspektif yang berbeda. Potongan-potongan cerita yang sebelumnya hanya ada di kepala seperti tersambung satu per satu. Begitu pula ketika melihat Jabal Tsur dan mendengar kembali kisah perjalanan hijrah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Di situ aku makin merasa bahwa city tour sebenarnya bukan sekadar bonus jalan-jalan dalam itinerary umroh. Ini seperti kelas sirah di alam terbuka. Belajar sejarah sambil melihat langsung geografis tempat peristiwa itu pernah terjadi. Dan storytelling dari pembimbing membuat semuanya terasa jauh lebih hidup.

Foto di atas berlokasi di Jabal Rahmah saat city tour Mekah bersama jamaah paling sepuh di rombongan kami, mbah kung dan mbah uti yg berusia sekitar 80 tahun, tapi masih sehat dan tak pernah sekalipun kulihat beliau berdua pakai kursi roda, baik saat tawaf, sa'i maupun di keseharian selama di dua tanah suci.. masyaaAllah tabarokallahu.

Salah satu destinasi yang juga sangat berkesan adalah Museum Wahyu di kawasan Gua Hira. Kisah turunnya wahyu pertama tentu sudah kita dengar sejak kecil. Iqra'. Tapi lagi-lagi, berada di kawasan tempat sejarah besar itu bermula memberikan rasa yang berbeda. Museum membantu kita memahami kisah turunnya wahyu dan perjalanan kenabian dengan penyajian yang lebih visual. Buatku ini menarik karena informasi sejarah yang selama ini hanya berupa teks menjadi lebih mudah dibayangkan.
Tapi di tengah suasana serius belajar sejarah, selalu ada cerita receh yang justru gampang diingat. Di area souvenir kami bertemu penjual yang cukup fasih berbahasa Indonesia disertai sedikit banyolan untuk promosiin jualannya. Auto ketawa. Entah sudah berapa ribu jamaah Indonesia yang mampir ke tokonya sampai skill bahasa Indonesianya naik level ;)

Hal lain yang cukup berkesan adalah mencari tempat sholat yang nyaman di masjidil Haram. Sebagai first timer, Masjidil Haram awalnya lumayan bikin bingung. Luas. Pintunya banyak. Lantainya banyak. Eskalator di mana-mana. Jamaah datang dari berbagai arah. Bersyukur pembimbing kami di awal2 masuk masjidil Haram sudah ngasih banyak informasi dan petunjuk yang mudah diikuti untuk pp hotel – masjid. Sehingga kami merasa tenang dan aman saat beribadah mandiri setelah prosesi umroh. Dan satu tips yang menurutku penting banget: tentukan meeting point yang spesifik.
Tawaf wada' dan rasa berat untuk pergi. Salah satu momen yang paling membekas buatku adalah tawaf wada'. Mungkin karena tahu ini adalah tawaf perpisahan sebelum meninggalkan Mekkah.

Untuk first timer, menurutku memilih waktu dan tempat tawaf yang nyaman juga penting. Jangan selalu berpikir semakin dekat dengan Ka'bah pasti semakin baik untuk kondisi kita. Kepadatan jamaah berubah-ubah. Kadang area yang sedikit lebih jauh atau lantai lain justru membuat kita bisa menjalankan tawaf dengan lebih tenang.

Termasuk saat tawaf Wada’ sehari sebelum kepulangan kami ke tanah air. Alhamdulillah.. aku dan si bungsu bisa tawaf wada’ persis di pelataran Ka’bah, sekaligus dapat rejeki bisa menyentuh Ka’bah dan melihat langsung maqom Nabi Ibrahim - sebuah batu tempat Nabi Ibrahim berpijak saat membangun kembali Ka'bah (bekas dua tapak kaki Nabi Ibrahim tersebut kira-kira berukuran panjang sekitar 27 cm, lebar 14 cm, dan kedalaman 10 cm). Dan setelah putaran terakhir tawaf wada' selesai, rasanya ada sesuatu yang berat. Entah kapan bisa berdiri di tempat itu lagi.Entah kapan bisa melihat Ka'bah lagi. Ada satu doa yang rasanya spontan muncul: "Ya Allah... jangan jadikan ini kunjungan terakhir kami." 

