Oktober 17, 2016

Menjadi Dosen Profesional ...

Rabu 12 Oktober 2016 lalu, berkesempatan mengikuti Workshop Pengembangan Karir & Profesi Dosen yang diselenggarakan oleh Kopertis Wilayah VII. Pemateri workshop terdiri dari Koordinator Kopertis VII - Prof. Suprapto dan Dirjen SDID Kemristek DIKTI - Prof. Ali Gufron (dulu beliau juga pernah menjabat wakil menteri kesehatan).
Sebenarnya workshop ini untuk dosen DPK (dosen PNS yang dipekerjakan Kopertis atau diperbantukan untuk bertugas di PTS), tapi dosen DPK kami berhalangan hadir saat itu.

Pada sesi pertama, Koord. Kopertis 7 mengawali paparannya dengan pertanyaan yang menarik, "apakah dosen-dosen di depan saya ini adalah dosen yang profesional? sebelum menjawab, mari berkaca dulu pada cermin yang jernih ". Yang kupahami 'cermin jernih' yang beliau maksud adalah semua aturan atau regulasi yang mengatur tentang penjaminan mutu perguruan tinggi dan mutu dosen, antara lain PP no 37 tahun 2009, PP no 53 tahun 2010, UU no 12 tahun 2012, UU no.5 tahun 2014, Permenristekdikti no 44 tahun 2015, UU no. 14 tahun 2015, dan peraturan lain yang terkait. Dosen memang mesti aware terhadap aturan-aturan yang memayunginya agar bisa menjadi dosen profesional sekaligus tidak salah langkah.

Tahapan menjadi dosen yang profesional menurut beliau adalah sebagai berikut :
berawal dari passion - pengembangan diri / studi lanjut - mengasah teaching skill - melakukan riset dan abdimas - dan mempublikasikannya.
Kepedulian terhadap pengembangaan karir dan profesinya bisa diwujudkan melalui studi lanjut, mengikuti training / workshop, mengurus kenaikan jabatan akademik secara berkala, dan berupaya untuk memperoleh sertifikat pendidik (serdos). 

Dosen profesional juga harus berkomitmen terhadap waktu / jam kerja sekaligus komit melaksanakan dan menyelesaikan tugas-tugas tri dharmanya. Jika mengacu pada Permendikbud no 107 tahun 2013 maka jam kerja dosen per minggu nya 37.5 jam. Idealnya kehadiran dosen di kampus rata-rata 8 jam per hari (dipotong jam istirahat), dan selayaknya jam kerja tersebut digunakan secara optimal untuk melaksanakan kegiatan pengajaran, meneliti, abdimas, serta kegiatan yang berhubungan dengan jabatan struktural untuk dosen dengan tugas tambahan (DT). Kesimpulan beliau, dosen profesional itu mesti mempunyai tiga hal : well skill - well etic - well pay.

Pada sesi kedua, Dirjen SDID Kemristek DIKTI memaparkan aturan-aturan seputar jabatan akademik (jakad) dan prosedur pengurusan kenaikan jabatan. Beliau juga memotivasi peserta workshop untuk dapat mengurus kenaikan jabatan akademiknya secara berkala. Dengan bercanda beliau bilang " mumpung sekarang masih masuk masa-masa mudah dalam pengurusan jakad, maka bersegeralah ngurus, ntar kalo sudah masuk masa-masa sulit, kami gak bertanggung jawab lo ya" he he beliau bisa saja. Beliau juga menguatkan 'pernyataannya' dengan menampilkan sebuah foto pelantikan seorang guru besar di Fakultas Kedokteran UNAIR yang baru-baru ini berhasil meraih guru besar (profesor) hanya dalam jangka waktu 2 bulan - tidak lagi bertahun-tahun seperti masa sebelumnya.

Sesi terakhir workshop diisi tanya jawab, antara lain sebagai berikut :
(1) keluhan peserta tentang kebiajkan terbaru yang menghentikan uang makan DPK
jawab : ada aturan bahwa uang makan diberikan pada PNS yang bertugas dalam lingkungan kantor yang sama - itu yg berhasil kusimak, cmiiw yaa;
(2) sulitnya proses mutasi DPK Kopertis 7 ke PTN
jawab : pada prinsipnya DPK bisa mutasi ke PTN dg syarat ada surat ketr rasio, srt ketr diterima di PTN tujuan, srt lolos butuh dari PTS asal, dan ijin dari Kopertis. tapi saat ini Kopertis 7 belum mengijinkan karena terbatasnya jumlah DPK di wilayahnya dan juga mengingat data rasio dosen di PTS Jatim yang masih kurang;
(3) lamanya masa tunggu CPNS memperoleh SK PNS padahal telah menyelesaikan prajab, sehingga tidak bisa studi lanjut atau ngurus jakad
jawab : harap bersabar dan ikuti saja aturan yang berlaku untuk amannya;
(4) keluhan sebagian PTS yang "jalannya tertatih-tatih" karena mahasiswanya sedikit atau karena sunber daya yang dimilikinya lemah
jawab : lebih disarankan untuk merger / berbagi sumber daya dengan PTS yang lebih "kuat" tentu melalui MOU yang saling menguntungkan, sehingga bisa fokus meningkatkan mutu;
(5) kategori jurnal bereputasi itu seperti apa, apakah harus ter-indeks Scopus
jawab : tidak harus ter-indeks Scopus, bisa juga ter-indeks Thomson, LIPI, dan lembaga yang kredibel lainnya.
Pemateri tak lupa mengingatkan bahwa batas waktu unggah Renstra-RIP riset dan abdimas ke sistem litabmas sd tgl 30 Oktober 2016, hal itu untuk melengkapi persyaratan pengajuan hibah ristek dan abdimas DIKTI.

Semoga bermanfaat...







Oktober 09, 2016

That’s what friends are for…


Sabtu kemarin berbarengan dengan pembagian rapor sisipan anak bungsuku, pihak sekolah yang diwakili Ustadzah Dwi memaparkan tentang program gerakan anti bullying (verbal dan fisik) dan gerakan pungut sampah yang sedang digalakkan di lingkungan SDIT Insan Kamil saat ini.

Sebelumnya, dipaparkan terlebih dahulu ketuntasan akademik, ketuntasan akhlaq dan ketuntasan bacaan Al Qur’an yang memang merupakan target rutin sekolah setiap periodenya. Ustadzah Dwi dan Ustadzah Ana yang mewakili pihak yayasan, secara bergantian menekankan tentang pentingnya peran orang tua dalam mengawal semua ketuntasan tersebut di rumah.

Ustadzah juga mengapresiasi kehadiran orang tua dalam penerimaan rapor kali ini yang cukup banyak dihadiri para ayah. Beliau berdua juga mengingatkan pentingnya kehadiran orang tua saat penerimaan rapor, karena saat itu juga merupakan kesempatan bagus berbagi informasi program-program sekolah – termasuk program baru sekolah yaitu kerjasama dengan pihak Neuro Sain Terapan Indonesia dalam membantu siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar - serta kesempatan berbagi ilmu parenting.

Menurut Ustadzah, kontrak sosial orang tua dengan anak – termasuk di dalamnya keteladanan, toleransi atau pemaafan dan ketegasan merupakan beberapa unsur penting yang mesti terus dievaluasi oleh orang tua dalam mendidik anak. Ustadzah Ana juga mengingatkan kami bahwa "bonus demografi" yang dimiliki Indonesia saat ini memiliki dampak penggerusan aqidah dan ahlak yang luar biasa bagi anak-anak dan remajanya. Pertumbuhan usia produktif yang sangat besar di negara yang berpenduduk mayoritas muslim ini sangat disadari oleh ‘pihak-pihak lain’ yang tidak ingin melihat pemuda-pemudi muslim kita kelak menjadi pemimpin yang tangguh iman dan ahlaknya. Penggerusan terjadi begitu masif dan terstruktur di segala bidang dan nyaris 'tanpa penolakan’ - terutama di bidang media dan teknologi informasi. Karenanya orang tua perlu terus membentengi iman dan ahlak putra putrinya. 

Kembali ke program gerakan anti bullying yang disebutkan di atas tadi … bullying atau intimidasi memang membuat para orang tua prihatin. Kedua anakku pun pernah cerita sempat di-bully temannya, walau mungkin termasuk ringan tapi keduanya sempat merasa tidak percaya diri. Minggu lalu, dengar cerita anak seorang teman yang beberapa minggu mogok sekolah karena sering di-bully temannya. Kemarin, Ustadzah Dwi juga cerita ada beberapa siswa kelas atas yang sampai bentrok fisik bermula dari bullying secara verbal.

Sudah banyak beredar cerita bullying yang berdampak buruk bahkan sampai membawa korban. Dan tragisnya bullying seperti itu banyak terjadi saat ulang tahun mereka. Mulai dari melempar telur atau tepung, menceburkan ke kolam sampai cerita tragis Farhanah - siswi SMP yang meninggal karena syok berat setelah 'dituduh mencuri' oleh teman-temannya saat ulang tahunnya..na'udzubillah..sungguh guyonan yg sangat kelewatan. Cerita Farhanah itu baru kudengar kemarin dari Ustadzah Ana yang juga dimuat di link ini http://purwoudiutomo.com/2016/09/29/ulang-tahun-ajang-umbar-kebodohan/

Membaca artikel itu sungguh miris. Seharusnya jadilah teman yang baik ... teman yang jika ingin memberikan surprise dipertimbangkan dulu dengan matang semua akibatnya, teman yang dapat dipercaya dan memberikan nasehat atau solusi saat kita curhat, teman yang membuat kita kembali tersenyum saat sedih, teman yang menyemangati saat lemah, dan teman yang mengingatkan saat kita mulai jauh dari-Nya.

Itulah gunanya teman…..

September 11, 2016

Barak dan Sawah di Dusun Penanggungan

Rabu – Kamis, 7 – 8 September 2016 kemarin, mahasiswa baru Politeknik SAKTI Surabaya menjalani orientasi sekaligus outbond di Lentera Camp Dusun Penanggungan – Trawas.

Menarik outbond maba tahun ini, karena ini pengalaman pertamaku menginap di barak setelah sekian luamaa gak pernah ngerasain camping lagi, mungkin juga dialami oleh sebagian maba atau panitia ospek lainnya. Barak-barak di camp tersebut cukup nyaman dilengkapi dengan bantal dan kantung tidur yang lumayan hangat melawan dinginnya malam di sekitar camp yang terletak di lereng gunung Penanggungan tersebut.

Outbond maba kali ini dipandu oleh tim Piramida Edu Training yang menurutku lebih professional dan cukup efektif pemanfaatan waktunya. Setiap materi maupun game yang diberikan, dijelaskan tujuan dan kesimpulannya serta maba diminta berkomitmen menerapkan nilai / moral yang terkandung di dalamnya. 
Selain itu tim trainer juga bisa mengkondisikan setiap maba bisa rapi dan tertib pada saat-saat makan bersama dan sholat 5 waktu berjamaah (bagi yang muslim tentunya).

Sedangkan kami saat itu memanfaatkan kebersamaan dengan rekan-rekan kerja menikmati fun games yang disiapkan oleh panitia. Rasanya jadi lebih akrab satu sama lain dan semoga bisa menambah semangat kerja setelah kembali ke kantor yang masih penuh dengan tantangan nantinya. 'Tantangan’ itu sebenarnya kata lain dari banyaknya pe-er atau masalah yang masih harus kami selesaikan di kantor – untuk menghibur diri he he ..

Nah yang terakhir ini yang paling berkesan menurutku… pada hari kedua maba dan semua panitia diajak jalan-jalan pagi oleh tim trainer menyusuri persawahan terasiring yang sungguh cantik. Persawahan itu diapit dua gunung yaitu gunung Penanggungan dan Welirang (kalo nggak salah), dan dialiri banyak sungai-sungai kecil nan jernih, ditambah aliran anginnya yang sejuk dan sepoi-sepoi, plus saat itu nampak beberapa petani sedang menanam padi dan membajak sawah dengan cara tradisional yaitu masih make tenaga si sapi :) 

MasyaAllah sungguh pemandangan yang menawan… melihat langsung tentu lebih indah daripada sekedar melihat gambar sejenis yang sering ditemui di lukisan dinding, kalender atau wallpaper laptop. Alhamdulillah ... diberi kesempatan menikmatinya.

btw makasih fotonya ya mbak Evy..


September 09, 2016

Membangun Budaya Mutu Perguruan Tinggi

Rakor Pimpinan Perguruan Tinggi Bidang Akademik yang diselenggarakan oleh Kopertis Wilayah VII pada tanggal 18 Agustus 2016 lalu, menghadirkan pemateri Sekretrais Pelaksana Kopertis VII – Prof. Ali Maksum, Rektor Ubaya – Prof. Ir. Joniarto Parung, MMBAT, Ph.D dan Rektor UK Petra – Prof. Dr. Eng. Ir. Rolly Intan, M.A.Sc. Kedua rektor tersebut berbagi best practice dalam menerapkan budaya mutu di kampus masing-masing sesuai dengan tema yang diambil dalam rapat koordinasi tersebut.

Membangun budaya mutu PT tentu tidak terlepas dari upaya menumbuhkan budaya atau iklim akademik yang di kampus. Budaya akademik merupakan keseluruhan sistem nilai, gagasan, norma, tindakan dan karya yang bersumber dari iptek dan sesuai azaz perguruan tinggi. Budaya  atau iklim akademik yg mendukung interaksi positif  antara dosen dengan mahasiswa, dosen dengan dosen, mahasiswa dengan mahasiswa, sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan proses belajar mengajar dan kegiatan tri dharma perguruan tinggi.

Terkait budaya mutu, maka Renstra DIKTI 2015 – 2019 telah bertransformasi dari yang semula memperluas akses pendirian PT berubah ke membangun budaya mutu setiap PT, sehingga berdampak terhadap ketatnya ijin pendirian PT baru.

Regulasi-regulasi terkait komitmen mutu (budaya mutu) PT antara lain adalah Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT - Permenristekdikti no 44 tahun 2015), Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI : Audit Internal, Monevin Renstra/Renop, Quality Assurance, Pedoman Monev Dosen, Pedoman Akademik, SOP, dll), dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME : Wasdalbin, Akreditasi, Sertifikasi ISO, dll)

Budaya mutu itu sangat terkait dengan prinsip FIT : frequency, intensity, time : budaya intelektual & budaya moral, contoh komitmen mengajar minimal 12 kali pertemua per semester, pemenuhan durasi mengajar 1 sks yg berkisar 50’, membudayakan kegiatan penelitian dan abdimas, membudayakan pertemuan dosen setingkat prodi atau institusi yang bersifat ilmiah (diseminasi hasil ristek dan abdimas, seminar/workshop ilmiah, sharing bidang keilmuan, dll).

Untuk menumbuhkan kegiatan tri dharma PT terutama penelitian dan abdimas yang umumnya belum banyak disentuh oleh dosen, maka perlu dibuat kebijakan yang mendukung tumbuhnya kegiatan tersebut. Misal melalui pemberian penghargaan/apresiasi, penerapan gaji berbasis kinerja, serta pemberian punishment yang mendidik. Hal senada juga bisa dilakukan untuk menumbuhkan produktifitas mahasiswa dalam menelorkan karya-karya ilmiah.

Budaya akademik juga tidak terlepas dari upaya menumbuhkan kegiatan atau program-program kemahasiswaan yang meliputi 3 hal yaitu soft skill (UKM, BEM, Pramuka), minat & penalaran (diskusi & karya ilmiah, olahraga, On MIPA), serta kreativitas & wirausaha (PKM, PMW).
Energi mahasiswa yang masih muda dan penuh semangat itu mesti 'diperas habis’ (dalam konteks positif), sehingga mereka tidak sempat lagi memikirkan hal-hal negatif seperti konsumsi narkoba, radikalisme / tawuran, dan lainnya.

Menyinggung soft skill mahasiswa, berikut beberapa 'ketrampilan' yang menurut pemateri sangat diperlukan oleh seorang lulusan :
- Manajemen diri
- Ketrampilan berpikir
- Belajar sepanjang hayat
- Komunikasi
- Kerjasama
- Keterbukaan dalam keberagaman
- Integritas (kesamaan ucapan dengan perbuatan)
- Ketrampilan organisasi
- Kepemimpinan

Budaya mutu juga menyangkut tata tertib administrasi di semua unit kerja sekaligus proses evaluasinya. Prinsip "do what you write and  write what you do" memang tidak mudah untuk dipraktekkan, tetapi perlu terus diupayakan, sehingga menjadi sebuah budaya yang baik.
Pengalaman UBAYA dan UK Petra dalam menyiapkan dan menjalankan sistem penjaminan mutu juga tidak mudah, karena membutuhkan energi yang luar biasa dan banyak tantangannya, mulai dari menyamakan visi & pemahaman, mengubah budaya, sampai dengan upaya menerapkannya secara konsisten di semua unit kerja.  Yang tidak kalah penting dalam menerapkan sistem penjaminan mutu adalah adalah meng-aligned-kan antara formal system dengan informal system

Untuk menciptakan iklim akademik yang kondusif, PT perlu menyediakan sarpras dan infrastruktur yang memadai termasuk ruang terbuka belajar bagi mahasiswa, ruang kegiatan ormawa, ruang dosen yang bersekat untuk mendukung kegiatan menulis / meneliti, serta ruang perpustakaan yang mungkin bisa dilengkapi dengan peralatan edutainment.

Selain itu, PT juga perlu menciptakan lingkungan kampus yang kondusif untuk belajar dan mengembangkan keilmuan, yaitu dengan menciptakan lingkungan kampus yang hijau, bersih, sehat untuk semua sivitasnya serta ramah lingkungan. Ubaya dan UK Petra telah menerapkan pengelolaan sampah, mengurangi pemakaian plastik/tas kresek, dan menerapkan kebijakan larangan merokok di seluruh lingkungan kampus. Mereka juga berkomitmen untuk tidak menerima sponsor dari perusahaan rokok termasuk tidak memberikan fasilitas rekrutmen secara resmi dari perusahaan rokok untuk mahasiswa / alumninya. Sangat sulit dan banyak penolakan pada awal-awal penerapan kebijakan tersebut termasuk dari dosen senior mereka, tetapi akhirnya kebijakan tersebut dapat diterapkan.


Juli 16, 2016

Museum Tubuh... rekomendasi liburan edukatif

Kamis kemarin lusa alhamdulillah akhirnya kesampean ngajak anak-anak ke Museum Tubuh di komplek wisata Jatim Park 1 - Batu. Sudah lama pingin ke sana karena penasaran liat tayangannya di tv. Jalan-jalan lagi sebelum mereka masuk sekolah, sekalian ngantar anak sulungku hadiri acara sekolahnya di hari Rabu sebelumnya.

Tiket masuk 60 ribu rupiah per orang - anak-anak dengan tinggi minimal 85 cm dikenai tarif penuh - menurutku relatif murah jika dibandingkan dengan banyaknya edukasi yang bisa diperoleh plus beberapa pemeriksaan gratis di dalamnya seperti pemeriksaan mata, darah dan lemak tubuh. Saranku jika nggak punya waktu banyak, sebaiknya tidak beli tiket terusan ke wahana lain seperti Waterboom, Batu Secret Zoo, Eco Green Park, Museum Angkut, Predator, atau wahana lainnya. Karena di Museum Tubuh cukup banyak hal yang menarik untuk dilihat, ditonton, disimak dan dipelajari. Mulai dari zona gigi, mulut, telinga, paru, jantung, ginjal, usus, lambung, dan seterusnya sampai zona tulang dan kadaver, semuanya menarik, informatif dan edukatif tentunya.

Setiap zona dilengkapi dengan informasi yang komplit mulai dari fungsi organ, cara kerja, penyakit yang bisa timbul sampai dengan pencegahan dan pengobatannya. Fasilitas layar sentuh dan peraga simulasi juga ada di hampir semua zona, antara lain simulasi bersendawa, ingusan, mimisan sampai dengan peraga USG ibu hamil dan praktek dokter gigi. Di tiap zona juga banyak spot yang menarik untuk difoto dan atau ber-selfie, dan memasukinya serasa memasuki tubuh kita sendiri. Jadi bener" ngeh betapa tubuh kita adalah pabrik terbesar dan tersibuk di dunia dengan banyak pekerja yang sangat loyal dan tak kenal lelah di dalamnya...masya Allah !

Ada juga bioskop mini yang menayangkan film 3D berdurasi 7 menit tentang proses reproduksi - tepatnya perjalanan sperma saat membuahi sel telur - yang menarik untuk ditonton. Sayangnya anak-anak berusia 5 tahun belum boleh mengenakan kacamata 3D.

Di zona tulang kita bisa melihat beberapa buah kadaver  - jasad manusia yang diawetkan, yang juga dimanipulasi sedemikian rupa sehingga seakan berpose sedang menari, berlari dan gerakan lainnya. Menurut poetugasnya, semua jasad itu diperoleh dari rumah sakit secara legal dan sengaja dibuat demikian untuk keperluan edukasi. Diantara kadaver yang berjenis kelamin laki-laki terlihat paru-parunya menghitam, menurut petugasnya karena merokok.. warning nih bagi perokok.

Semua kadaver diletakkan dalam ruang khusus dan tertutup yang hanya boleh dilihat oleh kaum dewasa (minimal 18 tahun) dan tidak boleh didokumentasi. Anak sulungku nyesel juga pas ditanyai umur oleh petugasnya, kujawab apa adanya - 17 tahun. Coba tahu sebelumnya minimal yang boleh masuk 18 tahun ya... he he. Si bungsu juga kecewa gak dibolehin masuk, tapi dia sempet ngintip kadaver dalam pose menari ketika petugasnya membuka pintu sejenak untuk pengunjung dewasa yang boleh masuk. Si kakak mencoba menghiburnya dengan mengatakan anak-anak gak boleh lihat kadaver agar gak takut atau trauma setelah melihat jasad yang diawetkan.

Ngeliat kadaver itu membuatku tertegun sejenak, teringat akan jasad yang seharusnya tergolek di alam kubur. Bagaimanapun bentuk dan di manapun lokasi sang jasad, pastinya akan mengalami kehidupan di alam barzah...wallahu a'lam. Duh...semoga kelak kita meninggal dalam keadaan khusnul khotimah dan jasad kita dimuliakan Allah. 




Juli 11, 2016

Segera kembali 'angkat gelas' :(

Kemarin baru balik dari mudik - ritual lebaran yang selalu menyenangkan sekaligus melelahkan. Sebelumnya, kamis minggu lalu di rumahku ketempatan pertemuan keluarga besar suami...alhamdulillah 9 bersaudara ngumpul lengkap plus anak cucu masing-masing...jadi gini-gini udah punya cucu ponakan ..he he.

Wuih rasanya capek banget habis acara itu langsung bersih-bersih sampe malam, trus paginya mesti berangkat mudik, karena jumat nya ada pertemuan keluarga besarku di kampung halaman. Sabtu nya kebetulan juga ada undangan reuni teman SMP seangkatanku di sana. Ritual ngumpul dan mudik selalu membawa oleh-oleh cerita baru, dari yang ringan dan menyenangkan sampai cerita 'berat' bahkan duka, semuanya bisa diambil hikmahnya. Jadi pelajaran hidup dan menjadikan kita lebih mensyukuri apa yang telah Allah berikan dan tetapkan untuk kita.

Saat itu rasanya bisa sejenak 'meletakkan gelas' - sejenak melupakan problem-problem di kantor yang masih komplek. Sekarang mesti dikondisikan siap-siap kembali ke rutinitas. Pemanasan sebelum hari H masuk kantor. Sudah terbayang beberapa pe er di kantor yang mesti segera dikerjakan dan dicari solusinya. Kadang terbersit rasa lelah, enggan dan berat untuk menuntaskannya. Tapi mau gak mau mesti dihadapi - tentu bersama-sama semua rekan di kantor mencoba mencari jalan keluarnya ... 

Jaga semangat dan hadapi saja hari demi hari - begitu pesan teman baikku ... laa haula wa laa quwwata illaa billaah



Juni 01, 2016

Mahasiswa-mahasiswa Penghafal Quran*

Buku berjudul Mahasiswa-mahasiswa Penghafal Quran (*) yang diterbitkan oleh Indonesia Quran Foundation (IQF) dan kubeli secara online itu adalah rekomendasi dari anak sulungku. 

Ringan sekali membaca isinya, dikemas dalam kisah-kisah pendek para mahasiswa penghafal qur'an yang bergabung dalam IQF. Hampir semuanya merupakan alumni UI, lainnya dari UNJ dan perguruan tinggi di seputar Depok - Jakarta. Kisah-kisah mereka sederhana tapi sangat menginspirasi. Kebanyakan dari mereka memohon do'a yang sangat sederhana tapi sungguh bermakna. Mereka berdo'a pada Allah Ta'ala supaya ditempatkan di lingkungan yang baik, di antara teman-teman yang baik, yang mengingatkan dan mengajak kepada kebaikan. Dan do'a itu dikabulkan oleh Allah Ta'ala dengan menempatkan mereka di universitas ternama yang kondusif untuk kuliah, berorganisasi sekaligus bergaul dan berinteraksi dengan teman-teman penghafal qur'an.

Cerita-cerita seru seputar usaha keras mereka dalam menghafal qur'an disela-sela kesibukan kuliah, tugas dan berorganisasi, sangat patut menjadi renungan dan bahan intropeksi diri. Mengaca pada diri yang sampai 'sejauh' ini masih belum ada greget kuat, belum ada target yang tegas dan jelas dalam menghafal al qur'an. Jangankan untuk menghafal 1 juz, keinginan untuk menambah hafalan surat-surat pendek saat bulan ramadhan saja, hanya lewat begitu saja :(

Banyak tips yang mereka bagi dalam proses menghafal al qur'an. Diantaranya dengan selalu menjaga motivasi diri, selalu berupaya istiqomah berinteraksi dengan qur'an, selalu berupaya berada dalam lingkungan para penghafal qur'an, selalu berupaya menjaga diri dari dosa-dosa kecil agar lebih mudah dalam menghafal qur'an, dan yang terpenting adalah menjaga niat dalam hati - meluruskan niat dalam hati - menghafal qur'an adalah untuk meraih ridlo Allah Ta'ala, berharap pahala yang besar dariNya dan dapat mempersembahkan mahkota untuk ortu mereka di akherat nanti. 
  
Ya...menjaga niat, sepertinya sepele ya, tapi sering kita lalaikan. Seperti yang diceritakan oleh salah satu penulis di buku itu - berikut kutipannya :

".. dan lagi-lagi aku terjebak dalam lingkaran yang sama. asa berubah menjadi hawa. lagi, semangatku berubah menjadi nafsu. dan hasil yang kudapatkan NOL besar.....waktu habis, saatnya untuk menyetor hafalan. aku menyetor dengan tersendat-sendat dan tidak lancar.hukum bacaanku hancur berantakan....selesai menyetor aku lari ke pojokan, mencari tempat menyendiri. aku menangis. setengah mati aku membenci diri sendiri....kemudian aku sibuk membandingkan diriku dengan teman-temanku yang lain. mereka yang memiliki kesibukan segudang, namun mampu menambah hafalan dengan mudah... 

dear myself, sebegitu sulitkah Quran masuk dalam pikiranmu? ...ingin rasanya menyerah, aku berfikir panjang, pasti ada yang salah dalam diriku. kubuka perlahan mushafku. "kitab al quran yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran" (Q.S. Sad:29).

aku tersadar. selama ini aku hanya memperlakukan ayat-ayat Quran sebagai target yang harus kuhafal layaknya aku memperlakukan ilmu-ilmu kuliah. aku tak memperlakukan Quran dengan hati....benarkah aku menghafal karena-Nya? benarkah aku menghafal berniat mendapat ridho-Nya? bukan karena ambisi pribadi? bukan karena ingin dipandang berhasil karena mampu menyelesaikan target?

aku diam. bukan menyerah. lebih kepada pasrah. aku mulai menghentikan target-target Quran yang pernah merasukiku... mungkin perkembanganku akan jauh lebih lambat setelah ini. namun aku lebih memilih untuk menikmati proses demi proses kebersamaanku dengan Quran.."

sebuah kutipan sederhana yang patut jadi renungan .. semoga bermanfaat.