Demam, batuk, dan obat mahal. Namanya perjalanan tentu gak semuanya mulus.Di Mekkah aku sempat demam dan batuk. Mungkin kombinasi aktivitas yang padat, perubahan cuaca, kurang istirahat, dan bertemu jamaah dari berbagai penjuru dunia. Akhirnya beli obat di apotek sebelah hotel kami di area Ajyad. Obatnya dapat. Alhamdulillah. Pas bayar... Hmm. Kok lumayan mahal ya? Di situlah baru kepikiran: kenapa gak bawa obat lebih lengkap dari Indonesia? Jadi buat teman-teman yang mau umroh, terutama first timer, bawa obat-obatan pribadi secukupnya. Obat demam, flu, batuk, sakit tenggorokan, lambung, diare, oralit, vitamin, plester dan obat rutin pribadi. Bukan berarti di sana gak ada apotek.Tapi selain mereknya belum tentu familiar, pengalaman beli obat di area dekat hotel kami di Mekkah lumayan bikin sadar bahwa obat dari rumah jauh lebih economical.

Bin Dawood to the rescue. Untuk urusan kebutuhan sehari2 dan sebagian oleh-oleh, Bin Dawood lumayan jadi penyelamat. Butuh cemilan, buah tambahan, toiletries atau tiba2 sadar ada barang yang lupa dibawa? Bin Dawood. Mau cari kurma, cokelat atau oleh-oleh? Bin Dawood lagi ;) Enaknya harga sudah jelas dan kita bisa santai pilih sendiri. Satu tips dariku: jangan kalap belanja oleh-oleh terlalu awal. Buat list dulu: mau beli apa dan untuk siapa. Dan lebih baik sebagian besar oleh2 beli di tanah air saja (rekomendasiku di toko Nabawi – cukup lengkap dan harganya terjangkau).

Karena kalau setiap lihat sesuatu berpikir, "kayaknya bagus buat oleh-oleh", lama2 masalahnya bukan lagi berapa riyal yang keluar. Tapi gimana caranya nutup koper dan menjaga agar tidak kelebihan bagasi. Oya perlu juga bawa timbangan digital, selain itu jerigen portabel untuk ambil air zam2 di masjid buat persediaan di kamar hotel, timba portabel dan hanger lipat untuk sedikit nyuci pakaian dalam. Baju2 lbh baik baik di-laundry saja – selama seminggu di Mekkah kami 3x nge-laundry ke sebuah binatu kecil di dalam Mall Mira di area Ajyad, cuci kering tanpa setrika10 SAR per kilonya.

Beberapa catatan kecil buat sesama first timer. Setelah mengalami sendiri, ada beberapa hal sederhana yang ternyata cukup penting. Persiapkan fisik sebelum berangkat. Biasakan jalan kaki beberapa minggu sebelumnya. Walaupun hotel dekat masjid, total langkah dalam sehari tetap bisa lumayan. Pakai sandal atau alas kaki yang benar-benar nyaman. Fashion urusan belakangan. Bawa tas sandal dan biasakan sandal langsung dimasukkan ke tas. Tentukan meeting point yang jelas kalau pergi bersama keluarga.
Bawa obat yang biasa cocok dengan tubuh kita. Rajin minum.Jangan abaikan istirahat. Dan sisakan space di koper sejak dari Indonesia.

Satu lagi...Jangan terlalu sibuk mendokumentasikan semuanya.Foto penting.Video juga menyenangkan buat kenangan.Tapi ada momen2 yang rasanya lebih baik dinikmati tanpa layar HP di depan mata.Biarkan mata melihat.Biarkan hati menyimpan.Ternyata yang paling berkesan bukan hanya Ka'bah. Kalau ditanya bagian mana yang paling berkesan dari perjalanan ini, rasanya susah memilih. Pertama kali melihat Ka'bah? Masjid Nabawi? Tawaf? Perjalanan Mekkah–Madinah? City tour dan mendengarkan sirah? Atau kejadian-kejadian kecil selama perjalanan? Jor2an sedekah makanan minuman dari warga lokal dan jamaah yang banyak kami temui saat umroh juga sungguh berkesan.
Semuanya punya cerita.Tapi satu yang paling kusyukuri: Allah memberi kesempatan menjalani perjalanan ini bersama keluarga.Pergi bersama.Ibadah bersama.Capek bersama.Saling tunggu. Saling ingatkan. Hal-hal yang kelihatannya sederhana, tapi ternyata menjadi bagian paling personal dari perjalanan ini.

Dan tentu perjalanan kami menjadi jauh lebih ringan karena banyak orang yang membantu. Tim Hamdan Tour, pembimbing, muthawwif dan semua yang mendampingi sejak sebelum keberangkatan, selama di Tanah Suci sampai kami kembali pulang. Ada banyak pekerjaan mereka yang mungkin gak terlihat: handling koper, koordinasi kendaraan dan kamar, mengarahkan rombongan, memastikan jamaah lengkap, menjawab pertanyaan, membantu ketika ada kebutuhan, dan mungkin menyelesaikan berbagai drama di belakang layar yang jamaah bahkan gak tahu. Sekarang aku paham bahwa proper handling dalam perjalanan seperti ini bukan hal kecil. Ketika kita berada ribuan kilometer dari rumah, ada orang yang siap membantu itu memberikan rasa aman yang luar biasa. Jazakumullahu khoiran katsira tim Hamdan Tour dan semua yang sudah membantu perjalanan kami.

Dan akhirnya... pulang. Ketika perjalanan selesai dan kami kembali ke Indonesia, tentu senang bisa pulang ke rumah. Tapi ternyata ada rasa kehilangan. Rindu suasana Masjid Nabawi. Rindu melihat Ka'bah. Rindu suasana Masjidil Haram. Rindu ritme kehidupan yang beberapa hari sebelumnya terasa biasa saja: bangun, bersiap ke masjid, berjalan bersama ribuan orang dari berbagai negara, sholat, kembali hotel, lalu mengulanginya lagi.

Apa yang kita bawa pulang dalam diri kita sendiri. Apakah sholat menjadi lebih dijaga? Apakah lebih mudah mengingat Allah? Apakah lebih sabar? Apakah setelah melihat langsung tempat-tempat perjuangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat, kita menjadi lebih menghargai nikmat iman yang hari ini kita terima dengan begitu mudah?

Perjalanan ini juga mengingatkanku bahwa hidup sebenarnya punya pola yang mirip sebuah perjalanan. Kita sibuk menyiapkan bekal. Memilih apa yang perlu dibawa dan apa yang sebaiknya ditinggalkan. Berangkat ketika waktunya tiba. Di perjalanan ada senang, capek, sakit, bingung, takut, tertawa, bertemu orang-orang baik, kadang tersesat sebentar, lalu menemukan jalan lagi. Dan akhirnya... Pulang. Kalau untuk perjalanan beberapa hari ke Tanah Suci saja persiapannya bisa berbulan-bulan, packing-nya dipikirkan begitu detail, bekalnya dihitung, itinerary dipelajari, fisik disiapkan. Lalu sudah seberapa serius kita mempersiapkan perjalanan pulang yang sebenarnya? Perjalanan kembali kepada-Nya.

Alhamdulillah untuk perjalanan yang luar biasa ini. Terimakasih Ya Robb untuk kesehatan, rejeki dan kesempatan. Untuk setiap kemudahan.Untuk orang-orang baik yang Allah kirimkan sepanjang perjalanan.Untuk rasa lelah, sakit, haru, tawa, pengalaman baru, bahkan drama-drama yang sekarang berubah menjadi cerita. Alhamdulillah wa syukurilah Engkau mampukan kami datang memenuhi panggilan-Nya bersama keluarga. Semua murni karena pertolonganMu Ya Allah. Allah berikan kelancaran saat berangkat - saat prosesi umroh- saat kepulangan-pun demikian.. kami bisa mulus mendarat di Bandara Soetta setelah sebelumnya ditutup karena dampak abu vulkanik anak Krakatau.

Dan ada satu doa yang sampai sekarang rasanya masih ingin terus diulang. Ya Allah.. terimalah amal ibadah umroh kami, jangan jadikan ini kunjungan terakhir kami. Undang kami kembali. Bersama orang2 yang kami sayangi. Dalam keadaan lebih sehat, lebih siap, lebih berilmu, dengan iman dan hati yang jauh lebih baik. Aamiiin ya Rabbal 'aalamiin.

Our first umrah journey. First.. insyaaAllah not the last.

Tidak ada komentar: